Ketua Pusat Kajian Islam Kantor Dakwah Islam Isfahan, Hujjatul Islam Majid Zadeh dalam wawancara beliau dengan Kantor Berita al-Quran Iran (Iqna) mengisyaratkan hubungan antara al-Quran dan pondasi akhlak, dengan menyatakan bahwa dengan mengkaji prilaku insani melalui induksi logis maka akan menghasilkan sebuah pertanyaan, “Sesuatu apakah yang memiliki sifat-sifat akhlaqi?” Namun, melalui al-Quran sebagai sebuah kitab petunjuk bagi manusia, mengatakan bahwa manusia telah mencapai tingkatan tertinggi martabat moral dan al-Quran menyebut mereka yang memiliki sifat-sifat akhlaqi atau tindakan bermoral, serta ciri-ciri mereka disebutkan di dalam kitab suci tersebut.
Beliau menjelaskan bahwa dengan membaca al-Quran, maka kita dapat menggali pembahasan seputar tindakan-tindakan berakhlak dan pembahasan-pembahasan mengenai figih. Dengan makna ini, kita dapat disimpulkan bahwa pondasi akhlak berasal dari al-Quran dan pondasi figih pun berasal dari al-Quran.
Ia menegaskan tentang kedudukan akhlak di dalam ilmu agama, Ayatullah al-Uzma Mazhahiri mengatakan bahwa pondasi figih adalah akhlak. Jika akhlak tidak ada, maka figih tidak dapat dijalankan. Dengan memperhatikan berbagai riwayat yang bersandar pada sanad dan dalil dapat dikatakan bahwa pondasi figih dapat digali melalui riwayat-riwayat dan pondasi akhlak pun dapat digali melalui riwayat-riwayat.
Jika manusia dapat mengenal kerusakan-kerusakan akhlak secara baik dan dengan itu ia dapat menghindarinya. Begitu pula jika ia dapat memahami kebaikan-kebaikan akhlak, maka dengannya ia menyadari pentingnya sifat-sifat itu berdasarkan aturan akhlak.
Beliau pun mengkritisi pandangan akhlak menurut Ghazali yang berasal sumber-sumber yang tidak dapat dipercaya. Karena itu, sebaik-baik sumber adalah sumber-sumber yang berasal dari al-Quran dan hadis.
Menurut pendapat Ayatullah Mazhahiri, akhlak atau etika adalah sebuah ilmu dan moralitas adalah tindakan. Jika ia terbiasa menampilkan kebaikan-kebaikan moralnya, maka ia telah bermoral secara tidak ia sadari dan akan sesuai dengan ilmu akhlak atau etika. Misalnya seseorang yang cenderung berkata benar dalam perbuatannya, maka setiap tindakannya akan menjadi benar.
Hujjatul Islam Hadi Zadeh mengatakan, “Bagaimana dengan tindakan bermoral tersebut, diprediksikan sebagai ilmu akhlak?” Ia menjelaskan bahwa seseorang harus selalu menimba ilmu dari seorang guru akhlak yang terpecaya, hingga memperoleh ilmu darinya dan beramal berdasarkan ilmunya.
Ia menambahkan, jalan yang terbaik untuk memahami ilmu akhlak adalah harus disertai dengan tindakan yang bermoral. Adanya seorang pembimbing diperlukan untuk mengajari seseorang agar memiliki tindakan yang bermoral, hingga menjadi sebuah kebaikan. Karena itu, seorang pembimbing dalam kitab al-Akhlak berupaya untuk memberikan sebuah petunjuk dan merealisasikannya sesuai dengan petunjuk tersebut.
736475