Dr. Najafquliy, Ketua Jurusan Teologi dan Filsafat di Universitas Tehran dalam wawancaranya ilmiahnya dengan Iqna mengatakan hal itu dan menambahkan, bahwa tidak benar pandangan sebagian orang, bahwa beliau adalah seorang penganut zoroaster yang pura-pura masuk Islam.
Menurutnya bagi yang ingin mengetahui pemikiran Syaikhul Isyraq secara sempurna, maka harus membaca hasil karya Mulla Sadra, karena pemikiran kedua filosof ini akan kita temui telah menjadi satu dalam buku-buku Mulla Sadra.
Begitu juga saya menyarankan bagi para peneliti yang ingin memahami dengan benar dan sempurna pemikirannya agar menelaah dulu pandangan Madzhab Parepatetik, tegasnya.
Doktor filsafat yang telah melakukan editing pada buku Talwiyhat Syaikh Isyraq menjelaskan akan kedudukan filsafat Isyraq dan beliau telah menggunakan kitab Talwiyhat yang merupakan manuskrip yang ditulis oleh beliau 20 tahun sebelum terbunuh di kota Maltiah. Buku tersebut dijadikan sebagai rujukan utama.
Menurutnya buku-buku beliau sangatlah penting untuk menjadi saksi atas dan bukti penjelas atas ebrbagai isu yang dibicarakan banyak orang tentang hakikat keimanan dan keislama beliau. setiap orang ketika akan memberikan penilaian harulah membaca semua karyanya secara sempurna dan tidak boleh hanya mengambil sepotong-sepotong.
Habibi menyatakan, bahwa Suhrawardi dalam semua tulisannya berusaha untuk membuktikan dan menyelaraskan antara keimanan pada agama dan argumentasi rasional baik apa yang ia kemukakan sendiri atau yang telah dikemukakan oleh para filosof pendahulunya. karenanya ia menulis buku yang diberi judul: "I'tiqadul Hukama".
Bahkan dalam pembahasan Al Masyari' Wal Mutharahat dalam pembahasan Thabi'iyyat beliau menyebutkan, bahwa semua filosof bersepakat dalam masalah-masalah global dan adanya perbedaan pandangan adalah dalam sebuah parsial.
Syaikh Isyraq juga sangat memberikan perhatiannya pada ayat Al Quran, sehingga dalam kitabnya Al Wah Al Ma'adiyah dia menegaskan keinginannya untuk menguatkan setiap pendapatnya dengan ayat Al Quran.
42437