
Menurut Iqna mengutip muslimsaroundtheworld, konferensi tersebut mempertemukan para peneliti, pejabat pemerintah, dan perwakilan dari lembaga keagamaan dan masyarakat sipil untuk membahas peningkatan ekstremisme sayap kanan dan implikasinya terhadap kohesi sosial. Konferensi tersebut membahas ancaman ujaran kebencian dan ekstremisme yang semakin meningkat, yang menimbulkan tantangan besar bagi masyarakat Eropa.
Dengan merujuk pada serangan-serangan masa lalu terhadap masyarakat, termasuk serangan teroris 22 Juli, serangan terhadap masjid Al Noor, dan pembunuhan seorang Muslim muda, para peserta menekankan bahwa Norwegia telah menyaksikan konsekuensi serius dari ekstremisme sayap kanan dalam beberapa tahun terakhir. Mereka mencatat bahwa normalisasi ujaran kebencian secara bertahap membantu membentuk "batas-batas apa yang dapat diterima dalam wacana publik."
Faruk Terzic, Presiden Jaringan Dialog Islam Norwegia, menekankan tanggung jawab masyarakat untuk menghadapi ideologi ekstremis dan mencegah penyebarannya. Ia mengingatkan pentingnya upaya bersama untuk melindungi nilai-nilai kemanusiaan dan memperkuat kohesi sosial.
Anne Lindboe, Walikota Oslo, menekankan pentingnya memperkuat rasa aman dan kebersamaan dalam masyarakat.
Cendekiawan Muslim Shaukat Werç meninjau pengalaman internasional dalam memerangi ekstremisme, dan Özer Ahmet membahas dampak rasisme terhadap Muslim dan konsekuensinya terhadap masyarakat. Konferensi ini juga mencakup sesi dialog yang mempertemukan perwakilan dari komunitas Yahudi, Muslim, dan Kristen. Mereka menyatakan bahwa dialog antaragama dan antarbudaya adalah alat praktis untuk mengurangi polarisasi dan meningkatkan pemahaman. (HRY)