TEHERAN (IQNA) - Bulan Sya'ban merupakan salah satu bulan yang memiliki keistimewaan tersendiri dalam Islam. Urgensi ini dalam hal kapasitas yang dimiliki bulan ini terdapat pada peningkatan kehidupan spiritual orang-orang mukmin.

Kadang-kadang dan beberapa hari dalam setahun telah diperhatikan pada agama-agama Ilahi dan telah mendapatkan urgensi khusus. Bulan Sya'ban adalah salah satu bulan yang sangat penting dalam Islam dan amalan-amalan khusus dianjurkan untuk pertumbuhan spiritual orang-orang mukmin.
Sya'ban adalah bulan kedelapan dari kalender lunar Hijriah di mana umat Islam melakukan ritual-ritual tertentu. Rasulullah saw bersabda, "Rajab adalah bulan Allah dan Sya'ban adalah bulanku dan Ramadan adalah bulan umatku"[1]. Mereka juga berkata, "Sya'ban adalah bulanku, semoga Allah mengampuni siapa saja yang membantuku dengan bulanku"[2]. Tapi apa artinya membantu Rasulullah saw di Sya'ban?
Diriwayatkan dari Shafwan Jamal bahwa Imam Shadiq (as) berkata kepadaku: “Jadikan orang-orang di sekitarmu berpuasa di bulan Sya'ban. Aku berkata diriku menjadi tebusanmu. Tetapi apakah kalian melihat apa keutamaannya? Beliau berkata: Ya, memang benar bahwa setiap kali Rasulullah (saw) melihat bulan Sya'ban, beliau memerintahkan para khatib yang menyerukan di Madinah untuk berseru: Wahai penduduk Madinah! Aku diutus kepada kalian oleh Tuhan. Ketahuilah bahwa Sya'ban Itu adalah bulanku. Semoga Allah merahmati orang yang membantuku di bulanku, yaitu berpuasa.”[3]
Puasa berarti menahan diri dari makan dan minum dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Tetapi kesempurnaan puasa tidak terangkum pada batasan ini saja. Puasa dalam arti penuhnya mencakup agarmenahan diri dari segala jenis dosa dan perilaku tidak bermoral yang menyebabkan kerugian bagi orang lain atau melanggar hukum ilahi.
Rasul (saw) bersabda: "Bulan Sya'ban adalah bulan di mana perbuatan manusia diangkat sedangkan orang-orang mengabaikannya[4]."
Puasa di bulan Sya'ban
Meskipun Ramadan dikenal sebagai bulan puasa dan puasa wajib bagi umat Islam yang memiliki kemampuan untuk melakukannya sepanjang hari Ramadan, apa alasan untuk merekomendasikan dan menekankan puasa di bulan Sya'ban? Sebagaimana sabda Nabi: Sya'ban adalah bulanku, barang siapa berpuasa satu hari di bulan ini, maka wajib baginya surga. Tetap berpuasalah untuk kecintaan terhadap Nabi kalian dan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Bahkan dalam beberapa hadis, Sya'ban telah ditafsirkan sebagai tuan dan penghulunya bulan.[5]
Selama bulan Ramadan, sebagian besar umat Islam berpuasa sesuai dengan taklif syar’i mereka, tetapi untuk memperkuat hubungan spiritual dengan Dzat Allah, perlu untuk melakukan persiapan dan mendapatkan persiapan yang diperlukan, dan ini dimungkinkan dengan amalan-amalan yang direkomendasikan dalam bulan Sya'ban.
Inilah kedudukan yang dalam kebanyakan riwayat yang dinukilkan dari para pemuka agama, dianjurkan untuk beristitgfar pada bulan ini. Beristighfar mencakup aspek verbal dan nyata, yang pada awalnya cukup dengan mengungkapkan dan menyesali kesalahan-kesalahan di hadapan Allah swt, tetapi dalam istighfar yang sebenarnya, kita berusaha memperbaiki kesalahan-kesalahan dan menggantinya jika telah merugikan hak orang lain.
[1] - Wasail al-Syi’ah, jild. 10, hlm. 480
[2] - Ibid.,
[3] - Bihar al-Anwar, jild. 94 dan 79 bab 56.
[4] - Wasail al-Syi’ah, jild. 10, hlm. 502.
[5] - Ibid., jild. 8, hlm. 98