Mohammad Hasan Ali al-Kabari, seorang qari dan juri Musabaqoh Alquran Internasional asal Yaman, berbicara kepada IQNA tentang tingkat ketertarikan Ayatullah Khamenei, syahid Imam dalam menghafal, membaca, dan merenungkan ayat-ayat Alquran, dengan mengatakan: Imam Khamenei (qs) benar-benar hidup untuk mati syahid dan sepanjang hidupnya beliau membangkitkan minat dan perhatian yang mendalam terhadap Kitab Allah di hati manusia. Allah menganugerahkan kepada Pemimpin Tertinggi kita, Imam Khamenei (qs), berkah mati syahid dan pengabdiannya kepada Kitab Alquran. Dengan cara ini, Allah menjadikan hati manusia bersemangat untuk taat dan mencintai-Nya, dan memenuhi janji Allah Yang Maha Pengasih:
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَنُ وُدًّا
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang” (QS. Maryam: 96)
Mohammad Hasan Ali Al-Kabari menambahkan: Pengabdian Imam Khamenei kepada Alquran menyebabkan Allah meninggikan kedudukan dan pangkatnya serta menganugerahinya kehormatan dan wewenang. Siapa pun yang menghormati Kitab Allah, Alquran, Allah akan meninggikan kedudukan dan takdirnya.
Qari Alquran asal Yaman itu menambahkan: "Siapa pun yang membaca kutipan dari ceramah Yang Mulia Ayatuollah Imam Khamenei, yang hidup dalam pelukan Alquran, dan siapa pun yang membaca tulisan-tulisannya dan apa yang telah disebarluaskan melalui media, serta tafsirnya terhadap sejumlah ayat mulia, baik di masa mudanya maupun selama kepemimpinannya, akan menyadari bahwa pemimpin syahid kita mengetahui bahwa kelezatan berpikir dan merenungkan Kitab Allah adalah surga dunia ini dan sumber perluasan hati orang-orang beriman."
Kehadirannya di acara penghormatan para qari Alquran internasional adalah sebuah mahkota di kepala mereka yang hadir; sebuah kompas yang mengingatkan kita bahwa kekuatan bangsa terletak pada Kitab Allah dan wawasan para pemimpinnya yang menempuh jalan pengorbanan dan pengabdian diri. Kami beruntung dapat memahami kebesarannya dan ketika kami mengucapkan selamat tinggal kepada jasadnya yang suci, seolah-olah kami mengucapkan selamat tinggal kepadanya dengan segenap jiwa kami. Beliau berpulang kepada Tuhannya sebagai seorang syuhada yang diberkahi dan dampak pertemuan itu akan tetap terukir di hati kami selamanya.. (HRY)