IQNA

IQNA:
19:55 - September 23, 2019
Berita ID: 3473460
IRAN (IQNA) - Penerbitan edaran di Arab Saudi yang menutup sekolah pelatihan hafalan Alquran di tahun ajaran baru menunjukkan bahwa tujuan reformasi dramatis dan kosong Putra Mahkota Saudi adalah semat-mata untuk memberantas identitas Qurani dan Islami dari masyarakat.

Menurut laporan IQNA, Muhammad bin Salman, putra mahkota Saudi sejak berkuasa pada tahun 2015, telah melakukan sejumlah reformasi pada dokumen visi negara 2030, yang mencakup berbagai bidang budaya, sosial dan ekonomi.

Sulit untuk mengubah masyarakat Saudi, di mana para masayikh Wahabi yang fanatik dan tradisional sangat memiliki pengaruh besar di situ, tetapi dengan bertolak bahwa menurut hukum Arab Saudi, ucapan raja dan persetujuannya lebih memiliki prioritas atas semua fatwa, perselisihan ini berakhir dengan rekonsiliasi dan sekarang sejumlah reformasi telah dimulai di beberapa bagian Arab Saudi.

Apa yang disebut sebagai reformasi Putra Mahkota Saudi adalah, sejatinya hanya sebuah langkah-langkah untuk menghilangkan simbol-simbol Islam dan identitas Qurani di masyarakat dan untuk memarakkan ide-ide dan simbol-simbol Barat di negara itu.

Reformasi Putra Mahkota Arab Saudi kebanyakan di bidang kebebasan sipil perempuan, yang merupakan perubahan dramatis yang menunjukkan upaya Arab Saudi untuk menunjukkan citra baru dan berbeda dari apa yang sudah ada pada masyarakat internasional.

Membuka bioskop, kebebasan perempuan untuk mengemudi, dan memperbaiki masalah perceraian dan hak asuh anak, percampuran laki-laki dan perempuan di tempat-tempat umum dan semisalnya, lebih dari aspek reformasi nyata di Arab Saudi seperti membuat hiburan untuk masyarakat negara ini khususnya para remaja, sehingga mereka melupakan masalah-masalah utama negara mereka, yaitu kebijakan luar negeri agresi Bin Salman dan agresi ke negara-negara kawasan termasuk Yaman dan sistem monarki.

Sekolah-sekolah pendidikan hafalan Alquran juga tak terelakkan dari reformasi dramatis dan kosong Putra Mahkota Saudi, sampai-sampai Kementerian Urusan Islam, Wakaf, Dakwah dan Bimbingan mengeluarkan instruksi pada saat yang sama dengan tahun ajaran baru, yang berdasarkan hal tersebut, semua sekolah pendidikan hafalan Alquran negara ini, setelah ini berubah menjadi lembaga-lembaga pendidikan, yang kursus pelatihan pusat ini akan berlangsung tidak lebih dari 30 hari.

Sementara itu, misi utama sekolah-sekolah ini, yang dikelola oleh lembaga amal pendidikan hafalan Alquran Arab Saudi, adalah untuk melatih para hafiz dan pelajar Alquran, namun sejak saat itu sekolah-sekolah ini hanya menjadi lembaga pendidikan yang bahkan tidak memberikan ijazah kelulusan dari lembaga kepada para partisipan dalam kursus-kursus pendidikan ini, akan tetapi hanya memberikan sertifikat kelulusan kursus tersebut.

Penghancuran Identitas Islam; Tujuan Reformasi Drama Bin Salman

Surat kabar online dengan dipimpin Abdel Bari Atwan, peneliti dan pakar kenamaan Arab dalam sebuah laporan telah mengkaji reaksi dan konsekuensi dari keputusan baru Kementerian Urusan Islam Saudi dalam hal ini dan menuturkan: Hari-hari ini warga Saudi mengumumkan penurunan pusat-pusat dakwah Islam dan kantor-kantor dakwah non-Muslim pada Islam serta penyadaran mereka dan bahkan gerai-gerai amal mengumpulkan dana untuk orang-orang yang membutuhkan di seluruh negara.

Mereka yang berjalan di atas jalan-jalan di Arab Saudi akhir-akhir ini menemukan keberadaan pusat-pusat ini sangat pudar dan sedikit, sampai-sampai beberapa dari mereka menekankan bahwa pusat-pusat dakwah ini diambang kehancuran secara keseluruhan. 

Para ahli dan pakar Saudi percaya bahwa penutupan pusat-pusat dakwah ini adalah salah satu dari apa yang disebut kebijakan reformis putra mahkota Arab Saudi, Muhammad bin Salman, yang dimulai dengan peniadaan wewenang "dewan amar ma’ruf dan nahi munkar" dan tampaknya, akan berujung pada penghapusan semua simbol-simbol Islam, termasuk pusat-pusat tabligh dan dakwah agama Islam.

Pusat Tabligh dan Penyadaran

Pusat tabligh dan penyadaran, yang dijalankan oleh Kementerian Urusan Islam, Dakwah dan Bimbingan Saudi, memiliki para mubaligh yang mengenakan pakaian khusus yang menurut pemerintah Saudi saat ini dianggap tidak sesuai dengan dokumen tahun 2030, dan telah menutup pusat-pusat ini agar tidak dituduh mendukung terorisme.

Tetapi reformasi Muhammad bin Salman tidak terbatas pada pusat-pusat dan stan tabligh ini, tetapi, menurut pengumuman Kementerian Urusan Islam Saudi, pada tahun akademik saat ini (1441 H, 2019), sekolah-sekolah pendidikan hafalan Alquran ditutup dan sekolah-sekolah ini, setelah berubah menjadi pusat pelatihan telah dipercayakan kepada Lembaga Pelatihan Guru Alquran, dan selanjutnya pengawasan sekolah-sekolah ini tidak lagi menjadi tanggung jawab himpunan amal pendidikan hafalan Alquran.

Yang menarik perhatian semua orang dalam edaran ini adalah bahwa sekolah-sekolah ini hanya mencakup kursus 30 hari, yang meringkas pendidikan Alquran menjadi 30 hari adalah hal yang patut direnungkan oleh semua orang.

Penghancuran Identitas Islam; Tujuan Reformasi Drama Bin Salman

Menurut edran Kementerian Urusan Islam Saudi, semester kedua tahun 1440 H adalah semester terakhir sekolah-sekolah ini dan tahun ajaran baru dimulai pada September 2019, dengan tanpa sekolah-sekolah pendidikan hafalan Alquran di Arab Saudi. 

Penutupan sekolah-sekolah pendidikan hafalan Alquran oleh pejabat Saudi telah banyak dikritik di dunia maya, terutama Twitter, dan telah dikritik di Arab Saudi, yang menunjukkan ketidakpuasan masyarakat Arab Saudi.

Reaksi terhadap Penutupan Sekolah

Dalam tweet ini, sekolah-sekolah pendidikan hafalan Alquran telah digambarkan sebagai cara untuk meningkatkan nilai-nilai moral di kalangan kaum muda dan mereka yang telah menutup sekolah-sekolah ini disebut perusak.

Tetapi tampaknya para pejabat Saudi telah menjustifikasi penutupan sekolah dengan dalih sebagai bagian dari proses pembentukan pesan Islam radikal di masyarakat, yang disusun berdasarkan kurikulum lama negara itu pada 1990-an, dan dalam rangka membulikasikan ide-ide ekstremis dan menghimbau pada pembunuhan non-Muslim.

Langkah pemerintah Saudi untuk menutup sekolah-sekolah pendidikan hafalan Alquran berlangsung ketika negara ini dalam beberapa tahun terakhir diklaim telah peduli tentang industri penerbitan dan publikasi Alquran serta terjemahan dan hafalan kalam wahyu Ilahi, tetapi pejabat Saudi khususnya Putra Mahkota Saudi, pada saat yang sama, mereka mengklaim bahwa para hafiz Alquran, terutama generasi muda, tidak bergerak mengikuti kebijakan-kebijakan reformis, jadi cara terbaik untuk mengakhiri generasi agamis yang bermasalah ini adalah dengan menutup sekolah pendidikan hafalan Alquran dan mengurangi ruang keagamaan dalam masyarakat, karena orang-orang muda ini menghafal Alquran sebagai sebuah keyakinan yang kuat dan kokoh.

Di sisi lain, tafsir-tafsir ekstremis yang dipaparkan oleh para syekh Wahabi dan Salafi dari ayat-ayat Alquran di masyarakat Saudi memaparkan pembacaan radikal agama yang menyerukan pembunuhan dan pemberontakan terhadap penguasa jika ia meninggalkan hukum Islam dan sebagainya. Ini juga salah satu tantangan yang dihadapi Bin Salman dalam reformasinya.

Para kritikus terhadap kebijakan pemerintah Saudi percaya bahwa pembentukan pemerintahan sipil yang tidak mendukung terorisme dan menentang ekstremisme bukan berarti menghancurkan stabilitas dan pokok-pokok ajaran agama Islam dan berhadapan dengan para hafiz Alquran yang dimuliakan oleh Nabi saw, Islam dan risalah Ilahinya.

Larangan Penyiaran Azan

Menurut berita dari negeri wahyu tersebut, pemerintah Saudi bahkan sedang mempertimbangkan untuk melarang adzan dari semua masjid dengan suara keras dan hanya boleh mengumandangkan azan dari satu masjid di setiap wilayah, sementara di berbagai provinsi di negara itu, ada banyak masjid yang berdekatan satu sama lain yang hanya beberapa meter jauhnya dan semuanya menyiarkan azan pada satu waktu.

Penghancuran Identitas Islam; Tujuan Reformasi Drama Bin Salman

Pertanyaannya sekarang adalah apakah Putra Mahkota Saudi akan terus memerangi simbol-simbol agama dan keagamaan di masyarakat dengan apa yang disebutnya sebagai reformasi sosial dan budaya dan mengurangi sumber daya yang tersedia untuk mengajarkan ajaran Islam? Dan apakah setelah sekolah-sekolah pendidikan hafalan Alquran, akan tiba giliran penutupan keseluruhan kantor-kantor tabligh, bimbingan dan pusat-pusat penyadaran bagi minoritas yang tersohor mengajak non-Muslim kepada Islam dan menyelenggarakan pidato-pidato dakwah? Sebagai tanggapan, harus dikatakan bahwa kantor-kantor tablig dan penyadaran di Arab Saudi yang dijalankan oleh Kementerian Urusan Islam, adalah pusat-pusat yang berafiliasi dengan pemerintah yang beberapa orang percaya sepenuhnya bahwa hal itu akan hilang hanya dengan jatuhnya pemerintah dan putra mahkota Saudi tidak bisa menghancurkan pusat-pusat ini sepenuhnya.

 

http://iqna.ir/fa/news/3839488

 

Nama:
Email:
* Komentar Anda:
\