IQNA

6:51 - December 08, 2015
Berita ID: 3460947
CALIFORNIA (IQNA) - Telah lama Amerika merasakan komplikasi kekerasan dan serangan bersenjata; komplikasi yang juga terlihat di propinsi California dengan penembakan ke pusat penjagaan orang-orang cacat di San Bernardino.

Menurut laporan IQNA, penembakan mematikan Rabu lalu (2/12) di kota San Bernardino, California yang telah menewaskan 14 orang merupakan ke 353 kalinya penembakan pembunuhan massal pada tahun 2015 di seluruh penjuru Amerika.
Pembunuhan dengan senjata di Amerika merupakan masalah yang sudah lama ada di negara ini dan sudah jadi rahasia umum.
Kemudahan mendapatkan izin membeli dan membawa senjata termasuk salah satu dalil penting masalah tersebut dan masyarakat Amerika sering mendapati pembunuhan massal oleh senjata api di seluruh penjuru negara ini.
Sampai sekarang telah terjadi berkali-kali penembakan di sekolah-sekolah Amerika dan tewasnya para pelajar dan pengajar oleh seorang pelajar bersenjata.
Meskipun banyaknya penembakan yang secara rata-rata terjadi setiap hari di negara ini, pembesaran insiden San Bernardino dengan tujuan penyebaran sensitivitas anti Islam adalah hal yang perlu dipertanyakan.
Dalam beberapa bulan terakhir dengan meningkatnya serangan teroris dengan tujuan memburukkan muslim dan mendiskreditkan citra Islam, media-media juga seiring dengan pelaku serangan-serangan tersebut, mengobarkan sensitivitas anti Islam.
Bahkan di Amerika sendiri yang memiliki jumlah penembakan pembunuhan massal terbanyak, kinerja media seolah-olah pasca insiden San Bernardino, sebagai ganti dari mengetengahkan masalah penembakan massal di Amerika, justru menjadikan muslim sekali lagi sebagai target.

Peningkatan Islamofobia di Amerika Pasca Penembakan di California/ Serangan ke Masjid
Serangan teroris yang di emban oleh ISIS ini sekali lagi telah mengobarkan sensitivitas anti Islam di Amerika dan menyebabkan sebagian politikus negara ini dan bahkan sebagian para profesor universitas mengambil sikap terhadap hal tersebut dan dengan mengungkapkan statemen-statemen Islamofobia, menganggap muslim sebagai pelaku kekerasan di negara ini.
Beberapa hari pasca serangan teroris di California, kaum muslim di propinsi ini banyak menghadapi masalah.
Semisalnya, Syarif Al-Huseini salah seorang muslim markas Islam Palm Beach mengatakan, ketika sedang pergi menuju markas, saya mendapat telepon bahwa masjid diserang oleh sejumlah orang tak dikenal dan dalam serangan ini beberpa jendela pecah dan sejumlah sarana di dalam masjid rusak.
Al-Huseini dengan mengisyaratkan bahwa serangan yang terjadi beberapa hari lalu di California adalah serangan teroris menambahkan, serangan ke masjid sangatlah mengkhawatirkan, karena kaum muslimin California mengutuk terorisme dan tidak ada kaitan dengannya dan kami sangat berupaya untuk berinteraksi dengan masyarakat setempat guna memahamkan mereka bahwa Islam tidak ada kaitan dengan terorisme.
Dia menegaskan, kami (muslimCalifornia) sangatlah gelisah dengan situasi yang mendominasi masyarakat. Dari sisi lain kita tahu bahwa masyarakat Amerika di bawah pengaruh media dan mereka tidak memiliki gambaran benar tentang Islam dan dari sisi lain kita harus siap melawan serangan Islamofobia.

Ketua Universitas Liberty: Akhirilah Kehidupan Muslim
The Guardian dalam sebuah berita yang baru saja dipublikasikan menulis, Jerry Falwell Jr, ketua universitas Kristen Liberty di propinsi Virginia Amerika dalam mereaksi insiden California meminta para mahasiswa universitas ini supaya membawa senjata secara diam-diam untuk melawan serangan prospek oleh muslim dan mengakhiri kehidupan mereka.
Ketua univeristas Liberty berbicara kepada para mahasiswa, dia mengisyaratkan para pelaku penembakan baru-baru ini ke lembaga kesehatan San Bernardino dan mengatakan, menurut undang-undang Virginia, para mahasiswa diatas 21 tahun diperbolehkan untuk membawa senjata.
Dia meminta para mahasiswa, dosen dan staf universitasnya supaya membawa senjata di universitas  untuk menghadapi serangan bersenjata, seperti apa yang terjadi di San Bernardino.
Jerry Falwell Jr berbicara kepada kurang lebih 10 ribu mahasiswa dalam pertemuan mingguan ini. “Jika mereka datang kesini, datanglah kalian semua, berikan pelajaran mendasar kepada mereka,” ucapnya.
Himbauan bersenjata dibarengi dengan suport para mahasiswa; namun juga banyak mendapatkan kritikan; karena sejumlah masyarakat berkeyakinan bahwa Falwell telah terlalu jauh dengan menargetkan muslim dalam masalah ini.
Falwell berupaya untuk menjustifikasi ucapan-ucapannya setelah menjelaskan pidato kontroversial ini.
“Saya selalu berfikir bahwa jika manusia-manusia yang baik lebih banyak mendapatkan izin untuk membawa senjata, maka kami akan dapat mengakiri kehidupan muslim ini,”ucapnya.
Setelah itu, dalam menjawab pertanyaan seorang mahasiswa di Twitter menulis, maksud saya adalah kaum Muslim yang telah melakukan serangan Paris dan California.
Falwell kemudian dalam wawancara dengan sebuah surat kabar juga mengatakan, kaum muslim yang baik dan moderat sangatlah banyak.
Demikian juga, dia dalam wawancara dengan Associated Press mengatakan bahwa maksudnya, secara khusus adalah Syed Rizwan Farooq dan Tashfeen Malik, istri dan suami yang telah melakukan pembunuhan lebih dari 14 orang pada Rabu kemarin di San Bernardino.

3460235

Kunci-kunci: Ekstrem
Nama:
Email:
* Komentar Anda:
* captcha:
\