IQNA

16:08 - May 07, 2019
Berita ID: 3473099
IRAN (IQNA) - Sadat Indole Alonto, salah seorang pecinta Ahlulbait (as) mengunjungi atase kebudayaan Iran di Manila, dan menjelaskan kisah kesyiahannya serta berziarah ke makam suci Razavi selama kunjungan ke kota suci Masyhad.

Menurut laporan IQNA dari Filipina, pada hari Kamis, 2 Mei, Sadat Indole Alonto mengunjungi atase kebudayaan Iran di Manila dan selain bertemu dengan Mohammad Jafari Malek, atase kebudayaan Iran di Filipina, juga menyelenggaraakan pertemuan bersama mengenai kunjungannya ke kota-kota suci seperti Masyhad, Qom, Jamkaran dan Najaf al- Asyraf yang dilakukan pada pertengahan bulan Syakban.

Alonto mengucapkan terimakasih atas kerja sama Kedutaan Besar Iran di Manila yang telah memberikan penerbitan visa. Pengalaman yang sangat luar biasa. Dia dilahirkan pada 5 Juni 1972, di kota Muslim Marawi, yang terletak di kepulauan Mindanao, di selatan Filipina. Alonto menghabiskan pendidikan dasar dan menengah di sana dan kemudian menerima gelar sarjana matematika dari Universitas Negeri Mindanao.

Dia mengatakan tentang bagaimana menerima mazhab Syiah: “Saya sedari awal hingga saat pendidikan adalah seorang mahasiswa Ahlusunah, tetapi pada suatu hari di universitas saya mendengar pesan yang sangat mencerahkan dari Imam Khomeini, pendiri Republik Islam. Pesan ini merevolusi jiwa saya, dan segera saya bergabung dengan sekolah Ahlulbait.”

Dia melanjutkan, perjalanan saya ke Republik Islam Iran dimulai pada 15 April tahun ini dan berakhir pada 27 April.

Dia melanjutkan, saya terbang dari Manila ke Dubai dan dari sana langsung ke Masyhad dan pada saat pesawat saya -yang sebagian besar penumpangnya adalah saudara-saudara Syiah yang berbahasa Arab- mendarat di Masyhad, air mata saya menetes dan serasa tidak percaya bahwa saya akan berada di negara Republik Islam, dan air mata saya semakin menetes. Salah satu penumpang saat pesawat mendarat, dengan suara keras, meminta para penumpang lainnya untuk bershalawat dengan keras, dan ini semakin menambah haru perasaan saya.

Alonto menambahkan: "Saya memulai perjalanan saya yang tak terlupakan di Iran, dengan koordinasi dan disertai dua mahasiswa terpilih Al-Mustafa internasional cabang Manila, yang saat ini belajar di Qom dan menyambut saya di Masyhad. Sehari setelah tiba di Masyhad, saya mencapai salah satu harapan terbesar saya yaitu ziarah makam suci Imam Rridha, dan dua poin sangat menarik bagi saya, salah satunya adalah saya melihat kerinduan yang mendalam di mata para peziarah, dan yang lainnya adalah bahwa ketika saya melangkah ke tempat makam, saya merasakan keringanan tersendiri yang tidak bisa saya gambarkan. Saya mengirim dokumen ke pengurus jemaah haji Filipina untuk menghadiri haji wajib tahun ini, yang mana dokumen tersebut diterima dan janji saya adalah saya akan pergi berziarah ke Masyhad, Karbala dan Najaf setelah dokumen diterima dan sebelum melakukan perjalanan ke Mekah.

Kata tak Terungkap Peziarah Filipina tentang Ziarah Imam Ridha (as)

Perjalanan ke Masyhad terlaksana, tetapi dalam perjalanan ke Karbala dan Najaf, meskipun sering dilakukan upaya di kedutaan Irak di Teheran dan bahkan perjalanan ke bandara Najaf, dan ziarah Amirul Mukminin as dan kemudian Karbala, otoritas Irak di Teheran dan Najaf mereka mengatakan kepada saya bahwa kami akan melakukan tindakan timbal balik untuk warga Filipina karena tidak adanya visa untuk warga Irak yang ingin melakukan perjalanan ke negara Anda.

Dengan bertawakkal kepada Allah swt, Alonto menambahkan: "Saya mendapati para peziarah haram Imam Ridha as sangat ramah, dengan tampilan yang hangat, saya berada di Masyhad selama tiga hari dua malam, dan berhasil menziarahi dua makam lainnya yaitu Aba Salt dan Khaje Murad (Hartsamah bin A’yun), dan kemudian pergi ke Qom dengan bimbingan pelajar Filipina dan ikut dalam acara doa Kumail rekan senegaranya, dan pada hari Jumat saya pergi menziarahi Sayyidah Ma’sumah (sa)."

Warga negara Filipina itu, sambil menangis sesaat, kemudian melanjutkan, saya memasuki makam Sayyidah Masumah (as) dan merasakan perasaan yang luar biasa, perasaan yang tidak dapat saya gambarkan. Kemudian, bersama dengan seorang pelajar Filipina, saya berpartisipasi dalam salat Jumat di Musalla Qom dan bersujud kepada Allah swt bersama dengan para jamaah lainnya.

Alonto melanjutkan: "Pergi ke masjid Jamkran, dan melaksanakan salat dan beribadah serta memberikan petisi ke situs suci Imam Zaman (af), adalah hal yang tak pernah bisa dilupakan. Saya mengenal Syiah dalam kata-kata Imam Khomeini (ra), dan saya mengenal Syiah lewat ucapan-ucapan beliau."

Dia menambahkan, menurut rencana, saya meninggalkan Iran dengan pesawat menuju Irak untuk mengunjungi tempat suci Najaf dan Karbala, tetapi seperti yang saya katakan, pemerintah Irak menahan diri untuk tidak mengeluarkan visa untuk paspor Filipina, jadi perjalanan saya berakhir di bandara Najaf, lalu saya kembali ke Dubai dan kemudian ke Manila. Saat pesawat terbang dari landasan pacu di Iran, saya merasa sedih karena saya meninggalkan tanah yang menjadi penyeru Ahlulbait Nabi (saw), dan sejak saya tiba di tanah air hingga saat ini, saya selalu kisahkan perjalanan tersebut kepada saudara-saudara pengikut Ahlulbait dan bahkan kepada umat Islam lainnya.

Warga Filipina itu menyatakan: "Saya bekerja di sebuah toko di Riyadh selama tiga tahun dari 2000 hingga 2003 M, tetapi pengalaman singkat saya di Iran sangat berbeda dari apa yang saya lihat di Arab Saudi selama hampir tiga tahun; di satu sisi, sebelum meninggalkan Teheran, saya menziarahi Shah Abdul Azim dan kemudian ke makam Imam Khomeini, pendiri Republik Islam Iran, yang kata-katanya mengubah jalan hidup saya.

 

http://iqna.ir/fa/news/3809185

Nama:
Email:
* Komentar Anda:
\