IQNA

Al Quran dan Persatuan Merupakan Modal Besar yang Tak Ada Tandingannya

7:25 - October 24, 2007
Berita ID: 1594540
DR. Mahdi Mustafawi Menegaskan akan modal besar yang dimiliki kaum muslimin dan tidak ada yang dapat menggantikannya, yaitu Al Quran, Persatuan, Nabi Muhammad saw dan Ka’bah.
Iqna: DRMahdi Mustafawi, ketua Lembaga Kebudayaan dan Hubungan Islami mengatakan dalam acara pertemuan para ulama dan intelektual muslim Sunni dan Syiah yang kedua di Tehran, bahwa acara semacam ini merupakan sebuah langkah untuk merealisasikan persatuan dan kerukunan Islam.
Lebih jelas beliau menegaskan, bahwa ketika kita menyebutkan “Dunia Islam” pada negara-negara Islam merupakan sebuah kata yang memiliki makna yang sangat dalam dan luas dengan berbagai kemampuan yang dimiliki oleh negara-negara Islam di bidang Politik, Ekonomi, Budaya dan lainnya.
Beliau melanjutkan pembahasan tentang kekuatan dan kemampuan yang dimiliki oleh negara-negara Islam dengan mengatakan, bahwa kaum muslimin memiliki modal terbesar untuk bersatu yang tidak bisa digantikan dengan apapun, yaitu agama yang satu yakni Islam, Al Quran, Ka’bah dan Nabi yang satu yaitu Nabi Besar Muhammad saw.
Menurutnya umat Islam yang jumlahnya lebih dari 1,5 milyard merupakan 1/3 penduduk dunia yang tinggal di 57 negara dan di 5 benua dunia in seharusnya merupakan jumlah yang sangat signifikan, baik sebagai produsen atau konsumen.
Beliau menambahkan, bahwa dengan sedikit toleransi atas data yang lebih terperinci, kita bisa katakana, bahwa sumber bumi terbesar itu ada di dunia Islam. Begitu juga sebagian dari negara Islam berada dalam letak Geopolitik dan Geostrategik yang patut diperhitungkan.
DR Mustafawi juga menyebutkan, bahwa Haji, Shalat, Puasa dan Jihad juga merupakan ajaran ibadah yang bisa menjadi faktor pemersatu di antara kaum muslimin yang tidak dimiliki oleh agama lain di muka bumi ini.
Dalam hemat beliau negara-negara Islam merupakan kumpulan negara yang terdiri dari berbagai suku bangsa, budaya, pemikiran dan akidah. Kumpulan ini memiliki kelebihannya di bidang ekonomi dimana yang satu dapat melengkapi lainnya, karenanya perlu dilakukan berbagai upaya untuk mengefektifkan berbagai kelebihan tersebut dan mengambil manfaat maksimal darinya demi kepentingan negara-negara Islam itu sendiri.
Namun yang perlu diingat, menurutnya, dunia Islam sehingga bisa memanfaatkan kelebihan itu haruslah memperkuat identitas dirinya sehingga dapat memainkan perannya dengan baik di dunia internasional. Begitu juga perlu dikuatkan peran dan eksis berbagai kelompok dan organisasi dunia antar negara-negara Islam di bidang politik, budaya, keagamaan, parlemen, ekonomi dan media.
Penasehat Presiden Iran ini juga menegaskan, bahwa sangat disayangkan, hari ini dunia Islam kita walaupun memiliki berbagai persamaan dan kerjasama yang jelas, namun ada faktor-faktor tertentu baik internal atau eksternal yang selalu berupaya untuk menabur benih-benih perselisihan sehingga menjadi penghalang untuk memainkan perannya di dunia internasional dan menuntut hak-haknya dalam pengambilan keputusan.

Menurutnya, sebagian dari luar dunia Islam melakukan berbagai upaya untuk menjadikan Islam sebagai musuh “bayangan” dengan nama terorisme dalam rangka menakuti-nakuti non muslim dan memperkuat perasaan Islamfobia
Sedangkan dari dalam ada pihak-pihak yang menebarkan benih perselisihan dan permusuhan sehingga kaum muslimin melupakan keberadaan dan bahaya musuh luar mereka, yaitu Imprealisme internasional dan Zionisme Israel.
Mustafawi juga mengingatkan, bahwa dunia Islam dengan keluasannya secara geografis, posisi ekonominya yang patut diperhitungkan, budaya dan peradaban yang berbobot dan berpengaruh. Namun saat ini realitanya tidaklah demikian. Dari semua produksi internal di dunia hanya dua ribu milyard Dolar, yakni 6 % yang berada di negara Islam. Sedangkan ekspor di dunia ini pada tahun 2005 telah mencapai 10 ribu milyard dolar, namun hanya seribu milyard dolar yang dimiliki oleh negara-negara Islam.
Karenanya, menurut Mustafawi, dunia Islam haruslah mengenal berbagai kesempatan yang dapat mereka manfaatkan, setiap negara Islam harulah memiliki pandangan yang global dan konprehensif serta mengenyampingkan berbagai perbedaan pandangan parsial, sehingga bisa merealisasikan persatuan dan kerukunan Islam. Dan tentu tugas terberat hal itu ada pada pundak para ulama dan intelektual muslim, tegasnya.
Pada akhir ceramahnya beliau menyebutkan, bahwa Republik Islam Iran sejak awal revolusi selalu berusahan untuk melaksanakan tugasnya dalam rangka memberikan dukungan segala proyek yang memberikan manfaat kepada umat Islam dimanapun mereka berada serta melakukan berbagai usaha untuk menjalin hubungan yang erat, persatuan dan kesatuan dengan seluruh negara Islam, khususnya ahun ini yang diberi nama oleh Pemimpin Spiritual tertinggi Iran, sebagai tahun “Persatuan Nasional dan Kerukunan Islam”
181390
captcha