IQNA

Mahabbah; Dasar Hubungan Seorang Hamba (Penghamba) dan Yang Disembah

19:00 - May 17, 2023
Berita ID: 3478389
TEHERAN (IQNA) - Hubungan antara penghamba dan yang disembah bisa bermacam-macam. Namun dari siroh Nabi Ibrahim (as), kita menemukan bahwa dasar dari hubungan ini adalah cinta.

Ayatullah Sayyid Mostafi Mohaghegh Damad, dalam pertemuan tafsir Alquran, menyampaikan poin-poin tafsir tentang surah Asy-Syu’ara, dimana kutipannya dapat Anda baca di bawah ini:

Nabi Ibrahim berkata kepada umatnya yang musyrik, “Berkata Ibrahim: "Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa)mu sewaktu kamu berdoa (kepadanya)?, atau (dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudharat?" Jelas dari jawaban orang-orang ini bahwa mereka benar-benar tenggelam dalam pikiran dan pemikiran, sehingga mereka menjawab Ibrahim, Kami melakukan ibadah ini karena meniru dan mengikuti para pendahulu. Masalah ibadah, yang merupakan masalah pertama keyakinan, seharusnya tidak semestinya tiruan, tetapi seseorang harus memilih tuhannya berdasarkan pemikiran dan perenungan.

قَالُوا بَلْ وَجَدْنَا آبَاءَنَا كَذَلِكَ يَفْعَلُونَ

“Mereka menjawab: "(Bukan karena itu) sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian” (QS. Asy-Syu’ara: 74)

Di sinilah Ibrahim mulai berbicara dan berkata, "Apakah Anda menyadari kesalahan apa yang Anda buat ketika Anda memilih sesembahan Anda berdasarkan ikut-ikutan?" Di sini Ibrahim berbicara tentang cinta dan permusuhan dan menyatakan bahwa Tuhan harus dicintai oleh Anda dan Anda harus dicintai oleh-Nya. Tuhan harus mencintai dan dicintai oleh pemujanya. Hubungan ini ada dalam Alquran: "Yuhibbuhum wa Yuhibbunahu". Ketika Ibrahim sedang mencari Tuhannya, dia terus berkata: "Inni La Uhibbul Afilin/ Aku tidak suka kepada yang terbenam". Oleh karena itu, hubungan antara penyembah dan Tuhan haruslah hubungan cinta.

Di sini, Ibrahim mulai menjelaskan Tuhannya dengan cara yang sederhana kepada para pendengar, dan mengatakan bahwa Tuhan semesta alam memiliki sifat-sifat sederhana yang dapat diakui oleh setiap pendengar. Pertama, Dia menciptakan saya: "Yaitu Tuhan Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku".  Kita semua tidak ada dan diciptakan. Siapa yang menciptakan kita? Tuhanlah yang menciptakan kita dan membimbing kita. Artinya penciptaan saya tidak sia-sia dan berdasarkan maksud dan tujuan, maka saya dibimbing menuju tujuan tersebut. Bisakah para pendengar mengatakan bahwa berhala-berhala inilah yang membimbing kita? Mereka tidak bisa.

Kriteria kedua adalah bahwa Tuhan memberi makan  dan memberi saya minum: "dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku." Benar bahwa saya memasukkan makanan ke dalam mulut dengan tangan saya, tetapi ketika saya makan, kekuatan apa yang mengenyangkan saya? Ciri ketiga adalah jika saya sakit, Tuhan akan menyembuhkan saya: “Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku”. Semua cara pengobatan lainnya adalah alat dan sarana, tetapi kesembuhan ada di tangan Tuhan. Kriteria keempat adalah ketika saya mati, Tuhan menghidupkan saya kembali: “Dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali)”. Di sinilah Ibrahim menanam dasar tauhid dan hari kebangkitan. Ini adalah hal-hal yang tidak dapat mereka klaim untuk dilakukan oleh berhala yang tidak bernyawa. Kriteria terakhir adalah saya membuat kesalahan, tetapi saya memohon kepada Allah untuk mengampuni dosa-dosa saya dan menyertakan saya dalam pengampunan-Nya: “dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat”.

Ibrahim mulai berdoa di sini untuk mengajari kami cara berdoa. Pertama, kita harus memuji Allah dan menyebutkan sifat-sifat yang terpuji Allah swt. Doa Nabi Ibrahim yang pertama adalah:

رَبِّ هَبْ لِي حُكْمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ

“(Ibrahim berdoa): "Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh”. (QS. Asy-Syu’ara: 83) Inilah hikmah yang diminta Nabi Ibrahim baik untuk dirinya maupun keturunannya. Ibrahim meminta Allah agar memberinya hikmah. Hadiah adalah pemberian gratis dan kepemilikan gratis. Hikmah ini adalah kebijaksanaan ilahi. Hikmah Socrates dan Plato diperoleh melalui pelajaran dan diskusi, tetapi hikmah ini adalah hikmah ilahi. (HRY)

captcha