IQNA

14:45 - August 14, 2023
Berita ID: 3478770

Di Hadapan Ulama dari 83 Negara, KH Cholil Nafis Gemakan Wasathiyatul Islam di Indonesia

MAKKAH (IQNA) - Ulama Indonesia KH Cholil Nafis mendapatkan kehormatan untuk mewakili Indonesia dalam forum ulama internasional di Kerajaan Arab Saudi pada Ahad (13/8/2023). Dia menghadiri forum tersebut untuk menyampaikan dinamika wasathiyatul Islam atau Islam moderat di harapan ulama dari 83 negara.

Di Hadapan Ulama dari 83 Negara, KH Cholil Nafis Gemakan Wasathiyatul Islam di Indonesia
IQNA melaporkan dilansir republika.co.id, pembahasan utamanya adalah tentang merekatkan persatuan umat Islam di seluruh dunia atas asas keagamaan Islam yang moderat (wasathi), toleran, dan inklusif. Sejak awal pembukaan, tema itu diulas oleh para ulama agar bisa menyelaraskan antara ajaran Islam yang ideal dan kenyataan umat yang penuh dinamika.
 
Pengasuh Pesantren Cendikia Amanah Depok ini menjelaskan, persoalan yang muncul di masyarakat hingga menjadi perpecahan adalah fanatik buta terhadap golongannnya sendiri yang kadang disertai dengan mengafirkan kelompok lain yang berbeda pendapat. Dengan pemahaman seperti ini, menurut dia, agama menjadi malapetaka karena kesalahan dalam memahami teks agama.
 
Pada sesi kedua konferensi internasional ini, menurut dia, para ulama juga mengulas tentang kenyataan dan harapan hubungan antara dunia Islam dan Kerajaan Arab Saudi. Bahkan, menurut Kiai Cholil, para peserta dipersilakan untuk mengajukan kritik sebagai harapan dan upaya memperbaiki hubungan dan memperkuat kerja sama antarlembaga keumatan dan kemasyarakatan umat di dunia Islam.
 
Dalam sesi lainnya, menurut Kiai Cholil, para peserta juga mendiskusikan tentang wasathiyatul Islam secara konsepsional dan praktiknya di beberapa negara. Kesempatan ini dijadikan Kiai Cholil untuk mempromosikan konsep wasathiyatul Islam di Indonesia.
 
“Kami dari Indonesia memaparkan tentang wasathiyatul Islam yang sudah menjadi arus utama paham keagamaan,” ujar Kiai Cholil kepada Republika.co.id, Senin (14/8/2023).

Rais Syuriah PBNU ini mengatakan, wasathiyatul Islam atau Islam moderat tersebut juga kerap menjadi tema Muktamar NU dan Muhammadiyah, serta Musyawarah Nasional MUI. “Pada prinsipnya Indonesia mampu menjaga kesatuan dan persatuan dengan banyak ragam etnis dan agama karena mayoritas umat berpaham Islam wasathi,” ucap Kiai Cholil.

Jikalau masih ada peristiwa terorisme dan ekstrimisme bahkan pengeboman, kata dia, hal itu karena masih ada sebagian umat yang punya paham eksklusif dan biasanya tak berafiliasi dengan organasasi kemasyarakatan Islam besar di Indonesia.

“Kenyataan ekstremisme di tengah-tengah umat menjadi tugas ulama dan tokoh umat untuk terus menyerukan damai dan memahami Islam yang benar,” kata Kiai Cholil.

Sebenarnya, lanjut Kiia Cholil, sumber ekstremisme, baik kiri maupun kanan itu adalah adanya paham agama yang tidak proporsional. Biasanya, kata dia, mereka memahami  ajaran Islam yang salah antara keleluasaan agama (rukhshah) dan ketetapan yang pasti dalam agama (‘azimah).

“Ekstrem kiri karena menggampangkan agama sehingga apapun bisa dipahami di luar teks atas nama kemaslahatan. Sedangkan yang ekstrem kanan karena terlalu ketat dalam memahami agama sehingga agama dipahami secara harfiyah tekstual bahkan melupakan realita kehidupan,” jelas Kiai Cholil.

Karena itu, menurut Kiai Cholil, MUI menyampaikan tentang 10 kriteria wasathiyatul Islam agar menjadi pegangan dunia Islam dalam memberi fatwa dan membimbing umat. Di antaranya, seimbang dalam memahami teks dan konteks, bisa membedakan mana wilayah penyimpangan (inhiraf) yag harus diamputasi dan wilayah perbedaan (khilafiyah) yang harus ditoleransi, bisa berpikir dinamis yangg menyeimbangkan antara ajaran agama yang baku dan ajaran Islam yang dinamis.

“Cara ber-Islam yang wasathi  ini akan selalu sesuai dengan perkembangan zaman dan mampu membangun peradaban,” kata Kiai Cholil.

Dunia Islam kini sedang menghadapi paham keagamaan yang ekstrem, dan saat bersamaan menghadapi sekularisasi, ateisme dan Islamofobia. “Dunia yang mengecil dengan teknologi informasi yang membanjir  dari berbagai penjuru menjadi tantangan berat tokoh agama dalam membimbing umat,” jelas dia. (HRY)

captcha