IQNA

Dr. Ali Jum’ah:
15:40 - January 10, 2017
Berita ID: 3470933
MESIR (IQNA) - Mantan mufti Mesir dalam program Wallahu A’lam cannel parabola Mesir berbicara tentang upaya distorisasi al-Quran dalam sepanjang sejarah dan tahapan percetakan dan publikasi kalam wahyu Ilahi di abad ke-19 Masehi.

Menurut laporan IQNA seperti dikutip dari Sada El Balad, Ali Jum’ah, mantan mufti Mesir, Minggu (8/1) dalam program Wallahu A’lam cannel parabola Mesir berbicara tentang upaya distorisasi al-Quran dalam sepanjang sejarah dan tahapan-tahapan percetakan dan publikasi kalam wahyu Ilahi di abad ke-19 Masehi.

Ia mengungkapkan, sebagian naskah kuno al-Quran yang dicetak di Eropa dan negara-negara lainnya terdapat kesalahan dan kita melihat perpindahan huruf, seperti Ja’far, yang ditulis dengan Jaf’ar, dan atau menulis kata Sin, bukan Syin, dalam surah Al-A’raf ayat 156, Man Asyâ’, ditulis dengan Asâ’.

Markas Jerman: Mengafirmasi Tidak Terdistorsikannya al-Quran

Mantan mufti Mesir menambahkan, sebelum Perang Dunia II, Jerman mendirikan markas khusus untuk memastikan tidak terdistorsikannya al-Quran dan markas ini melakukan riset dengan mengumpulkan sekitar seribu naskah al-Quran cetakan lama dari seluruh penjuru dunia, dan dalam sebuah laporan mengumumkan, al-Quran tidak terdistorsi dan sekarang ini juga terjaga sebagaimana pada masa Rasulullah (Saw). Markas Jerman ini hanya melihat kesalahan-kesalahan cetak dalam sebagian al-Quran semata.

Ali Jum’ah menegaskan, laporan tersebut sekarang ada di perpustakaan nasional Berlin dan merupakan jawaban terbaik untuk para Atheis dan para musuh agama.

Ali Jum’ah menjelaskan, markas Jerman yang handal dalam penelitian naskah-naskah al-Quran, dihancurkan pada Perang Dunia II, dan saat mengumumkan tidak terdistorsikannya al-Quran, telah mengkaji sekitar 80% al-Quran.

Cetakan al-Quran dengan Kesalahan Cetakan di Mesir

Anggota Dewan Ulama Tinggi Al-Azhar melanjutkan, al-Quran terakhir yang dicetak pada akhir-akhir abad kesembilan belas ada di Mesir dan Syaikh Ridhwan bin Muhammad bin Sulaiman al-Mukhallilati mengawasinya.

Ia mengungkapkan, dengan adanya pengawasan Syaikh Ridhwan akan cetakan al-Quran ini, naskah tersebut masih tetap ada kesalahan cetak; meski hal ini tidak mengurangi kedudukan Syaikh Mukhallilati, yang pakar dalam bidang Ulumul Quran Qiraat dan dengan kejeniusannya telah mempersembahkan karya-karya bernilai.

7 Kali Upaya Distorisasi Al-Quran dalam Sepanjang Sejarah

Ali Jum’ah dengan mengisyaratkan upaya-upaya yang dilakukan dalam sepanjang sejarah untuk mendistorsi al-Quran. Ia menegaskan, dalam sepanjang sejarah dilakukan 7 kali untuk mendistorsi al-Quran; namun semua upaya tersebut gagal.

Ia menambahkan, salah seorang warga Lebanon yang bermukim di Amerika hendak menulis al-Quran baru dengan nama Furqan al-Haq, dengan tujuan menggantikan al-Quran al-Majid dan marak di tengah-tengah kaum muslim, namun akhirnya gagal dan tidak sampai pada tujuannya.

Upaya Gagal Israel

Ali Jum’ah demikian juga dengan mengisyaratkan upaya Israel untuk mendistorsi al-Quran pada tahun 1960 Masehi mengingatkan, salah satu ayat yang didistorsikan oleh Israel adalah surah Al-Maidah ayat 64, dimana ayat aslinya adalah, wa qâlat al-Yahûdu Yadullahi Maghlûlah, Ghullat Aidîhim wa Lu’inu bimâ Qâlû, dan ditulis dengan Wa qâlat al-Yahûdu Yadullahi Ma’lulah ‘Ûllat Aidîhim wa Âmanû bimâ Qâlû… dan didistribusikan di Afrika.

Mantan mufti Mesir melanjutkan, distorsi ini adalah tujuan Israel; namun para ulama Islam mengetahui dan mengumpulkan al-Quran-al-Quran salah cetak yang sudah didistribusikan di Afrika dan akhirnya semua upaya untuk mendistorsi al-Quran usai dan sama sekali tidak ada hasilnya.

http://iqna.ir/fa/news/3561054

Kunci-kunci: ، ، ، ،
Nama:
Email:
* Komentar Anda:
\