IQNA

Di Kuala Lumpur:

Pertemuan Ekstremisme dalam Dunia Islam, dengan Dihadiri Para Cendekiawan Iran dan Malaysia

7:28 - March 08, 2016
Berita ID: 3470214
MALAYSIA (IQNA) - Pertemuan ilmiah dan riset dengan topik mengkaji ekstremisme dalam dunia Islam diselenggarakan di hotel Royale Chulan, Kuala Lumpur, dengan dihadiri oleh para cendekiawan Iran dan Malaysia.

Menurut laporan IQNA, dari Malaysia, pertemuan ilmiah dan riset diselenggarakan dengan topik mengkaji ekstremisme dalam dunia Islam pada hari Kamis (3/3), di hotel Royale Chulan kota Kuala Lumpur, dengan dihadiri oleh para cendekiawan Iran dan Malaysia.

Pertemuan Ekstremisme dalam Dunia Islam, dengan Dihadiri Para Cendekiawan Iran dan Malaysia

Pertemuan ini terbentuk atas prakarsa lembaga riset dan studi Firdausi (sebuah lembaga riset dalam bidang telaah budaya di Asia Tenggara) dan dengan kerjasama lembaga Asia Ma (lembaga riset dan studi yang baru didirikan, untuk menciptakan pelbagai bidang untuk lebih mengokohkan komunikasi antara timur dan barat Asia) dan dengan undangan sejumlah para cendekiawan dan para pemikir Iran dan Malaysia, dengan tujuan dialog dan mengkaji ranah-ranah kemunculan ekstremisme dalam dunia Islam, faktor penguat dan solusi untuk melewati krisis tersebut.

Pertemuan Ekstremisme dalam Dunia Islam, dengan Dihadiri Para Cendekiawan Iran dan Malaysia

Pertama-tama, Ali Akbar Dhiya’i dalam pertemuan ini menjelaskan ekstremisme dan peran para cendekiawan muslim dalam mengkaji masalah tersebut, pemikiran-pemikiran beragam dan pelbagai aspek ekstremisme dalam dunia Islam.

Prof. Hassanuddeen Abd Aziz, salah seorang dosen universitas Islam Malaysia menganggap ketidakseimbangan ekonomi dalam dunia, yang memiliki akar dalam ketidakadilan kekuatan asing dan penjajahan dunia, termasuk salah satu akar dan faktor munculnya ekstremisme dalam dunia Islam.

Pertemuan Ekstremisme dalam Dunia Islam, dengan Dihadiri Para Cendekiawan Iran dan Malaysia

Ali Akbar Dhiya’i dengan mengisyaratkan publikasi sebagian pemikiran-pemikiran ekstrem dalam dunia Islam, juga mengisyaratkan agenda khusus jaminan keuangan dari pihak sebagian adikuasa untuk publikasi gerakan-gerakan ekstrem seperti takfiri dalam dunia Islam dan ia meminta cendekiawan muslim supaya mempertimbangkan tujuan-tujuan tersebut, supaya lebih cerdik dalam mengkaji faktor-faktor efektif dalam publikasi dan munculnya ekstremisme dalam dunia kontemporer.

Mohamad Pauzi bin Zakaria, cendekiawan dan pengajar akademik Islam univeristas Malaya mengisyaratkan munculnya kelompok Khawarij sebagai tingkatan pertama muslim ekstrem dan ia mengkaji akar-akar sejarah ekstremisme dalam dunia Islam.

Demikian juga Hisham Pawan, salah seorang pengajar universitas Islam Malaysia menambahkan, dengan mengkaji sejarah ekstremisme dalam dunia Islam, maka akan sampai pada kesimpulan bahwa akar kemunculan mereka tidak hanya terbatas pada pasukan asing dan penjajahan semata.

Datok Dr. Ahmad Murad Merican, pengajar unviersitas USM Malaysia dengan mengisyaratkan gerakan-gerakan seperti Nazisme dan revolusi Perancis menegaskan, ekstremisme selain sebuah masalah sejarah, juga tidak terbatas pada dunia Islam semata.

Para cendekiawan yang hadir dalam pertemuan menganggap perbedaan antar mazhab sangatlah sedikit, dimana perselisihan spesifik tersebut ada dalam sebagian furu’ al-Din tidak dapat menjadi faktor munculnya konflik di tengah-tengah kaum muslimin dunia dan dengan mengisyaratkan hubungan perdamaian di tengah-tengah masyarakat dan negara-negara dunia Islam, juga menganggap berpengaruhnya faktor asing lebih ekfektif ketimbang konflik-konflik ideologi dan ranah untuk pertumbuhan dan perkembangan masalah ini di tengah-tengah umat Islam.

Ayatullah Gholamreza Misbahi Muqaddam, ketua komisi ekonomi majelis dewan Islam menegaskan tentang penyadaran para remaja muslim akan masalah pendidikan sebagai salah satu solusi untuk melewati masalah tersebut.

Demikian juga Zakaria Man, salah seorang pengajar universitas Malaysia menambahkan, kaum muslimin dapat menunjukkan kewelasasihan Islam kepada masyarakat dunia dengan merujuk pada undang-undang moderasi Islam.

Datok Baharudin Ahmad, salah seorang pengajar di universitas Aswara Malaysia menyebut salah satu dalil muncul dan terpublikasikannya ekstremisme dalam dunia Islam sekarang ini adalah karena pengetahuan dan deduksi keliru tentang undang-undang dan riwayat-riwayat Islam.

Sementara, Muhammad Ruslan, wakil akademi Islam universitas Malaya mengatakan, salah satu solusi untuk menghilangkan pemikiran ekstrem dalam dunia Islam, kaum muslimin harus kembali pada referensi dialog dan lebih moderat, seperti yang dilakukan pada masa lalu oleh Al-Azhar.

Lebih lanjut, para hadirin mengisyaratkan akan tidak adanya studi ilmiah dan riset dalam dunia Islam dan demikian juga di Asia Tenggara dan mereka menegaskan kerjasama lebih antara timur dan barat Asia serta negara-negara Islam dan muslim di seluruh penjuru dunia untuk menghalau muncul dan berkembangnya ekstremisme dalam dunia Islam.

Pertemuan Ekstremisme dalam Dunia Islam, dengan Dihadiri Para Cendekiawan Iran dan Malaysia


http://iqna.ir/fa/news/3481396
captcha