IQNA

Peristiwa Al Ghadir Menjelaskan Tugas dan Peran Pemerintah Islam Sepanjang Masa

13:48 - December 09, 2009
Berita ID: 1858966
Imam Ali Khamenei: Peristiwa Ghadir disebut sebagai hari raya terbesar karena merupakan peristiwa yang paling monomental untuk menentukan tugas dan peran pemerintah Islam di sepanjang masa
Iqna merilis dari situs resmi Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatollah Al-Udzma Sayyid Ali Khamenei (http://indonesian.khamenei.ir), bahwa beliau Ahad (6/12), dalam acara hari raya Ghadir Khum menyebut peristiwa Ghadir sebagai momentum yang merangkai tolok ukur ilahi yang menggariskan jalan yang benar bagi umat Islam.

Di depan ribuan orang dari berbagai lapisan masyarakat yang menghadiri acara peringatan Ghadir di Huseiniyyah Imam Khomeini, Rahbar menyinggung perlakuan kalangan zionis dan musuh-musuh asing yang sengaja menebar kebohongan seputar isu nuklir Iran dengan tujuan memalingkan opini umum dunia. Beliau mengatakan, dengan terungkapnya hakikat, kebohongan-kebohongan itu hanya akan mempermalukan musuh-musuh bangsa Iran.

Pemimpin Besar Revolusi Islam dalam kesempatan itu menyampaikan ucapan selamat kepada bangsa Iran dan umat Islam sedunia atas tibanya hari raya Ghadir Khum seraya menjelaskan rahasia dari penamaan hari besar ini sebagai idullah al-akbar atau hari raya Allah yang terbesar. Beliau mengatakan, "Dibanding hari-hari besar Islam yang lain, hari raya Ghadir memiliki bobot yang lebih. Sebab, berdasarkan tolok ukur yang telah digariskan oleh Allah, hari raya ini telah menentukan tugas abadi bagi umat Islam terkait masalah bimbingan dan pemerintahan."

Mengenai ayat suci Al-Qur'an yang menjelaskan bahwa dengan adanya peristiwa Ghadir Khum agama Islam telah disempurnakan dan kaum kafir serta musuh-musuh Islam telah berputus asa, Rahbar mengungkapkan, "Pengumuman tentang kepemimpinan dan pelantikan Imam Amirul Mukminin sebagai penerus Nabi Saw sebenarnya adalah pemilihan yang dilakukan oleh Allah Swt, dan dengan mengumumkan penunjukan itu, Nabi Saw telah menyempurnakan misi risalahnya."

Dengan mengutip sejumlah riwayat yang menerangkan sabab nuzul ayat Al-Qur'an yang berkenaan dengan peristiwa Ghadir dan beberapa dalil lainnya, beliau menyatakan bahwa sepanjang sejarah Islam, Imam Ali bin Abi Thalib (as) adalah figur teladan dan sosok yang paling unggul dalam ilmu, taqwa, pengorbanan, jihad, infak dan berbagai keutamaan lainnya. Ayatollah Al-Udzma Khamenei menyeru seluruh umat Islam untuk mempelajari dan merenungkan hakikat ini.

Mengenai penekanan yang selalu diungkap oleh Republik Islam Iran tentang persatuan Islam, beliau menegaskan, "Kami tidak pernah memaksa satu kelompok Islam untuk menerima keyakinan kelompok Islam yang lain. Tapi yang kita minta adalah hal logis yaitu seluruh kaum muslimin di dunia hendaknya merenungkan peristiwa-peristiwa dan fakta-fakta yang telah diungkap oleh para ulama seperti Allamah Sayyid Syarafuddin Amili dan Allamah Amini tentang Amirul Mukminin Ali (as)."

Pemimpin Besar Revolusi Islam menjelaskan bahwa masa muda Imam Ali (as) yang penuh kesucian adalah teladan yang sempurna bagi kalangan muda dan kalangan yang lain. Karena itu semua orang harus menjadikan lembaran hidup Imam Ali (as) sebagai panutan dan contoh dalam mengarungi berbagai tahap kehidupan.

Beliau menyebut Syiah sebagai ajaran yang muncul dari keyakinan yang benar kepada wahyu Ilahi dan ajaran al-Quran. Seraya menjelaskan adanya propaganda dan tuduhan yang menyebut Syiah sebagai madzhab sempalan yang lahir karena faktor politik, beliau menambahkan, "Masalah Ghadir yang kebenarannya dalam sejarah Islam tak dapat diragukan telah menjawab segala tuduhan itu. Ghadir telah menunjukkan akar sebenarnya dari tasyayyu'."

Rahbar mengenai gencarnya propaganda anti Syiah mengatakan, arogansi dunia menyadari bahwa keberhasilan bangsa Iran mewujudkan cita-cita luhur umat Islam dan para cendekiawan loyalis di Dunia Islam adalah karena keyakinan bangsa ini kepada wilayah dan pembentukan pemerintahan Islam. Karena itu, musuh berupaya mengeluarkan Syiah yang berjumlah besar ini dari lingkungan Dunia Islam.

Beliau menyebut AS sebagai musuh paling utama bagi bangsa Iran dan Inggris sebagai musuh yang paling keji. Beliau menambahkan, Zionis, AS, dan semua arogan dunia cemas jika bangsa Iran menjadi teladan bagi kebangkitan umat Islam. Karena itulah selama tiga puluh tahun segala makar dan tipu daya mereka lakukan untuk mengucilkan Iran. Namun berkat pertolongan Allah, apa yang mereka lakukan selalu gagal dan akan terus gagal.

Di bagian lain pembicaraannya, Pemimpin Besar Revolusi Islam menyinggung kebohongan yang ditebar kalangan zionis tentang aktivitas nuklir Iran, seraya mengatakan, "Musuh berupaya memalingkan opini umum dunia dengan cara menebar kebohongan. Namun pada akhirnya merekalah yang akan merugi dengan terkuaknya kebohongan itu dan terungkapnya hakikat. Saat itu, seperti yang sudah-sudah, mereka akan semakin menanggung malu."

Beliau mengimbau para pemimpin Amerika Serikat (AS), Inggris, dan negara-negara Eropa lainnya untuk meninggalkan cara-cara dusta. Beliau menegaskan, "Sebagaimana yang telah berulang kali saya katakan, terkait masalah nuklir, bangsa Iran mengejar sains yang diperlukan negara ini. Bangsa Iran meyakini, jika sains dan teknologi nuklir tidak dikuasai hari ini kelak di kemudian ketika roda ekonomi dunia berputar dengan energi nuklir bangsa ini bakal tertinggal jauh."

Bangsa Iran, menurut beliau, hari ini terus bekerja keras untuk menguasai teknologi nuklir supaya kelak 20 atau 30 tahun ke depan, generasi mendatang tidak terpaksa mengulurkan tangan untuk mengemis kepada Barat. Namun Barat sengaja merintangi gerak laju bangsa ini dengan menebar tuduhan dan kebohongan.

Rahbar mengingatkan bahwa salah satu slogan bangsa Iran saat ini adalah slogan akan hak memperoleh teknologi nukir. Beliau menandaskan, "Bersikaplah cerdas dan arif. Sebab, arogansi dunia terus mengerahkan seluruh media politik dan propagandanya untuk mencegah bangsa Iran memperoleh haknya di bidang nuklir."

Mengenai kebijakan kaum arogan saat ini, Pemimpin Besar Revolusi Islam mengatakan, "Ketika merasa gagal menggunakan trik ancaman, serangan militer dan embargo terhadap sebuah bangsa, arogansi dunia akan memanfaatkan segala cara untuk menebar perpecahan dan perselisihan di tengah bangsa itu."

Seraya mengingatkan berbagai modus yang digunakan musuh dalam menebar perpecahan di sebuah negara, beliau menambahkan, "Kita harus mewaspadai tindakan musuh dalam memanfaatkan setiap kata dan langkah yang berbau perpecahan."

Sebagian orang, kata beliau, kelak harus bertanggung jawab di hadapan Allah karena melakukan tindakan yang bisa dimanfaatkan musuh untuk menyimpulkan adanya perpecahan di negara ini.

Ayatollah Al-Udzma Khamenei menyebut rakyat Iran sebagai rakyat yang penyabar, patriotik, dan resisten. Beliau mengatakan, "Para pemuka arogansi dunia berulang kali mengumbar statemen bahwa bangsa Iran sudah kehilangan kesabaran. Tapi yang benar justeru sebaliknya, merekalah yang tidak pernah bisa bersabar menghadapi bangsa Iran. Selama tiga puluh tahun, setiap kali ada kesempatan mereka selalu membuat makar politik, ekonomi, militer dan propaganda untuk menundukkan bangsa Iran."

Rahbar lebih lanjut menyatakan bahwa kesabaran dan kegigihan bangsa Iran adalah kunci untuk melanjutkan gerak langkah ke arah kemajuan negara. Beliau menegaskan, "Bangsa Iran yang penyabar, tidak mempedulikan propaganda dan sorakan musuh-musuh asing. Berkat pertolongan Allah dan tekad kuat para pemudanya, dengan cerdas dan arif bangsa ini akan melanjutkan jalan yang telah ditunjukkan oleh Imam Khomeini (ra). Bangsa ini akan mencapai puncak kebanggaan untuk menciptakan masa depan yang lebih cemerlang bagi negara."

504661


captcha