IQNA

9:37 - December 05, 2019
Berita ID: 3473675
MYANMAR (IQNA) - Uskup Agung Myanmar meminta para pemimpin negara ini untuk menghentikan kekerasan terhadap minoritas dan untuk menghormati para pengikut semua agama dan pelbagai suku di Myanmar.

Menurut laporan IQNA dilansir dari www.fides.org, Uskup Agung Gereja Katolik di Myanmar, Charles Maung Bo mengatakan kepada para pemimpin negara ini untuk menghentikan kekerasan. Yang kita butuhkan sekarang adalah perhatian kepada yang membutuhkan.

"Saya mendesak para pemimpin Myanmar untuk berdialog dengan semua kelompok etnis dan agama sebagai ganti dari kekerasan dan militerisasi guna menemukan solusi damai untuk konflik puluhan tahun dan sekali lagi kita merasakan perdamaian, keadilan dan koeksistensi," imbuhnya.

Uskup Agung Gereja Katolik di Myanmar, demikian juga dengan mengisyaratkan kasus kajian kejahatan terhadap Muslim Rohingya, yang akan segera diselenggarakan di Den Haag, menyerukan masyarakat internasional untuk memastikan bahwa hanya mereka yang melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan, bukan mereka yang tidak ikut campur tangan.

Perlu diketahui, pada 25 Agustus 2017, tentara Myanmar melancarkan serangan ke Rakhine (Arakan). Ribuan warga sipil Rohingya tewas dalam serangan itu, dan tentara Myanmar dan penganut ekstremis Buddha membakar sekitar 350 desa.

Menurut laporan terbaru PBB, jumlah Muslim yang melarikan diri dari kekerasan dari tentara Myanmar dan penganut ekstremis Buddha sejak 2017 dan mencari perlindungan di kamp-kamp dan tempat tinggal sementara di pinggiran Cox’s Bazar Bangladesh telah meningkat mencapai 725 orang, di mana 60% darinya adalah anak-anak. Demikian juga, PBB dan organisasi hak asasi manusia internasional telah menggambarkan kekerasan terhadap Muslim Rohingya di Myanmar sebagai "pembersihan etnis" dan "genosida".

 

https://iqna.ir/fa/news/3861477

Nama:
Email:
* Komentar Anda:
\