IQNA - Bertepatan dengan hari-hari Awwal bulan Rabiul Awwal yang penuh dengan hari-hari istimewa dan berkah, Kantor Berita IQNA mengulas buku Muhammad (saw): Prophet for Our Time karya Karen Armstrong, sebuah karya tulis dari seorang cendekiawan Barat mengenai sosok nabi yang telah menata ulang dan mendefinisikan kembali panduan bagi umat manusia melalui sejarah, iman, dan rahmat.
Kehidupan Nabi Islam (saw) tidak hanya menjadi objek narasi sejarah sejak masa-masa Awalnya. Selama berabad-abad, umat Islam menjadikannya sebagai sarana untuk memahami iman dan akhlak beliau, sementara para cendekiawan non-Muslim serta ahli agama juga berupaya mengkaji kepribadian dan warisan beliau dari berbagai perspektif sejarah, teologi, sosial, dan peradaban. Namun, citra Nabi Islam di dunia Barat tidak selalu sama.
Sementara itu, buku Muhammad (saw): Prophet for Our Time karya Karen Armstrong menempati posisi yang patut diperhatikan; sebuah karya dari penulis sekaligus cendekiawan agama Barat yang berupaya mengisahkan kehidupan Nabi Islam bukan melalui citra stereotipikal dan bias khas Barat, melainkan dalam kaitannya dengan latar sejarah, sosial, dan keagamaan di Semenanjung Arab. Arti penting buku ini tidak sekadar terletak pada fakta bahwa seorang penulis Barat menulis tentang Nabi umat Islam; yang lebih utama adalah upaya Armstrong untuk melampaui sejumlah asumsi sejarah Barat mengenai Islam serta menafsirkan kembali sosok Muhammad (saw) dalam konteks yang sesungguhnya dari misi kenabian beliau—sebuah upaya yang, tentu saja, sebagaimana karya ilmiah sejarah dan keagamaan lainnya, menuntut pembacaan kritis, evaluasi sumber, serta pemahaman akan perbedaan antara narasi sejarah dan keyakinan agama.
Dalam narasinya, Karen Armstrong menempatkan Nabi Muhammad (saw) di tengah masyarakat pada zamannya untuk memperlihatkan bagaimana seruannya menghadapi kondisi-kondisi Jahiliyah serta bagaimana pengalaman religius bertransformasi menjadi gerakan sosial dan peradaban. Mulai dari Makkah dan perjumpaan pertama dengan wahyu hingga peristiwa hijrah, pembentukan masyarakat Madinah, berbagai peperangan, perjanjian, dan akhirnya wafatnya sang Nabi, buku ini berupaya menguraikan garis besar kehidupan seorang nabi yang misinya bermula dari seruan tauhid dan berujung pada pembangunan masyarakat baru yang berlandaskan iman serta tanggung jawab moral.
Memasuki hari-hari awal bulan Rabiul Awwal beserta berbagai perayaannya merupakan kesempatan untuk kembali meneladani kehidupan Nabi—sosok yang mewujudkan "rahmat" bukan sekadar sebagai konsep abstrak, melainkan dalam konteks kehidupan sosial dan kemanusiaannya; seorang Nabi yang oleh Alquran disebut sebagai "rahmat bagi semesta alam."
Armstrong bertolak dari premis dasar bahwa Islam tidak dapat dipahami melalui perilaku kelompok-kelompok yang melakukan kekerasan atas nama agama tersebut, dan bahwa sosok Nabi Muhammad tidak dapat dipahami melalui citra yang telah terbentuk selama berabad-abad dalam literatur anti-Islam yang bermusuhan. Menurut pandangannya, Nabi Muhammad harus dilihat dalam konteks sejarah, sosial, dan keagamaan pada masa awal Islam (abad ketujuh Masehi), dan hubungan antara ajaran beliau dengan kekerasan di era modern perlu dikaji secara lebih cermat.

Seorang Penulis di antara Batas Pengalaman Keagamaan dan Penelitian Komparatif
Karen Armstrong, seorang penulis dan peneliti asal Inggris di bidang fundamental agama, merupakan sosok terkemuka dalam bidang studi perbandingan agama, dan bukan pakar sejarah Islam dalam pengertian akademis yang sempit.

Ia adalah seorang penulis Barat yang memeluk Islam dengan latar belakang Kristen dan pendekatan studi perbandingan agama. Posisi ini patut senantiasa diperhatikan saat membaca buku Muhammad (saw): Prophet for Our Time karya Karen Armstrong, karena banyak narasi penelitiannya tidak disusun berdasarkan teologi Islam, melainkan dari perspektif sejarah agama dan dialog antar-tradisi keagamaan. (HRY)