IQNA

New York Times:
12:35 - March 25, 2020
Berita ID: 3474066
TEHERAN (IQNA) - New York Times dalam sebuah catatan menulis: "Karena sanksi AS terhadap Iran menghambat transaksi keuangan internasional dan pengiriman, segala bentuk perdagangan apa pun dalam kondisi ini, terutama di bidang kedokteran dan peralatan medis, hampir tidak mungkin bagi negara ini."

Surat kabar New York Times dalam sebuah catatan oleh Narges Bajoghli, seorang profesor studi internasional di universitas Johns Hopkins, dan Mahsa Roohi, seorang anggota peneliti di program internasional nonproliferasi nuklir, membahas dampak sanksi-sanksi AS terhadap Iran dalam konteks penyebaran wabah corona.

Kemudian, dengan mengisyaratkan pada korban perang delapan tahun Iran-Irak dan perbandingannya dengan corona, menulis: Korban perang delapan tahun Iran-Irak, yang menewaskan satu juta orang pada 1980-an, lebih kecil daripada epidemi korona. Peneliti Iran memperkirakan bahwa wabah itu, yang telah membunuh, akan mencapai puncaknya pada akhir Mei dan dapat mengakibatkan kematian 3,5 juta orang. Elit Iran mampu tinggal di rumah, tetapi mayoritas masyarakat akan hancur karena waktu yang lama dan kurangnya pendapatan. Selain itu, ada juga kekurangan obat-obatan dan peralatan medis, termasuk ventilator, alat tes, dan peralatan pernapasan untuk melawan infeksi.

Catatan ini melanjutkan, jika Iran gagal mengatasi wabah corona, tidak hanya orang Iran, tetapi tetangga dan seluruh dunia akan menderita korban yang mengerikan. Bahkan negara-negara yang tidak bertetangga dengan Iran telah menyadari bahaya dan mengirimkan bantuan untuk rakyatnya.

Para penulis catatan ini mengisyaratkan pada permintaan beberapa negara untuk mengurangi sanksi-sanksi Iran, dan mengatakan: Inggris, Cina dan Rusia telah meminta AS untuk mengurangi sanksi sehingga Iran dapat merespon lebih efektif terhadap corona, tetapi pemerintahan Trump tidak memperhatikan tuntutan tersebut.  Demikian juga, minggu lalu AS mengumumkan babak baru sanksi. Pemerintahan Trump mengklaim bahwa sanksi-sanksi negara ini tidak menghalangi perdagangan barang-barang kemanusiaan, tetapi dengan bertolak bahwa sanksi-sanksi ini menghalangi transaksi keuangan internasional dan transportasi, segala bentuk perdagangan apa pun dalam kondisi ini, terutama di bidang kedokteran dan peralatan medis, hampir tidak mungkin.

Para penulis menambahkan, beberapa perusahaan yang memasok peralatan medis yang diperlukan untuk memerangi corona telah menghentikan pengiriman ke Iran karena bank-bank mereka telah dilarang melakukan perdadangan. Keengganan pemerintah Trump untuk mengurangi pembatasan di tengah krisis yang melemahkan Iran menghambat upaya untuk interaksi di tahun-tahun mendatang, merusak kredibilitas AS sebagai kekuatan global. Mengingat nyawa jutaan orang Iran dalam bahaya, Trump harus menangguhkan sanksi-sanski ini untuk memungkinkan negara-negara lain memberikan bantuan-bantuan kemanusiaan tanpa takut akan konsekuensi Amerika.

Bagian lain dari catatan ini mengisyaratkan penderitaan para pasien bom kimia perang Iran-Irak  dan menuturkan: Di antara kasus-kasus mengerikan perang Iran-Irak adalah penggunaan gas kimia dan saraf oleh Saddam Hussein yang pada waktu itu didukung oleh AS dan negara-negara Eropa. Dukungan Sekitar 100.000 veteran dari perang kimia Iran hidup dengan masalah pernapasan kronis dan seringkali membutuhkan masker dan perangkat oksigen. Mereka lebih rentan terjangkiti virus corona.

Kemudian menambahkan, Cina mengirim tim medis ke Iran setelah merebaknya virus koroner, yang berlawanan dengan AS dan kemudian secara terbuka meminta AS untuk mencabut sanksi dengan mengirimkan alat tes dan ventilator.

Di penghujung, ditekankan: Jika pemerintahan Trump terus memblokir aktivitas ekonomi internasional dengan Iran, dunia mungkin menghadapi konsekuensi dari penyebaran penyakit yang mematikan. Iran akan mengingat pemilihan AS hari ini. (hry)

 

3887167

Nama:
Email:
* Komentar Anda:
\