IQNA mengutip dari kantor berita Bernama Malaysia hal itu dan menambahkan, bahwa pimpinan sekolah “Motazarat” yang terletak di pinggiran Santiago, ibu kota negara ini, mengklaim bahwa jilbab bukan termasuk bagian dari seragam sekolah, maka ia menolak untuk menerima para siswi yang berjilbab tahun ini dan menunda penerimaannya hingga tahun ajaran berikutnya.
Tindakan pimpinan sekolah ini menyebabkan orang tua Yasamin mengadukan masalah ini ke pihak kementrian Pendidikan.
Santiago Times melaporkan, bahwa pada hari minggu awal bulan November yang lalu di saat Yovakin Lavigne, Mentri Pendidikan dan pengajaran Cheli mengadakan pertemuan dengan Pusat Kebudayaan Islam Santiago, telah mengumumkan dukungannya terhadap keluarga ini.
Pada pertemuan ini hadir juga duta besar Iran, Irak, Libanon dan Yordania, Lavigne menegaskan terhadap keluarga Yasamin, bahwa pejabat pemerintah telah mengadakan kontak via telepon dengan sekolahnya, dan dia dapat melanjutkan studinya di sekolah ini.
Lavigne juga mengatakan, bahwa undang-undang pendidikan dan pengajaran akan mendukung hak Yasamin dalam mengenakan pakaian seragam sekolah dengan jilbabnya. Karena pakaian hijab adalah suatu perkara yang dilaksanakan berlandaskan pada keyakinan agama yang mendalam.
Ia juga menambahkan, bahwa diskriminasi beragama harus dihapuskan dari Cheli, karena negara ini mengakui adanya keaneka ragaman etnis dan budaya secara resmi.
Setelah pertemuan itu pimpinan sekolah Mozart mengumumkan bahwa Yasamin bisa datang ke sekolah dengan jilbabnya.
Menurut orang tua Yasamin, putrinya telah berkomitmen untuk mengenakan jilbab dengan warnai yang sama dengan warna seragam sekolah, sehingga tidak akan muncul permasalahan apapun di masa yang akan datang.
Seperti diketahui, bahwa kaum muslimin di Chili jumlahnya sangatlah sedikit dan tidak mencapai satu persen dari penduduk Cheli.
696401