IQNA

12:26 - August 09, 2011
Berita ID: 2167796
Imam Ali Khamenei: Republik Islam Iran Hari Ini Sebuah Negara Kuat, Berpengaruh, Terhormat dan Mulia di Mata Internasional
IQNA merilis dari situs resmi Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatollah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei, bahwa beliau Ahad (7/8) dalam pertemuan dengan pimpinan tertinggi tiga Lembaga Negara, ketua Dewan Ahli Kepemimpinan, para anggota kabinet, anggota parlemen, pejabat berbagai instansi, para imam Jum'at, wakil Wali Faqih di berbagai provinsi serta para perwira tinggi angkatan bersenjata membicarakan tentang situasi regional dan global yang isimewa saat ini seraya menjelaskan kondisi Iran secara umum.

Beliau mengatakan, penilaian yang obyektif akan kedudukan pemerintahan Islam setelah 32 tahun berdiri akan menunjukkan bahwa negara ini telah membukukan keberhasilan-keberhasilan besar yang tak terbayangkan. Fakta ini telah melahirkan optimisme dan mendorong untuk melanjutkan gerakan dengan proses yang pesat menuju puncak. Seiring dengan itu ada serangkain tugas penting dan prioritas yang belum terlaksana. Dengan solidaritas, kebersamaan, kerja keras siang dan malam serta keteguhan dalam memegang prinsip dan norma dan dengan memanfaatkan kepercayaan rakyat yang sangat besar kepada negara dan rasa percaya diri yang tinggi di tengah para pemuda, semua peluang yang ada harus dimanfaatkan secara optimal untuk mengantarkan Iran yang Islami ke tempatnya yang layak di tingkat regional dan global.

Ayatollah al-Udzma Khamenei menekankan untuk secara fair dan obyektif menilai kondisi umum negara. "Untuk mencapai kesimpulan yang benar dan faktual tentang kondisi negara ini, kondisi kawasan dan dunia saat ini harus juga diperhatikan. Sebab kebangkitan Islam yang marak saat ini di kawasan dan krisis ekonomi yang secara mengejutkan mendera Dunia Barat serta berkembangnya aliran-aliran ekstrim di Barat, adalah fenomena yang belum pernah ada sebelumnya sejak kemenangan revolusi Islam," ungkap beliau.

Beliau menambahkan, transformasi yang spektakuler di kawasan dan dunia ini adalah peluang besar bagi pemerintahan Islam. Jika tidak mengevaluasi kondisi negara secara fair dan faktual, peluang ini akan terbuang sia-sia dan bahkan bisa berubah menjadi ancaman.

Pemimpin Besar Revolusi Islam melanjutkan, dalam menilai kondisi negara ini titik-titik kuat dan lemah harus dilihat bersamaan. Hindari pandangan yang mutlak negatif atau mutlak positif dalam memberi penilaian.

Beliau mengeluhkan adanya sebagian pejabat negara dan elit politik yang memiliki pandangan negatif murni yang secara sosial akan melahirkan pesimisme dan keputusasaan di tengah masyarakat. "Amat disayangkan bahwa sebagian media massa yang didasari oleh tendensi tertentu selalu menyoroti hal-hal yang negatif. Ini tindakan yang salah," kata beliau.

Sebaliknya, beliau juga menolak pandangan positif mutlak dan menyebutnya sebagai tindakan pemuasan palsu.

Lebih lanjut Rahbar mengimbau untuk mempelajari seluruh sisi kuat dan sisi lemah di negara ini seraya menjelaskan, "Sisi-sisi positif menunjukkan potensi yang dimiliki negara ini sementara titik-titik lemah menunjukkan apa yang harus menjadi prioritas kerja. Dengan mencermati kedua sisi itu kita bisa mengenal jalan yang benar yang mengantarkan kita kepada kemajuan dan ketinggian."

Mengenai sisi positif yang ada di negara ini, beliau mengatakan, titik-titik yang terang dan positif ini adalah hasil dari gerakan berkesinambungan pemerintahan Islam dalam 32 tahun ini, yang tentunya fluktuatif.

Poin positif pertama yang disinggung beliau adalah kemampuan dalam mengatasi tantangan. Beliau menjelaskan, sejak awal kemenangan revolusi Islam sampai saat ini, pemerintahan Islam menghadapi berbagai tantangan dan ancaman yang beragam dan sulit yang meliputi ancaman politik, keamanan, militer, dan ekonomi dari kekuatan-kekuatana adi daya dunia. Akan tetapi, berkat dukungan rakyat pemerintahanan ini bisa mengatasi semua tantangan itu.

Poin kedua adalah kepercayaan kuat yang terbina antara rakyat dan pemerintahan yang menurut beliau jarang ditemukan bandingannya di dunia. Rahbar mencontohkan partisipasi 80 persen rakyat Iran dalam pemilihan umum dua tahun silam dan keikutsertaan rakyat dalam pawai akbar tahunan hari al-Quds Sedunia dan hari kemenangan revolusi Islam 22 Bahman. "Tahun inipun meski suhu udara panas menyengat, dunia akan kembali menyaksikan kebesaran rakyat Iran di bulan Ramadhan dan hari al-Quds," tegas beliau.

Beliau menyayangkan adanya pernyataan sementara kalangan yang secara lahirnya mengesankan kerapuhan kepercayaan rakyat. "Rakyat mencintai pemerintahan Islam dan akan selalu membelanya," kata beliau.

Ayatollah al-Udzma Khamenei menegaskan, musuh berkoar tentang sanksi yang bisa melumpuhkan Iran. Namun di tengah himpitan embargo dan sanksi itu, Iran justeru telah membukukan banyak prestasi yang mencengangkan di berbagai bidang, sains dan teknologi.

Poin positif berikutnya adalah kedudukan Iran di pentas internasional. "Hari ini, Republik Islam Iran adalah negara yang dihormati, berpengaruh, terpandang dan bermartabat di pentas internasional," kata beliau. Kemuliaan dan kedudukan ini didapatkan berkat resistensi dan keteguhan bangsa dan para pejabat Iran kepada prinsip dan slogan-slogan revolusi Islam.

Sebalik, kata beliau, kebencian terhadap Amerika di tingkat regional dan global justeru semakin memuncak, dan saat ini, AS adalah rezim yang paling dibenci dan tak punya kedudukan di kawasan dan Dunia Islam. Di Eropa, jika rakyat di sana menyadari bahwa penyebab utama kesulitan mereka adalah hegemoni AS dan Rezim Zionis Israel, maka proses keterpurukan AS di Eropa akan berjalan lebih cepat, dan ini akan terjadi tidak lama lagi.

Seraya menyinggung adanya upaya sebagian kalangan untuk mengesankan kemerosoran popularitas Republik Islam Iran di kancah dunia, Pemimpin Besar Revolusi Islam mengatakan, sebagian orang berusaha meyakinkan bahwa popularitas Republik Islam Iran di pentas internasional anjlok karena keteguhan dalam memegang prinsipnya. Padahal, -amat disayangkan- pada beberapa periode ketika sejumlah pejabat bersikap lunak terhadap Barat, perlakuan terhadap Iran justeru semakin melecehkan.

"Di saat sejumlah pejabat kita memuji para petinggi AS, Presiden AS justeru menyebut Iran sebagai poros kejahatan," tegas beliau.

Rahbar mengingatkan kembali proses pengadilan untuk kasus pembunuhan di restoran Mikonos dan mengatakan, "Dalam satu periode, salah satu negara Eropa yang secara lahiriyah baik dan memuji Iran, justeru menggelar pengadilan untuk kasus pembunuhan di restoran Mikonos yang menuduh pejabat tertinggi Iran terlibat dalam insiden itu. Langkah tersebut lantas diikuti oleh sejumlah negara Eropa yang menarik Duta Besarnya dari Tehran dengan anggapan langkah itu bisa menjadi pukulan bagi Iran. Namun yang terjadi, justeru merekalah yang mendapat balasan dan merasakan tamparan yang lebih telak dari Husainiyyah ini."

Beliau mengingatkan, setiap kali pemerintahan Islam melunak di hadapan AS dan Eropa, mereka akan semakin lancang. Dan setiap kali pemerintahan ini resisten dengan slogan dan psinsip revolusinya, Republik Islam akan semakin terhormat.

Usai menjelaskan poin-poin positif, beliau mengungkapkan sisi-sisi lemah yang ada dan mengatakan, "Jika sisi-sisi lemah ini tidak diperhatikan pasti kita akan mendapat pukulan."

Kelemahan, kelalaian, dan kekurangan yang ada di bidang politik, ekonomi dan budaya, kata beliau, disebabkan oleh kelalaian dalam menjalankan tugas.

Seraya mengingatkan kisah kekalahan umat Islam dalam Perang Uhud, Ayatollah al-Udzma Khamenei menerangkan, "Menyibukkan diri dengan konflik dan polemik politik, kecenderungan kepada glamorisme dan kehidupan borjouis, lupa akan semangat jihad dan pengorbanan, lalai akan serangan budaya yang dilancarkan musuh, lalai akan lawan yang mengintai, lalai akan penyusupan lawan di dunia media dalam negeri dan ketidakpedulian kepada baitul mal, adalah contoh dari kelemahan-kelemahan itu."

Beliau juga menyebutkan adanya masalah yang belum teratasi di bidang ekonomi seperti pengadaan lapangan kerja, inflasi dan budaya kerja, meski sudah ada banyak hal yang dilakukan.

Beliau lebih lanjut mengimbau untuk semakin menyebarkan budaya sabar, syukur, dzikir, ihsan, kebaikan kepada orang lain, kecenderungan untuk melayani dan menghindari gangguan kepada pihak lain.

Di bagian lain pembicaraannya, Rahbar membahas perkembangan di kawasan dan mengatakan, situasi di kawasan saat ini jauh dari bayangan dan perkiraan AS dan zionisme internasional.

"Kekuatan adidaya dunia berniat melumpuhkan Iran lewat sanksi dan embargo ekonomi, tapi kini justeru merekalah yang didera krisis ekonomi," imbuh beliau.

Pemimpin Besar Revolusi Islam menambahkan, "Lewat fitnah tahun 1388 (2009 M), mereka hendak melumpuhkan Republik Islam Iran dengan cara mendukung dan memperkuat gerakan fitnah, tetapi kini justeru rezim-rezim boneka AS di kawasan yang tumbang atau tergoncang satu persatu."

AS dan kekuatan adidaya Barat, kata beliau, berniat mengepung Iran lewat agresi ke Afghanistan dan Irak, tapi yang terjadi saat ini justeru merekalah yang terjebak dalam kesulitan di kedua negara itu dan terkepung.

Kebangkitan Islam di kawasan, menurut Rahbar, adalah fenomena yang sangat istimewa. "Hakikat sebenarnya dari apa yang terjadi di Mesir, Tunisia, dan Yaman tidak terkira. Kelak di masa mendatang hakikat yang sebenarnya akan terungkap," jelas beliau.

Ayatollah al-Udzma Khamenei juga menyinggung pengadilan atas Hosni Mubarak yang ditempatkan dalam kurungan seraya menyebut kejadian ini sebagai peristiwa yang penuh arti, menakjubkan dan mendalam yang tentunya diikuti dengan semakin menyempitnya medan bagi rezim Zionis Israel.

Mengenai kondisi Libya beliau mengatakan, kebijakan Barat di Libya sangat hina dan menyakitkan. Sebab dengan memanfaatkan kebangkitan rakyat di negara itu, Barat berusaha menguasai sumber minyak dan berambisi mengukuhkan jejak kakinya di sana sekaligus juga membangun markas untuk mengontrol kawasan utara Afrika khususnya Mesir dan Tunisia.

Tak lupa beliau menyinggung tentang bulan Ramadhan seraya menyebut puasa sebagai hadiah Ilahi untuk mencapai ketaqwaan. Seraya menjelaskan beberapa penggalan dari doa Makarim al-Akhlaq yang diriwayatkan dari Imam Zainul Abidin (as), Rahbar mengatakan, menyebarkan budaya keadilan di berbagai bidang, menahan amarah, berjalan sesuai logika dan argumentasi, menghindari perselisihan, berusaha menarik orang bukan menolaknya, mengungkap sisi positif orang lain dan menghindari pengungkapan sisi negarif mereka di depan umum adalah bagian dari taqwa.

Di awal pertemuan, Presiden Republik Islam Iran Mahmoud Ahmadinejad dalam pembicaraannya menjelaskan sejumlah hal terkait kinerja pemerintah dalam enam tahun terakhir yang terfokus pada keadilan, pengabdian, kasih sayang, pembangunan dan kemajuan negara.

Seraya mengapresiasi kinerja kabinet-kabinet sebelum ini serta kerjasama baik parlemen dan lembaga peradilan dengan pemerintah, Ahmadinejad mengatakan, dalam kondisi yang paling sulit, berkat dukungan rakyat dan Pemimpin Besar Revolusi Islam, pemerintah berhasil mengukir banyak prestasi gemilang di berbagai bidang. Bahkan bisa dikatakan bahwa dalam enam tahun terakhir hasil kerja yang berhasil dibukukan di sektor pembangunan berkali lipat lebih besar dibanding masa lalu.

Di akhir pertemuan para hadirin mengikuti shalat Maghrib dan Isya berjamaah yang dipimpin Ayatollah al-Udzma Khamenei. Usai shalat, para hadiri berbuka puasa bersama Pemimpin Besar Revolusi Islam.

839148
Nama:
Email:
* Komentar Anda:
* captcha:
\