IQNA

Tujuan Akhir Irfan adalah Mencintai dan dicintai Allah

12:38 - December 02, 2009
Berita ID: 1856500
Irfan Islami memiliki pesan utama adalah sebagaimana firman Allah dalam Al Quran, “Katakan wahai Nabi jika kalian mencintai Allah maka ikutilah aku niscaya kalian akan dicintai oleh Allah”
Hojjatul Islam Wal Muslimin Qaim Kakaiy, anggota senat akademik Universitas Syiraz dalam wawancaranya dengan Iqna menyampaikan hal itu dan menambahkan, bahwa hubungan irfan dengan filsafat Islam pasca Mulla Sadra adalah hubungan yang tak terpisahkan.

Menurutnya jika argumentasi filosofi mengalami kekeliruan dan tidak sejalan dengan Al Quran, maka Irfan akan meluruskannya, begitu juga jika seorang fiolosof salah dalam mendeskripsikan sebuahpandangannya, maka dengan pandangan Irfan ia dapat meluruskannya.

Penulis buku Wahdatul Wujud Prespektif Ibnu Arabi dan Maester Ekhart menjelaskan tentang kebesaran Mulla Sadra dengan mengatakan, bahwa beliau mampu untuk mengargumentasikan pandangan-pandangan Irfan Teoritis Ibnu Arabi yang murid langsung Ibnu Arabi seperti Shadruddin Qawnawi tidak mampu melakukan hal itu.

Dalam pandangan kami kalau hari ini kita ingin memperkenalkan kepada dunia esensi filsafat Islam, maka kita harus menyampaikan isu-isu baru yang memang cocok untuk menyelesaikan berbagai problema kehidupan masyarakat dunia dan menghilangkan kehausan mereka dan itu tidak ada cara lain kecuali dengan memperkuat pemahaman irfan kita, tegasnya.

Saat ini tidak hanya di Iran, namun di seluruh belahan dunia kita saksikan banyak terjadi peningkatan kecendrungan pada maknawiyah dan spiritual, yang hal ini menjadi bukti, bahwa manusia telah mencapai titik jenuh pada kekeringan materi, tambahnya.

Namun pada yang saat yang sama sangat disayangkan jika mereka kemudian memberikan solusi atas hal itu dengan irfan semu yang tidak berdasar pada nilai-nilai Ketuhanan dan dasar-dasar pemikiran yang kuat, sesalnya.

Saat ini, lanjut penulis buku ensiklopedia Filsafat dan Irfan, kita banyak menyaksikan film-film yang dibuat berdasarkan pemikiran irfan palsu. Ini juga membuktikan, bahwa para seniman pun memahami, bahwa masyarakat dunia sangat haus pada nilai-nilai irfan, karena itulah mereka merebut pasar dunia dengan cara menciptakan film-film yang berdiri atas dasar-dasar irfan tidak sejati.

Penerjemah buku Alam Khayal ini juga menegaskan, bahwa kita sudah sampai pada sebuah kesimpulan, bahwa sudah menjadi tugas kita untuk mengisi kekosongan dan kehausan masyarakat dunia dengan irfan sejati, yang menjelaskan cinta hakiki pada Tuhan yang hakiki dan hubungan antara keduanya serta tugas dan konsekuensi dari cinta tersebut.

Beliau yang juga penulis buku “Tajalliy Irfan Islami Dar Adabi Forsiy” mengatakan, bahwa Irfan Islami itu tidak lain diambil dari Sunnah Rasulullah saw dan Al Quran dan inilah yang dikatakan oleh Maulana Jalaludin Rumi, bahwa ada penyatuan yang tak dapat dielakkan dan dikiaskan antara Tuhan Manusia dengan Jiwa Manusia, dimana kalau seseorang membangun dan meluruskan jiwanya, maka Tuhan akan merangkul kita dan mengikis habis semua pintu penghalang antara diri kita dengan-Nya.

Penerjemah buku “Meneladani Nabi SAW” ini pun menegaskan, bahwa Irfan Islami itu dalam rangka menciptakan berbagai infrastruktur diri untuk mengamalkan firman Allah SWT, “Jika kalian mencintai Allah maka ikutilah aku niscaya Allah akan mencintai kalian, yakni untuk bisa dicintai oleh Allah SWT maka tidak ada jalan lain kecuali mengikuti dan meneladani Nabi Muhammad SAW, tegasnya.

Pada kesempatan itu beliau juga menyayangkan adanya banyak pandangan yang tidak benar tentang Irfan. Dengan menukil pandangan Syahid Muthahhari beliau tegaskan, bahwa kita harus memotong dan memisahkan hal itu dari irfan sejati .

494875
captcha