IQNA

Hafiz Finalis Kenya:
23:34 - April 23, 2017
Berita ID: 3471194
IRAN (IQNA) - Saya mulai menghafal sejak dari usia 10 tahun dan selama delapan bulan, setelah saya mengeyampingkan seluruh program pelajaran dan rekreasi dan saya mengkhususkan waktu untuk menghafal, akhirnya saya berhasil menghafal seluruh al-Quran.

Haitsam Shifr Ahmad, hafiz 26 tahun asal Kenya, yang masuk babak final musabaqoh internasional al-Quran Iran ke-34 saat wawancara dengan IQNA mengungkapkan, "Saya mulai menghafal sejak dari usia 10 tahun dan selama delapan bulan, setelah saya mengeyampingkan seluruh program pelajaran dan rekreasi dan saya mengkhususkan waktu untuk menghafal, akhirnya saya berhasil menghafal seluruh al-Quran”.

Terkait motivasi menghafal al-Quran ia mengatakan, ketika saya mulai menghafal al-Quran, gambaran saya adalah saya mengatur sebagian program kehidupan saya sesuai dengannya, karena kedua orang tua saya mengatakan al-Quran menunjukkan metode hidup yang lebih baik, namun dengan menghafalnya, saya tahu seluruh kehidupan adalah al-Quran dan saya tidak dapat berpisah darinya, bahkan karakter Rasulullah (Saw) dalam al-Quran adalah tauladan saya untuk menjalani hidup dengan lebih baik, benar dan berperilaku baik.

Hafiz Kenya menyebut kesuksesannya dalam menghafal merupakan hasil jerih payah tiada henti dan dukungan kedua orang tuanya. Ia mengatakan, saya pergi ke kelas privat untuk memahami makna-makna al-Quran, saya mempelajari terjemahan dan tafsirnya, karena dengan tanpa mengetahui makna-makna al-Quran, maka tidak akan dapat mengambil manfaat cukup dan memadai dari kitab samawi ini.

Haitsam Shifr Ahmad yang menjadi delegasi musabaqoh internasional mengatakan, saya juga ikut berpartisipasi dalam musabaqoh internasional negara Mesir, Bahrain, Libya, Tanzania, sedangkan dalam musabaqoh Tanzania saya berhasil menyabet juara pertama dan dengan melihat pemaparan dari musabaqoh Iran, semoga saya dapat menyabet juara.

Terkait musabaqoh ini ia mengatakan, musabaqoh al-Quran di Iran diselenggarakan dengan sangat megah dan lebih koheren dibandingkan dengan negara-negara lainnya dan saya sangat bangga diundang sebagai kompetitor dalam fenomena agung Qurani ini dan saya sangat gembira berkompetisi dengan seseorang yang dari aspek teknis memiliki tingkat yang lebih tinggi.

Finalis Kenya terkait pengaruh musabaqoh internasional al-Quran khususnya moto kompetisi ini (Satu Kitab, Satu Umat) menegaskan, moto musabaqoh ini bukan sekedar sebuah moto semata, namun secara praktis menunjukkan kaum muslim Ahlusunnah dan Syiah tidak memiliki perbedaan dan dapat menjaga empati dan persatuannya di bawah naungan al-Quran.

"Al-Quran merelasikan seluruh hati yang ada; dengan mengikuti seluruh perintah kitab agung muslim ini mereka dapat mencapai hakikat bahwa tidak ada perbedaan dalam metode kehidupan mereka dan sampai pada tujuan-tujuan luhur, yaitu ridha Allah swt,” tegasnya.

Haitsam Ahmad mengisyaratkan sejumlah aktivitas Quraninya di Kenya. Ia mengatakan, dengan melihat bahwa Kenya adalah sebuah negara non Islam dan sama sekali tidak mendukung program al-Quran dan aktivitas-aktivitas al-Quran di negara ini amatlah terbatas dan mayoritas dilakukan secara khusus; sebagai seorang hafiz, saya memiliki banyak murid remaja, saya mengajari mereka hafalan dan terjemahan al-Quran secara privat.

"Segala hal yang diperlukan seorang manusia untuk hidup bahagia sudah tersedia dalam kitab ini dan saya anjurkan para remaja sebelum kinerja apapun agar mempelajari ilmu al-Quran terlebih dahulu, karena ilmu al-Quran adalah sempurna dan komprehensif dan lebih menyingkat cara untuk sampai pada kebahagiaan dan keselamatan,” ucapnya.

Hafiz Kenya ini di penghujung mengisyaratkan sambutan masyarakat Iran dan mengharap diundang sekali lagi dalam musabaqoh Iran.

Perlu diketahui, musabaqoh internasional al-Quran Iran ke-34 yang dimulai 19 -26 April di musholla Imam Khomeini (ra) Tehran siap menjamu para pecinta al-Quran.

http://www.iqna.ir/fa/news/3591898

Kunci-kunci: Hafiz Finalis ، Kenya ، MTQ Iran
Nama:
Email:
* Komentar Anda:
* captcha:
\