IQNA

23:28 - August 01, 2019
Berita ID: 3473323
MYANMAR (IQNA) - Jepang mengumumkan kesiapannya untuk menjadi mediator antara Bangladesh dan Myanmar dengan tujuan menyelesaikan krisis para pengungsi Rohingya dan pemulangan mereka dengan selamat ke rumah-rumah mereka di kawasan Rakhine.

Menurut laporan IQNA dilansir dari Anadolu, Menteri Luar Negeri Bangladesh, Abul Kalam (A.K.) Abdul Momen mengatakan dalam konferensi pers bersama dengan Menteri Luar Negeri Jepang Taro Kono, mengatakan siap untuk menengahi antara Bangladesh dan Myanmar dengan tujuan untuk memulangkan Muslim Rakhine secara damai dan keputusan yang diperlukan akan diambil setelah evaluasi masalah.

“Jepang telah berinvestasi besar-besaran di Myanmar dan Bangladesh, termasuk di kawasan Rakhine, sehingga penting bagi Jepang untuk menyelesaikan krisis Muslim Rohingya, mengingat pentingnya perdamaian dan stabilitas regional,” imbuhnya.

Abdul Momen memperingatkan akan perkembangan gerakan ekstremis jika Muslim Rakhine tidak kembali ke wilayah mereka, dan mengatakan: Dhaka ingin para pengungsi Rohingya kembali ke negara mereka dengan bermartabat.

Menteri Luar Negeri Jepang, yang melakukan perjalanan tiga hari ke Bangladesh, mengunjungi kamp-kamp pengungsi Rohingya di daerah Cox’s Bazar, Selasa (30/7).

Semntara itu, pada pekan lalu, delegasi pemerintah dari Myanmar melakukan perjalanan ke Cox’s Bazar di Bangladesh dan melakukan negosiasi dengan para pengungsi Rohingya terkait pemulangan mereka ke Myanmar.

Delwar Hossain, seorang pejabat senior di Kementerian Luar Negeri Bangladesh, mengatakan tujuan kunjungan delegasi Myanmar ke Bangladesh adalah untuk berbicara dengan Muslim Rohingya tentang pemulangan mereka ke Myanmar.

Sebelumnya, Perdana Menteri Bangladesh, Sheikh Hasina Wazed mengumumkan bahwa tanggung jawab penundaan pemulangan Rohingya dipikul oleh pemerintah Myanmar dan negara itu tidak berhasrat untuk menyambut para pengungsi.

Bangladesh dan Myanmar telah menandatangani perjanjian tentang pemulangan pengungsi Rohingya ke rumah mereka di Rakhine pada 25 November  2017, di mana Muslim Rohingya secara bertahap akan pulang ke tanah air mereka, sementara kedua negara harus memastikan keselamatan, kesehatan, dan martabat mereka. Perjanjian tersebut belum dilaksanakan karena pemerintah Myanmar tidak memberikan kondisi yang tepat.

Menurut pihak berwenang Bangladesh, hampir 700.000 Muslim Rohingya telah memasuki Bangladesh sejak Agustus 2017, sementara sebelumnya sekitar 400.000 Muslim Rohingya telah tinggal di berbagai kawasan Bangladesh.

Sekarang ini ada lebih dari 900.000 Muslim Rohingya di kamp-kamp pengungsi di daerah Cox’s Bazar di Bangladesh, di mana sekitar 688.000 dari mereka datang ke Bangladesh pada akhir Agustus setelah babak baru kekerasan di Myanmar dimulai.

 

http://iqna.ir/fa/news/3831403

Nama:
Email:
* Komentar Anda:
\