
Buku tersebut disusun tidak hanya membahas aspek fikih atau tata cara ibadah, tetapi juga mengulas dimensi filosofis dan spiritual guna mendorong kemandirian jemaah dalam beribadah.
Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf mengatakan buku panduan manasik tahun ini memuat materi khusus bagi jemaah lanjut usia sebagai bentuk perhatian pemerintah terhadap kelompok rentan.
“Materi manasik disajikan secara komprehensif, kontekstual, orisinal, mudah dipahami, dan aplikatif, serta menggunakan pendekatan yang memudahkan kelompok jemaah haji berisiko tinggi, lansia, perempuan, dan penyandang disabilitas,” ujar Irfan Yusuf, Rabu (4/2/2026), dilansir dari laman Kemenaj.
Buku ini mengedepankan pendekatan fikih taysir atau kemudahan, terutama bagi jemaah lansia, penyandang disabilitas, serta jemaah dengan risiko kesehatan tinggi.
Pendekatan moderasi manasik atau tawasuth juga diterapkan dengan menghadirkan pilihan hukum yang argumentatif sesuai kondisi di lapangan tanpa mengurangi kesakralan ibadah.
Selain itu, buku tersebut dilengkapi penjelasan tentang filosofi dan makna spiritual setiap rangkaian ibadah, termasuk makna pakaian ihram sebagai simbol kesetaraan di hadapan Allah.
Direktur Jenderal Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah Puji Raharjo menyebut buku ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah dalam meningkatkan mutu pelayanan haji yang profesional, berintegritas, dan bernilai ibadah.
“Dengan bimbingan yang tepat dan metode yang baik, insya Allah jemaah akan lebih siap secara mental dan spiritual dalam menunaikan ibadah haji,” kata Puji.
Selain Buku Tuntunan Manasik Haji dan Umrah, Kemenhaj juga merilis Buku Kumpulan Doa dan Zikir Haji dan Umrah sebagai bagian dari paket bimbingan manasik tahun 1447 H/2026 M.
Kemenhaj menyediakan akses digital gratis bagi jemaah dan masyarakat umum melalui laman resmi Kementerian Haji dan Umrah.
Sumber: cahaya.kompas.com