IQNA

15:37 - March 31, 2020
Berita ID: 3474083
TEHERAN (IQNA) - Dengan globalisasi penyakit Covid-19 dan krisis yang meluas telah menjangkiti yayasan intelektual manusia, peran agama dan lembaga keagamaan dalam menenangkan dan menenteramkan benak masyarakat di seluruh dunia menjadi semakin menonjo

IQNA melaporkan, Jason Opal, seorang profesor Amerika di Fakultas Sejarah dan Studi Klasik di Universitas McGill di Kanada, baru-baru ini menulis dalam sebuah artikel di surat kabar Globe & Mail: Saya tinggal di Montreal, Kanada di mana prinsip-prinsip pemisahan agama dari masyarakat dipatuhi dengan ketat. Satu-satunya tanda-tanda keagamaan yang saya lihat di sekitar saya adalah perempuan Muslimah dan berhijab, dimana undang-undang provinsi melarang kehadiran mereka di sekolah dan kantor pemerintah.

“Saya dan istri saya membesarkan anak-anak kami atas dasar kemanusiaan dan kejujuran, bukan prinsip agama. Kendati demikian, dalam situasi saat ini di mana krisis corona melanda dunia, saya mendapatkan ketenangan hanya dengan berdoa dan bermunjat,” imbuhnya.

Peran Para Pemimpin Agama dalam Krisis Corona

Meskipun ribuan acara keagamaan di seluruh dunia telah dibatalkan karena penyebaran corona, namun para pemimpin pelbagai agama telah berulang kali berupaya menenangkan para pengikut mereka dan melindungi mereka dari kecemasan dan tekanan yang disebabkan oleh penyakit tersebut. Baru-baru ini Paus meminta para pengikutnya untuk berdoa bagi mereka yang telah aktif di sektor layanan publik di Roma.

Dampak dan Efisiensi Para Pengikut Agama dalam Krisis Global Penyebaran Corona

Ayatullah Sayyid Ali Sistani, otoritas tertinggi Syiah Irak, juga baru-baru ini mengatakan bahwa staf medis sama pentingnya dengan orang-orang yang membela perbatasan tanah air mereka dan meminta masyarakat di negara ini untuk mendoakan para staf medis. Dewan Rabbi Eropa demikian juga memberi nasihat kepada sinagoge tentang bagaimana menanggapi penyebaran pandemi ini dan meminta masyarakat untuk tetap tenang.

Memerankan Komunitas Agama

Banyak kelompok agama terus memberikan layanan amal, termasuk menyumbangkan peralatan medis untuk masyarakat yang kurang beruntung, dan para pemimpin agama telah menyatakan keprihatinan tentang kelompok rentan. Badan amal Katolik di Italia masih aktif menjaga dapur umum bagi orang miskin dengan menjaga kebersihan, dan organisasi-organisasi Yahudi di California menggalang dana untuk keluarga berpenghasilan rendah, pengungsi dan lansia.

Pengaruh Ritual Keagamaan pada Corona

Banyak lembaga keagamaan menutup tempat ibadah atau membatasi pertemuan publik. Dalam langkah mengejutkan bulan lalu, Arab Saudi melarang orang asing masuk dan menghentikan perjalanan ke Mekkah dan Madinah untuk Umrah.

Dampak dan Efisiensi Para Pengikut Agama dalam Krisis Global Penyebaran Corona

Arab Saudi juga secara singkat menutup Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi saw di Madinah untuk disinfeksi. Banyak masjid telah membatalkan salat Jum'at, dan negara-negara seperti Kuwait, Malaysia, Iran, dan lainnya telah menyerukan agar orang-orang melaksanakan salat di rumah untuk saat ini. Perayaan Tahun Baru Buddha juga telah dibatalkan di seluruh Asia Selatan, dengan ribuan orang berkumpul untuk acara bermain air dan acara lainnya.

Dampak dan Efisiensi Para Pengikut Agama dalam Krisis Global Penyebaran Corona

Tetapi di India, meskipun Perdana Menteri Narendra Modi telah mendesak orang-orang untuk tidak berpartisipasi dalam pertemuan-pertemuan umum, ribuan orang dimana banyak dari mereka yang mengenakan masker bedah, berpartisipasi dalam perayaan Holi.

Dampak dan Efisiensi Para Pengikut Agama dalam Krisis Global Penyebaran Corona

Banyak acara keagamaan termasuk berjabat tangan atau mencium benda suci. Beberapa otoritas agama telah mengambil langkah-langkah untuk mencegah wabah. Sebagai contoh, Gereja Katolik Roma telah memulai siaran langsung doa harian Paus dan khotbah hari Minggunya. Demikian juga tayangan live acara keagamaan Gereja Nasional Washington telah menarik 25.000 penonton.

Dampak Acara Keagamaan di Masa Mendatang

Mungkin saja haji akan dibatalkan tahun ini. Sementara keputusan mungkin seperti itu membuat sedih hampir tiga juta Muslim yang berencana untuk berangkat pada tahun ini, akan tetapi peristiwa ini pernah terjadi sebelumnya. Sejauh ini ritual haji telah ditangguhkan sebanyak empat puluh kali, termasuk karena penyebaran kolera dan wabah.

Perayaan minggu suci seperti konferensi Palm Sunday (Minggu Palma) dan pawai GoodFriday akan menjadi yang pertama kalinya dalam sejarah modern dilaksanakan tanpa kehadiran orang banyak, meskipun acara tersebut dapat disiarkan secara langsung di televisi.

Perayaan Paskah dan bulan Ramadan, yang akan segera tiba, akan menghadapi perubahan besar karena kebijakan jarak sosial. Para peziarah yang berharap untuk mengunjungi situs suci Kristen, Yahudi dan Islam di Yerusalem, misalnya, harus siap untuk menanggung karantina dua minggu karena kemungkinan pembatasan perjalanan ke wilayah yang diduduki akan tetap berlanjut.

Dampak dan Efisiensi Para Pengikut Agama dalam Krisis Global Penyebaran Corona

Demikian juga selama Ramadan, acara bukber publik di masyarakat Muslim di seluruh dunia kemungkinan akan dibatalkan. (hry)

3888057

Nama:
Email:
* Komentar Anda:
* captcha:
\