Ismail Niysaji Zuwareh, dalam wawancaranya dengan Iqna menjelaskan tentang i'tikaf dan sejarahnya dalam agama-agama sebelum Islam menyebutkan bahwa dengan demikian kita bisa mengambil kesimpulan, bahwa manusia adalah makhluk hidup yang punya kecendrungan untuk melakukan perjalanan dan suluk kepada Sang Pencipta seperti disebutkan dalam Al Quran pada ayat lain,Ya Ayyuhal Insana innaka kaadihun ilaa rabbika kadhan fa mulaaqiyh, wahai manusia sungguh engkau bersusah menuju Tuhanmu dan pasti engkau akan menemui-Nya.
Penulis buku "Pelajaran Pendidikan dalam wahyu Tuhan " ini lebih lanjut menegaskan, bahwa manusia dengan meniti jalan keimanan, pembinaan jiwa maka pasti akan mendapatkan keindahan dan kasih sayang Tuhan, namun jika manusia melangkahkan kakinya untuk kekafiran dan kesesatan maka ia akan bertemu dengan kewibawaan dan kebengisan Tuhan. karena itu bila manusia semua tindak tanduknya didasari pada keinginan untuk bertemu dengan kasih sayang dan cinta Tuhan, maka ia harus mendidik jiwanya dan melakukan ibadah yang benar sehingga dapat menundukkan hawa nafsunya dan meniti kesenangan dan kenikmatan menjalin hubungan dengan Tuhan.
Untuk mencapai hal itu seorang manusia kadang-kadang harus melakukan penyendirian atau khalwat untuk menjauhkan diri dari keterikatan pada materi dan hanya memberikan konsentrasinya pada Tuhan yang di dalam ajaran agama dikenal dengan sebuah ibadah i'tikaf di mesjid.
Menurut penelitiannya kata i'tikaf berasal dari kata yang memiliki maka tinggal di suatu tempat dengan amalan tertentu, namun di dalam ajaran Islam i'tikaf yang dimaksud adalah tinggal di tempat suci mesjiddalam rangka mendekatkan diri dengan Allah.
Karenanya pada i'tikaf rumah hati kita haruslah kita kosongkan dari selain Allah dan kita nyalakan cahaya Tuhan padanya kita wakafkan diri kita khusus untuk ibadah dan kita rasakan manisnya bertamu kepada Allah serta kita serahkan kepada-Nya kendali hati kita. pada saat yang sama kita kenali segala kekurangan dan sifat-sifat jelek yang ada pada kita dan kita berusaha untuk mengobatinya dengan mengingat kematian dan menyiapkan diri untuk hadir di hadapan Tuhan, tambahnya.
I'tikaf bukanlah ajaran khusus di dalam Islam namun telah ada sejak agama-agama sebelum Islam. hanya saja Islam meneruskan kebiasaan baik tersebut, walaupun bisa saja ada perubahan-perubahan rukun, syarat dan hukum. Ayat di atas menunjukkan dengan jelas hal itu dan kesamaan sebagai agama hanif Ibrahim, tegasnya.
Allamah Tabataba i juga menyebutkan hal itu dalam tafsirnya tentang apa yang dilakukan oleh Sayyidah maryam sebelum melahirkan. begitu juga beberapa hadits nabi juga menjelaskan hal itu.
145157