IQNA

Marah, Qatar Tak Terima Disebut Netanyahu “Mediator Bermasalah”

13:30 - January 25, 2024
Berita ID: 3479541
IQNA - Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar Majid Al-Ansari menyatakan kecaman “keras” terhadap pernyataan Perdana Menteri pemerintah pendudukan, Benjamin Netanyahu, mengenai mediasi Qatar.
“Kami mengutuk keras pernyataan yang dikaitkan dengan Perdana Menteri Israel dalam berbagai pemberitaan media tentang mediasi Qatar. Jika pernyataan-pernyataan tersebut terbukti benar, maka pernyataan-pernyataan tersebut tidak bertanggung jawab dan menghalangi upaya untuk menyelamatkan nyawa orang-orang yang tidak bersalah, namun pernyataan tersebut tidaklah mengejutkan,” ungkap Ansari di X.
 
“Selama berbulan-bulan, setelah mediasi yang sukses pada tahun lalu menghasilkan pembebasan lebih dari seratus sandera, Qatar telah terlibat dalam dialog berkelanjutan dengan semua pihak, termasuk pihak Israel, dalam upaya untuk membangun kerangka kerja perjanjian sandera baru dan memastikan  masuknya bantuan kemanusiaan yang diperlukan ke Jalur Gaza,” tambahnya.
 
Ansari menekankan bahwa “jika pernyataan tersebut ternyata benar, Perdana Menteri Israel akan menghalangi upaya mediasi karena alasan politik yang sempit.”
 
“Daripada sibuk dengan hubungan strategis kami dengan Washington, kami berharap Netanyahu akan sibuk mengatasi hambatan dalam perjanjian pembebasan sandera,” Juru bicara kemenlu Qatar itu menegaskan.
 
Rekaman Netanyahu yang bocor saat pertemuannya dengan keluarga tahanan yang ditahan di Gaza diungkap oleh media Israel Channel 12, Netanyahu menganggap bahwa “peran mediasi Qatar dalam perjanjian pertukaran dengan Hamas merupakan sebuah masalah.”
 
Dalam bocoran rekaman tersebut Netanyahu menyatakan bahwa Qatar lebih bermasalah daripada PBB dan Palang Merah.
 
Sejak tanggal 7 Oktober lalu, tentara pendudukan Israel terus melancarkan agresi Brutal terhadap Jalur Gaza, dengan dukungan Amerika dan Eropa. Pesawat-pesawat Israel mengebom sekitar rumah sakit, gedung, menara, dan rumah-rumah warga sipil Palestina, menghancurkannya dan membunuh penduduknya. Israel juga mencegah masuknya air, makanan, obat-obatan, dan bahan bakar.
 
Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza mengumumkan pada hari Rabu, bahwa jumlah korban agresi Israel telah meningkat menjadi 25.700 orang tewas dan 63.740 orang terluka. (HRY)
 
Sumber: arrahmahnews.com
captcha