IQNA

8:04 - October 14, 2021
Berita ID: 3475868
TEHERAN (IQNA) - Gaza telah mengalami krisis air bersih. Sebagian besar warga Gaza harus membeli air minum dari pemasok swasta karena air keran biasanya terlalu asin untuk diminum.

IQNA melaporkan, Sumber air yang tercemar di Jalur Gaza juga berdampak serius pada kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak. Mereka menghadapi risiko penyakit yang ditularkan melalui air.

Falesteen Abdelkarim (36 tahun) dari kamp pengungsi Al-Shati, mengatakan, air di daerahnya tidak bisa diminum. “Rasanya seperti berasal dari laut. Kami tidak bisa menggunakannya untuk minum, memasak, atau bahkan mandi,” kata Abdelkarim, dilansir Aljazirah, Rabu (13/10).

menggunakan air keran hanya tiga kali seminggu. Bahkan terkadang air itu bercampur dengan limbah karena infrastruktur yang rusak di kamp-kamp pengungsi.

Sebagian besar pedagang air swasta di Gaza menghilangkan garam dari air lalu menjualnya kepada orang-orang di wilayah tersebut. Harga untuk 1.000 liter air biasanya rata-rata adalah 30 shekel atau tujuh dolar AS.

Muhammad Saleem (40 tahun) yang tinggal di lingkungan Al-Sheikh Redwan di Gaza utara mengatakan, upaya dia untuk menanami kebun di rumahnya gagal. Air yang tercemar membuat tanamannya menjadi kering dan mati.

“Semua tanaman saya mengering dan mati karena salinitas air yang tinggi dan klorida yang tinggi,” ujar Saleem. “Jika tanaman mati karena air ini, bagaimana dengan tubuh manusia?" ujarnya.

Organisasi hak asasi manusia telah memperingatkan krisis air bersih yang semakin memburuk di Jalur Gaza. Pada sesi ke-48 Dewan Hak Asasi Manusia PBB, Senin (11/10) lalu, Global Institute for Water, Environment and Health and the Euro-Mediterranean Human Rights Monitor mengatakan, air di Gaza tidak dapat diminum. Menurut lembaga ini, air secara perlahan telah meracuni warga. (hry)

Sumber: republika.id

Kunci-kunci: 97 ، Persen ، Air di Gaza ، Tercemar    
Nama:
Email:
* Komentar Anda:
* captcha: