IQNA

Menilik Perjalanan Terjemahan Al-Quran Al-Karim ke Dalam Bahasa Jepang

9:40 - September 01, 2014
Berita ID: 1445239
JEPANG - Bagi orang-orang Jepang, bahasa dan kebudayaan Jepang adalah sebuah tajuk yang sangat bernilai dan pengaruh agama Islam sebagaimana pengaruh kebudayaan-kebudayaan lainnya harus melalui bahasa Jepang.

Menurut laporan IQNA cabang Asia Timur, di negara-negara Timur, paling Timurnya negara yang beriklim zona Utara dalam benua Asia adalah negara Jepang.
Masyarakat Jepang menamakan negaranya dengan “Nihon” atau “Nippon”; luas negara ini adalah 377 ribu km² (seperlima tanah Iran), dimana hanya 7000 km² saja yang bisa ditinggali dan populasinya berjumlah 128 juta orang, sedangkan 12 juta orang dari mereka tinggal di Tokyo.
Bahasa resmi masyarakat Jepang adalah bahasa Jepang dan seratus persen dari mereka (bahkan dalam semua tingkat pendidikan universitas) berbicara dengan bahasa ini. Bagi orang-orang Jepang, bahasa dan kebudayaan Jepang sangatlah bernilai dan pengaruh agama Islam sebagaimana pengaruh kebudayaan-kebudayaan lainnya juga harus melewati bahasa Jepang.
Meskipun Al-Quran Al-Karim diturunkan dalam bahasa Arab, namun audiennya adalah seluruh manusia semenjak penurunan wahyu sampai sekarang ini; dengan demikian untuk memindahkan konsep-konsep samawi dan kandungan tinggi kitab ini perlu diterjemahkan ke dalam bahasa pribumi masyarakat Jepang.
Dan selanjutnya, kita akan menilik sejarah penerjemahan Al-Quran dalam bahasa Jepang.

Sejarah Penerjemahan Al-Quran Al-Karim ke Dalam Bahasa Jepang
Terjemahan Al-Quran pertama dalam bahasa Jepang milik “Kenichi Sakamoto Reisyu” pada tahun 1920 M yang sudah diterbitkan dalam “Sekumpulan Buku-Buku Suci Dunia”; sastra terjemahan ini berkaitan pada masa dekade tersebut dan sekarang ini pembacaan untuk kalangan masyarakat umum Jepang sangatlah susah; di antara kriteria terjemahan ini adalah tidak diterjemahkan langsung dari bahasa Arab; penerjemah di akhir menyertakan sejarah ringkas Islam dan Al-Quran Al-Karim dan menganggap sebagai tafsir muktabar dari “al-Kasyaf Zamahsyari” dan juga “Suyuthi”.

Terjemahan Ahmad Ariga
Terjemahan kedua yang telah dicatat dalam sejarah, dipaparkan pada tahun 1938 M oleh seorang muslim Jepang bernama “Ahmad Ariga” dengan bantuan penerjemah lainnya bernama “Takashi Goro”. Perlu diingat urutan surah-surah dalam terjemahan ini berdasarkan urutan penurunan dan dikarenakan inilah merupakan sebuah terjemahan yang tiada taranya. Namun dikarenakan terjemahan tersebut ditulis dengan sastra Jepang pada periode tersebut, maka sudah pasti sangatlah tidak mudah bagi masyarakat saat ini; terjemahan ini juga bukanlah terjemahan langsung dari bahasa Arab, dengan demikian dituturkannya perbedaan di akhir nama dari setiap surah dalam catatan kaki barangkali karena perbedaan naskah dan tidak dikenalnya rujukan mereka dalam terjemahan. Untuk saat ini terjemahan ini sudah sangat jarang sekali ditemukan di pasar-pasar.

Terjemahan “Shumei Okawa”
Terjemahan lainnya adalah karya “Shumei Okawa” yang dilakukan dari tahun 1946-1948. Dalam pendahuluan, dia menulis bahwa dirinya bukanlah seorang muslim dan untuk melakukan pekerjaan ini dia merujuk pada terjemahan Cina, Inggris, Perancis dan Belanda. Pertama-tama dia memaparkan penjelasan ringkas tentang setiap surah. Terjemahan ini juga ditulis dengan bahasa kuno dan tidak mudah, akan tetapi belakangan ini terdapat revisi penerbitan dan dapat digunakan oleh kalangan masyarakat.

“Tosi Hiko Izutsu”; Terjemahan Terpopuler Dalam Bahasa Jepang
Terjemahan lainnya, yang merupakan terjemahan terpopuler dalam sepanjang sejarang adalah milik “Tosi Hiko Izutsu”. Cendekiawan populer ini, pertama kali memaparkan terjemahannya pada tahun 1975 di penerbitan muktabar bernama “Iwanami Shoten”; pada tahun 196, ia memaparkan terjemahan kedua yang berbeda dari penerbit tersebut; dalam sambutannya dia menuturkan untuk terjemahan ini dalam bahasa percakapan, menjadikan terjemahan Jerman “Gustav Flugel” sebagai dasar dan juga merujuk buku “Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta’wil”.
Terjemahan ini diterbitkan dalam tiga jilid saku dan di akhir dari setiap jilid, penerjemah memberikan penjelasan tertulis. Tampaknya, sang penerjemah ini dengan menggunakan jenis kata-kata dan kalimat-kalimat, berupaya menerjemahkan Al-Quran dalam struktur percakapan seorang pendeta ke dalam bahasa Jepang dan bukan Kalam Allah (Swt); dengan demikian dalam analogi teks-teks suci agama-agama tauhid lainnya tidak kosong dari kata-kata penghormatan; namun saat ini masyarakat Jepang tidak bercakap-cakap dengan cara demikian. Ringkasnya terjemahan ini berkaitan dengan masa sebelum hijrahnya “Izutsu” ke Kanada, Iran dan pengenalan mendalam terhadap filsafat dan irfan Islam.

Terjemahan “Katsuji Fujimoto” Tahun 1970
Terjemahan setelahnya yang diterbitkan adalah terjemahan “Katsuji Fujimoto”. Dia menyelesaikan terjemahan ini pada tahun 1970 dengan dibantu oleh dua orang lainnya bernama “Yasunari Ban” dan “Ikeda Osamu” dan disebarkan di pasar-pasar lewat penerbit populer bernama “Chuo-Koîran Sha”. Dalam terjemahan surah At-Taubah, pertama-tama dia menuturkan terjemahan ibarat “Bismillah ar-Rahman ar-Rahim”; demikian juga dalam surah ar-Ruum, dia menyertakan nama surah dan kalimat Ruum dalam ayat kedua dengan ibarat Yunani; meskipun dalam catatan kaki terjemahan mengisyaratkan bahwa yang dimaksud adalah Rumawi Timur.

Terjemahan “Omar Ryoichi Mita”
Terjemahan lainnya adalah terjemahan  “Omar Ryoichi Mita”. Untuk menerjemahkannya, sang penerjemah bermukim dua tahun di Makkah al-Mukarromah. Salah satu keistimewaan terjemahan ini adalah dilakukan oleh seorang muslim dan sebuah organisasi Islam membantu dalam penyuntingannya. Ketua organisasi ini memiliki perhatian serius pada terjemahan ini dan dalam pendahuluan koreksi buku ini dijelaskan meskipun aktivitas organisasi ini libur, akan tetapi sangat membantu sekali dan bekerja sama dalam hal penting ini.
Adapun yang dirasakan oleh setiap pembaca dari terjemahan ini adalah penghormatan dan pengkultusan sang penerjemah terhadap kitab samawi ini; terjemahan ini diterbitkan dan dipublikasikan dalam dua bentuk; bentuk pertama; terjemahan dalam bahasa Jepang disertai dengan teks catatan kaki dan bentuk yang kedua; terjemahan dalam bahasa Jepang, catatan kaki dan teks Arab Al-Quran. Terjemahan lainnya hanya mencakup terjemahan juz ketiga puluh saja.

Terjemahan “Ali Haruo Abe”
Terjemahan lainnya berasal dari “Ali Haruo Abe”; “Haji. Dr. Syauki Heida Futaki”, Ketua Populasi Agama Islam Jepang, yang saat ini sudah meninggal dunia, telah melakukan perjalanan ke Indonesia pada tahun 1980 dan Kementerian Agama Indonesia menjanjikan kepadanya akan menghadiahkan terjemahan Al-Quran kepada masyarakat Jepang; pertama-tama penerjemah ini mempelajari bahasa Arab, dan selanjutnya dalam masa satu tahun beberapa bulan memaparkan terjemahannya dalam lima kali koreksi. Untuk penerjemahan, dia merujuk terjemahan Inggris, Cina, Jerman, dan Perancis dan juga bermusyawarah dengan orang-orang ahli bidangnya.
Penyuntingan terjemahan ini dilakukan oleh seorang Islamolog terkemuka yaitu “Kojiro Nakamura”, dosen universitas Tokyo dan “Osamu Ikeda”, dosen universitas studi bahasa asing Osaka yang telah melakukan penerjemahan Al-Quran bersama “Fujimoto”. Pada tahun 1983, dari terjemahan ini telah diterbitkan dua ribu naskah, tentunya penerbit tersebut dengan klaim tidak dijual, tidak bersedia melanjutkan penerbitan tersebut; dan pada akhirnya sebuah penerbit kecil bersedia merevisi penerbitan secara cuma-cuma (tidak di perjual belikan) sehingga menghadiahkan seribu naskah kepada perpustakaan universitas dan yang lainnya yakni seribu naskah – dihadiahkan pada markas-markas Islam di Jepang.
Sekarang ini dari situs terkenal “Amazon” dapat dibeli dengan harga kurang lebih enam ribu Yen. Terjemahan ini memiliki kriteria khusus; semisalnya di bagian halaman kanan dan bagian kanan disebutkan teks Arab, dan pada bagian kiri halaman tersebut disebutkan terjemahan Inggrisnya.
Di halaman kiri bagian atas terdapat terjemahan Jepang dan bagian bawah dituturkan pelafazan Arab dengan huruf Jepang; penuturan lafaz ini sangat membantu sekali bagi kaum muslimin Jepang yang tidak memiliki kemampuan membaca huruf-huruf Arab. Poin lainnya adalah terjemahan ini diterjemahkan dalam bentuk syair dan dalam bentuk ritme dan sama sekali tidak memperhatikan terjemahan kata per katanya.

Terjemahan “Muhammad Awis Atsushi Kobayashi” Tahun 1998
Terjemahan lainnya dikerjakan oleh “Muhammad Awis Atsushi Kobayashi” yang lahir pada tahun (1931). Terjemahan ini diterbitkan oleh penerbit Organisasi Muslim Ahmadiah di Jepang pada tahun 1998; dia pada tahun 1958 ikut bergabung dengan kelompok Ahmadiah dan kurang lebih dua tahun menimba ilmu-ilmu Agama di Pakistan.
Terjemahan ini ditulis dengan corak kalimat-kalimat tertulis. Meskipun corak ini juga dipakai dalam penerjemahan kitab suci Kristen, akan tetapi sekarang ini tidak dipakai dikalangan masyarakat umum; terlebih-lebih orang-orang Kristen juga kembali menerjemahkan kitab suci dari awal dan menulis dengan menggunakan corak kalimat-kalimat baru yang dipakai oleh masyarakat umum. Di antara kriteria terjemahan ini adalah dituturkan tafsir ayat-ayat di catatan kakinya; corak kalimat-kalimatnya menyalahi pokok terjemahan dalam bentuk percakapan sekarang ini.
Dalam pendahuluan terjemahan ini, dia menuliskan bahwa Al-Quran mengingkari penyaliban dan penggantungan al-Masih (As) dan orang-orang Yahudi meminta kepada pemimpin waktu itu supaya menyerahkan jasad Al-Masih (As) dan ketika menyerahkan, mereka melihat darah baru mengalir dari luka perut. Mereka yakin bahwa hal ini tidak akan mengakibatkan kematian; disamping ini juga menuturkan sebagian keyakinan-keyakinan Islam dan menisbahkan keseluruhanya kepada Al-Quran.

Terjemahan “Muhammad Al-Qaim Fumio Sawada”
Terjemahan lainnya adalah terjemahan “Muhammad Al-Qaim Fumio Sawada”. Dia menyelesaikan terjemahan pertamanya dari bulan pertama sampai keenam pada tahun 1989. Di Jepang sejak dulu kala terdapat keyakinan, jika kitab suci ditulis dengan tangannya maka itu merupakan sebuah ibadah nan agung dan memiliki ganjaran yang sangat banyak sekali dan juga sangat berpengaruh dalam memahami ayat-ayatnya; dengan demikian, selama penerjemahan Al-Quran, dia juga melakukan penulisan teks Arab dengan khat tulisan tangannya.
Dia menerjemahkan Al-Quran untuk kedua kalinya sejak bulan Oktober 1999 sampai dengan bulan Juni tahun 2000; dia dalam terjemahan ini menggunakan terjemahan Inggris “Syakir”, “Al-Bari”, “Mir Ahmad Ali”, dan terjemahan-terjemahan Jepang “Izutsu” dan “Mita”. Sang penerjemah ini berusaha menggunakan kalimat-kalimat yang sederhana dan mudah. Dengan bertolak bahwa dia meyakini sesungguhnya Al-Quran memiliki tujuh makna, maka terkadang dia menuturkan dua prospek terjemahan dari satu ayat.

Terjemahan “Hassan Ko Nakata” 2006
Terjemahan terakhir adalah terjemahan “Hassan Ko Nakata” dan istrinya “Habibah Kaori Nakata” dan “Hamid Kazuki Simomura”. Terjemahan ini berdasarkan pada “Tafsir Jalalain” dan merujuk pada tafsir-tafsir kontemporer seperti “Tafsir al-Wajiz” dan buku “Al-Maisar fi al-Qiraat al-Arba’ah Asyrah” dan menjadikan landasan penjelasan bilangan bacaan lahiriah kalimat dan ayat dari Muhammad Fahd Kharuf (Damaskus 1995); dalam terjemahan ini, editor dan penerjemah menuturkan poin-poin perbedaan bacaan, khususnya dalam perspektif Tafsir Jalalain dan bacaan Hafsh di dalam catatan kaki; sang penerjemah dalam aspek kandungan juga berusaha komitmen menerjemahkan “kata perkata”; meskipun menurut sastra Jepang belum menghasilkan kalimat yang alami.
Perlu diingat bahwa asalnya Tafsir Jalalain diterjemahkan dalam tiga jilid dari tahun 2002-2006 dengan pena “Habibah Kaori Nakata” dan editor “Hassan Ko Nakata” dan diterbitkan oleh “Organisasi Arab Saudi dan Jepang”.

Terjemahan “Tatsu Ichi Sawada”
Tatsu Ichi Sawada, penulis makalah ini pada tahun 1999 dengan suport sekelompok orang-orang Iran yang bermukim di Jepang juga menerjemahkan juz ketiga puluh. Terjemahan ini diterbitkan oleh orang Lebanon di Beirut dalam bentuk pamphlet, akan tetapi tidak mendapatkan ISBN (Internasional Standar Book Number). Terjemahan ini berusaha memilih kalimat-kalimat yang sederhana dan mudah dan akhir dari setiap surah disertakan kandungan surah tersebut secara ringkas.
Terjemahan ini menggunakan beberapa tafsir seperti tafsir Nemuneh, tafsir al-Mizan, tafsir Kautsar, terjemahan Ilahi Qumshei, dan terjemahan Mita; demikian juga buku “Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru” dalam bahasa Jepang dijadikan sebagai telaah sehingga istilah-istilah yang sudah dipakai di situ menjadi renungan, jangan sampai istilah-istilah yang dipakai dalam terjemahan ini, kebanyakan konsolidasi umum dengan makna-makna yang lebih spesifik.
Misalnya dalam buku Dua Perjanjian, Hawariyyun Nabi Isa (As) diterjemahkan dengan kata “Shitu”. Kalimat Jepang ini meskipun pada dasarnya memberikan arti Rasul (utusan), akan tetapi makna spesifik bagi orang-orang Kristen, kata “Shitu” tidak berlaku untuk para murid khusus Nabi Isa (As); dengan demikian terjemahan ini telah menyalahi terjemahan Mita, dengan memilih kalimat lain “Mitsukai” yang memberikan arti Rasul.

Evaluasi Akhir Terjemahan
Terjemahan “Fujimoto” sangatlah mudah, akan tetapi terjemahan “Izutsu” tidak ditemukan kemudahan  di dalamnya. Demikian juga terjemahan-terjemahan sebelum Izutsu yakni Sakamoto, Areno, Okawa, tidak diterjemahkan langsung dari bahasa Arab dan bacaan untuk masyarakat umum sekarang ini sangatlah susah.
Terjemahan Izutsu meskipun memiliki urgensitas dalam aspek semiologi, akan tetapi sangat lemah sekali dalam aspek ketuhanan; khususnya kemukjizatan sastra Al-Quran dalam terjemahan ini tidaklah jelas; meskipun cendekiwanan ini sadar dalam perkara ini. Satu poin yang harus dituturkan di sini adalah jika orang Jepang pertama-tama menelaah kitab suci Kristen dan merasakan ibarat indah ada dalam terjemahan tersebut dan selanjutnya membaca terjemahan ini, maka dia tidak akan tertarik dengan Al-Quran ini, bahkan akan lebih memprioritaskan kitab mukadas tersebut.
Menurut perspektif Tatsu Ichi Sawada, sebagian ibarat-ibarat kitab suci dalam bahasa Jepang memiliki keteraturan irama indah, akan tetapi Al-Quran yang diterjemahkan oleh Izutsu tidak memiliki keteraturan irama ini; dengan demikian sang penulis lebih memprioritaskan bahwa terjemahan Fujimoto lebih baik ketimbang terjemahan Izutsu; bertolak bahwa toko buku Jepang saat ini dapat memberikan tiga terjemahan Okawa, Izutsu dan Fujimoto, maka analogi di antara tiga terjemahan tersebut memiliki urgensitas tersendiri.
Meskipun di antara terjemahan-terjemahan yang ada, terjemahan “Mita” dan “Kobayashi” menjaga harkat kekultusan kitab tersebut, maka dari aspek ini merupakan hal yang dapat dipuji, akan tetapi tidak diedarkan dalam toko-toko buku dan hanya disediakan pada yayasan-yayasan yang berkaitan dengannya. Dari satu sisi sudah sewajarnya setiap terjemahan menerima sebuah keyakinan atau rujukan buku-buku; dengan demikian terjemahan Mita dan Kobayashi adalah terjemahan berdasarkan mazhab Ahlisunah dan Ahmadiah sedangkan terjemahan sang penulis berdasarkan pengetahuan-pengetahuan Ahlulbait (As).
Tatsu Ichi Sawada, Mei, 2014.

1444472

captcha