IQNA

16:15 - December 25, 2019
Berita ID: 3473774
IRAN (IQNA) - KTT para pemimpin negara Islam di Malaysia diadakan dalam kondisi dimana para ahli menganggapnya sebagai sebuah peristiwa penting dalam rangka keluarnya negara-negara Islam dari kekuasaan politik Arab Saudi dan mengikuti pendekatannya.

Menurut laporan IQNA dilansir dari freemalaysiatoday, beberapa analis melihat pertemuan para pemimpin negara-negara Islam baru-baru ini di Malaysia sebagai perubahan signifikan dalam hubungan dunia Islam dengan Arab Saudi. Para ahli memperkirakan dampak KTT dan serangkaian pertemuan ini dapat mengakhiri dominasi politik dan ideologis kerajaan minyak Arab Saudi atas dunia Muslim.

Runtuhnya Martabat Arab Saudi

Seorang mantan diplomat Malaysia yang bertugas di Timur Tengah mengatakan, KTT Kuala Lumpur telah menyerang tradisi lama yang memaksa para pemimpin Muslim untuk mematuhi kebijakan Saudi secara eksplisit.

Diplomat lain percaya bahwa pertemuan tersebut akan menghapus kepercayaan bahwa Arab Saudi harus mengambil alih kepemimpinan dunia Muslim karena jabatannya sebagai "Pelayan al-Haramain". Gelar Pelayan al-Haramain yang digunakan oleh raja-raja Saudi, menunjukkan pentingnya mendominasi Mekah dan Madinah bagi mereka, di mana jutaan peziarah melakukan perjalanan Haji dan Umrah setiap tahun.

KTT Malaysia, Akhir Martabat Arab Saudi dan Harapan pada Ruang Baru di Dunia Muslim

Penentangan Saudi

Situs freemalaysiatoday pada pekan lalu menukil dari sumber diplomat menulis bahwa Saudi sangat marah setelah penolakan Mahathir Mohamad untuk membatalkan KTT Kuala Lumpur, yang dibentuk setelah konsultasi antara tiga negara - Malaysia, Pakistan dan Turki.

Perdana Menteri Pakistan, Imran Khan membatalkan kunjungan ke Malaysia, yang menurut sumber-sumber terpercaya kinerja ini adalah hasil dari tekanan politik yang kuat terhadap negara yang membutuhkan investasi asing. Pakistan telah menerima beberapa miliar dolar dalam bantuan keuangan dari Arab Saudi sejak Imran Khan menjabat tahun lalu.

Beberapa kalangan pro-Saudi di Malaysia, termasuk para pendukung pemerintah sebelumnya, yang jelas-jelas beraliansi dengan Arab Saudi, menggambarkan pertemuan puncak itu sebagai langkah yang gagal.

Pembentukan Koalisi Baru

Azzam Tamimi, seorang profesor di Universitas Palestina yang mukim di London dan seorang kritikus Arab Saudi, mengatakan: "KTT Malaysia menunjukkan bahwa para pemimpin Muslim telah memutuskan untuk mengadopsi kebijakan dan posisi yang lebih sejalan dengan pandangan masyarakat di negara mereka."

Tamimi adalah direktur TV Al-Hiwar dan mengkritisi masalah-masalah di dunia Islam. "Para pemimpin ini datang bersama di Kuala Lumpur untuk membentuk sebuah persatuan untuk melawan koalisi Arab Saudi-UEA," katanya.

KTT Malaysia, Akhir Martabat Arab Saudi dan Harapan pada Ruang Baru di Dunia Muslim

Azzam Tamimi, analis Palestina

Ucapan ini mengisyaratkan pada koalisi militer empat tahun yang lalu yang dipimpin oleh Arab Saudi yang telah membombardir kota-kota Yaman sejak 2015 untuk mendukung pemerintah Mansour Hadi, serta peran Arab Saudi dalam lengsernya pemerintahan terpilih Presiden Mesir Muhammad Mursi pada tahun 2013.

"Saya memuji Emir Qatar karena menolak tekanan-tekanan Saudi," kata Tamimi, merujuk pada boikot Qatar oleh Arab Saudi dan sekutunya.

Analis Turki Mustafa Akyol mengemukakan pandangan bahwa KTT Kuala Lumpur mampu menghilangkan narasi anti-Syiah yang tersebar luas di antara beberapa politisi melawan Iran.

"Sektarianisme adalah salah satu masalah mendasar di dunia Muslim saat ini, dan cara yang tepat untuk mengelolanya, seperti yang dipikirkan sebagian orang, bukan untuk membentuk front dari negara Sunni melawan Iran, tetapi caranya adalah menghilangkan perpecahan," tambahnya.

Analis ini telah membenarkan pandangan Mahathir Mohamad yang mengatakan bahwa umat Islam telah kehilangan tempat sejati mereka di kancah dunia dan mengatakan, dan karenanya beberapa cendekiawan dan analis, termasuk saya, menyerukan peninjauan terhadap beberapa masalah paling penting dalam politik negara-negara Islam.

KTT, Menggambarkan Kebijakan-kebijakan Domestik Malaysia

KTT ini tidak dapat dinilai secara terpisah dari politik domestik Malaysia. Pemilihan pembicara untuk urusan dalam negeri, yang beberapa diyakini dilakukan oleh kantor Perdana Menteri, telah memicu perdebatan tentang apakah Mahathir Mohamad akan memberikan kekuasaan kepada Anwar Ibrahim seperti yang dijanjikan.

Beberapa orang menganggap konferensi ini untuk mengisolasi Anwar Ibrahim. Namun, ia mencoba menampilkan dirinya sebagai tokoh Islam dengan menghadiri konferensi-konferensi Islam di seluruh dunia.

Sebuah sumber informasi mengatakan: Absennya Anwar Ibrahim di KTT sangat penting, terutama karena Recep Tayyip Erdogan, yang selalu memanggilnya teman dekat, hadir di KTT. Ada gambar-gambar penerimaan Anwar dari Erdogan di pesta makan malam pribadi, sementara Anwar Ibrahim tidak hadir di pesta makan malam yang sebelumnya diselenggarakan oleh Mahathir Mohamad.

KTT Malaysia, Akhir Martabat Arab Saudi dan Harapan pada Ruang Baru di Dunia Muslim

Seorang diplomat Turki menganggap KTT tersebut adalah cara Mahatir Mohamad untuk menghapuskan kebijakan-kebijakan pendukung Saudi di pemerintahan sebelumnya, dan mengatakan: "Mahatir selain tidak dapat mengkritik Barat dan tetap setia kepada pemerintah yang menjilat pada kekuatan Barat."

Para ahli percaya bahwa upaya Mahathir Mohamad untuk secara cepat mentransfer teknologi dari negara-negara Islam ke Malaysia, yang telah lama bergantung pada teknologi Barat yang mahal dan konsekuensinya yang terkait dalam bentuk pembelian senjata bernilai miliaran dolar, menguntungkan Malaysia.

Pujian yang belum pernah terjadi sebelumnya kepada Iran

Pada akhir KTT Malaysia, Mahathir Mohamad memuji Iran dalam langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sumber-sumber yang diinformasikan mengatakan dia mengetahui reaksi kaum konservatif dan juga pejabat militer senior yang dilatih di Barat.

KTT Malaysia, Akhir Martabat Arab Saudi dan Harapan pada Ruang Baru di Dunia Muslim

Seorang pejabat Angkatan Darat Malaysia mengatakan: Pernyataan Mahatir Mohammad pada penutupan KTT, yang mengisyaratkan pada sejumlah besar insinyur Iran, mengejutkan banyak orang. Mahatir Mohamad mengejar tujuan yang lebih besar. Isu-isu seperti persatuan Islam, Islamophobia dan bahkan dinar emas adalah satu-satunya aspek dari pertemuan tersebut. Mahatir sadar akan kemajuan teknologi di Iran, dan ini adalah yang diakui oleh para kritikus Barat dan Israel terhadap Iran ketika menuduh Iran memiliki ambisi nuklir.

Iran memiliki industri dalam negeri yang kuat untuk kebutuhan militer dan penerbangannya, telah melatih sejumlah besar lulusan universitas spesialis, dan memiliki 30 taman sains dan teknologi di seluruh negeri. Mahathir sadar akan kekuatan Iran dan 100 langkah di depan para pemimpin lain dalam memahami potensi domestiknya.

“Amerika Serikat membutuhkan Malaysia secara strategis untuk menghadapi Cina. Karenanya, ia menyediakan peralatan militer canggih seperti radar kontrol pantai dan peralatan udara rahasia dan melatih para ahli dalam pemeliharaan dan penggunaannya secara gratis kepada Malaysia, tetapi itu tidak menguntungkan Malaysia secara ekonomi. Jadi Mahathir mencari transfer teknologi yang lebih cepat, sesuatu yang menurutnya tidak bisa diperoleh Malaysia dari Barat, dan Turki serta Iran ikut bermain di sini,” tegasnya.

KTT Malaysia, Akhir Martabat Arab Saudi dan Harapan pada Ruang Baru di Dunia Muslim

Seorang mantan diplomat Turki mengatakan, Turki, Iran dan Qatar memiliki kekuatan tersendiri. Turki memiliki pengaruh politik yang besar di dunia Muslim. Qatar juga siap untuk mendapatkan sekutu baru, dengan banyak investasi dan investasi besar-besaran di berbagai negara di dunia.

Harapan Ruang baru di Dunia Muslim

Zafar Bangash, kepala Pemikiran Islam Kontemporer, setuju dengan ucapan ini dan mengatakan. "Empat negara paling penting di dunia Muslim pada KTT Malaysia memiliki kekuatan khusus. Keempat negara ini kuat secara ekonomi (Qatar dan Malaysia) dan kuat secara militer (Iran dan Turki). Ini telah membangkitkan harapan di kalangan umat Islam bahwa mungkin beberapa negara Islam dapat bergabung untuk menyelesaikan beberapa masalah paling penting di dunia Muslim.

Dengan berlalunya beberapa hari setelah KTT Malaysia, masih terlalu dini untuk berbicara tentang tanggapan Saudi, tetapi saat ini ada negara-negara yang menolak untuk mengikuti kebijakan-kebijakan buruk Arab Saudi.

 

https://iqna.ir/fa/news/3866119

 

Nama:
Email:
* Komentar Anda:
\