IQNA

Dialog IQNA dengan Penulis Buku Ghadir dalam Alquran dalam Riwayat Ahlussunah

Ghadir dalam Alquran; Pembacaan Ulang Dokumenter dalam Tafsir-tafsir Sunni

13:47 - May 30, 2026
Berita ID: 3483677
IQNA - Mengapa mempelajari Ghadir dalam sumber-sumber non-Syiah merupakan kebutuhan ilmiah? Mengapa, terlepas dari referensi yang terus-menerus dalam sumber-sumber Sunni, peristiwa Ghadir tetap menjadi titik perbedaan antara ulama Syiah dan Sunni? Bagaimana fakta-fakta Ghadir dapat diekstrak dari sumber-sumber naratif menggunakan metode ilmiah? Dan akhirnya, dapatkah Ghadir menjadi "poros persatuan peradaban" bagi dunia Islam? IQNA mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini dalam percakapan dengan Hujjatul Islam Mohammad Yaqub Bashwi.

Dalam wawancara ini, kita akan ditemani oleh Hujjatul Islam wal Muslimin Mohammad Yaqub Bashwi; penulis dan peneliti.

Kita akan membaca detail wawancara di bawah ini:

Iqna - Dalam karya ini, Anda berfokus pada sumber-sumber Sunni. Pertama, mohon jelaskan secara singkat isi buku ini.

Buku ini pertama kali dipresentasikan di kalangan akademisi dan terpilih sebagai salah satu karya terbaik di antara karya-karya yang diterima serta mendapat dukungan dari Kementerian Bimbingan. Buku ini kini telah diterjemahkan ke dalam 23 bahasa di dunia; termasuk bahasa Rusia (yang diterbitkan di Moskow), Swahili, Urdu (di Pakistan dan Qom), Azeri, Portugis, dan Persia.

در حال تکمیل //مصاحبه با بشوی

Iqna - Penerimaan global ini menunjukkan bahwa komunitas intelektual sedang mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tentang Ghadir dan perwalian Amirul Mukminin (as).

Ya, inilah posisi Ghadir Khum yang menemukan tempatnya di tingkat internasional. Ghadir adalah isu global dan harus dipresentasikan kepada dunia. Tugas kita hari ini adalah menerjemahkan konsep-konsep ini ke dalam bahasa dunia kontemporer. Kita tidak boleh menyajikan Ghadir sebagai isu kontroversial, tetapi kita harus menyajikannya sebagai solusi peradaban bagi umat manusia. Ketika buku ini diterbitkan dalam berbagai bahasa dan diterima di Moskow, Afrika, atau jantung Eropa, itu menunjukkan bahwa pesan Ghadir memiliki bahasa universal yang dapat melintasi batas-batas agama dan berbicara kepada sifat manusia dalam mencari keadilan.

Iqna - Salah satu tantangan utama dalam diskusi Ghadir adalah perbedaan interpretasi kata-kata seperti "maula". Bagaimana Anda menangani implikasi linguistik dalam teks-teks Sunni untuk menghindari "tafsir bi ra’yi"?

Dalam buku ini, saya mencoba menganalisis semua makna kata "maula" dalam budaya Arab dari perspektif linguistik dan historis. Beberapa orang mencoba menginterpretasikan "maula" hanya sebagai "persahabatan dan kasih sayang"; tetapi mari kita lihat peristiwa Ghadir secara jujur ​​dan ilmiah. Interpretasi ini tidak sesuai dengan logika rasional atau historis apa pun dalam konteks tersebut.

Bayangkan Nabi Muhammad (saw) di tengah terik matahari Juhfah, di tengah kerumunan besar dan di tengah situasi di mana semua suku Arab hadir, setelah menempuh jalan yang sulit, beliau menghentikan orang-orang untuk berkata: “Siapa pun yang aku adalah sahabatnya, maka Ali adalah sahabatnya”. Ayat “Balligh ma Unzila Ilaika…” dengan nada ancaman ilahi “Jika kamu tidak menyampaikan, kamu belum melaksanakan risalah”, bukankah itu diturunkan untuk menyampaikan nasihat moral yang sederhana? Tentu saja tidak. Kata ini membawa beban hukum dan politik yang jauh lebih berat.

"Mawla" di sini berarti "prioritas di atas diri sendiri" dan "otoritas mutlak." Ghadir adalah pernyataan tentang proses yang berkelanjutan; bukan perasaan pribadi. Misi kenabian tetap tidak lengkap tanpa bimbingan setelah Nabi (as). Jika Ghadir tidak ada, agama akan tetap menjadi urusan sementara yang berakhir. Tetapi wilayah adalah jaminan bahwa agama Allah memiliki pelindung yang melanjutkan jalan yang sama seperti Nabi dengan otoritas yang sama.

Ketika kita mengatakan "maula", yang kita maksud adalah seseorang yang mengemban wilayatul amr.

Iqna - Ghadir biasanya dianggap sebagai titik pemisah antara Syiah dan Sunni. Bagaimana perspektif Anda dalam buku ini mengubah Ghadir dari "titik konflik" menjadi "poros persatuan" dalam peradaban Islam modern?

Saya percaya bahwa Ghadir bukanlah titik pemisah; Ghadir adalah Alquran itu sendiri, penjelasan praktis dari pesan Alquran. Dapatkah sesuatu yang berakar pada wahyu menjadi faktor pemisah? Jika kita memahami Ghadir dengan benar, kita akan melihat bahwa Ghadir tidak hanya bukan anti-persatuan, tetapi merupakan salah satu fondasi terdalam dari persatuan sejati umat Islam. Karena persatuan sejati bukanlah persatuan tanpa poros; jika umat tidak memiliki poros ilahi, ia akan menderita perpecahan, interpretasi yang bertentangan, dan perselisihan yang tak berkesudahan.

در حال تکمیل //مصاحبه با بشوی

Saya memberikan buku ini kepada teman-teman Sunni saya karena saya percaya bahwa pembahasan tentang Ghadir, jika disajikan dalam bahasa ilmiah, Alquran, dan terdokumentasi, dapat menjadi dasar dialog ilmiah dan kembali kepada kesamaan mendasar, alih-alih menciptakan jarak.

Ghadir bukanlah masalah pribadi atau sekadar masalah sejarah; Ghadir adalah masalah pembangunan umat. (HRY)

 

4354867

Kunci-kunci: dialog ، iqna ، ghadir ، dalam Alquran
captcha