IQNA

9:52 - November 23, 2021
Berita ID: 3476050
TEHERAN (IQNA) - Selama agresi Israel yang terbaru di Gaza, Doaa al-Ejla dipaksa menggugurkan janin dari program inseminasi buatan yang dia impikan sejak pernikahan. Ini membuat dia depresi hingga berbulan-bulan.

Menurut IQNA, terlepas pernikahan enam tahun dan upaya yang terus-menerus untuk hamil, Doaa tidak dapat hamil secara alami. Jadi, seperti halnya dengan perempuan Gaza lainnya, dia dan suami menempuh jalan membayar biaya inseminasi buatan untuk memenuhi impian mereka memiliki anak.

"Inseminasi buatan di Gaza menelan biaya 2.000 dolar AS (sekitar Rp 28,5 juta), tidak termasuk obat-obatan lebih lanjut yang diperlukan selama kehamilan. Tetapi biaya ini tidak terlalu berat jika dibandingkan dengan memiliki anak," kata Doaa seperti dikutip dari laman Al Araby, Senin (22/11).

Ia menambahkan, penembakan Israel di daerah yang tengah diperangi  mengakibatkan tekanan pada wanita hamil di Gaza. Banyak yang harus menggugurkan janin mereka sebagai akibatnya.

Pada Mei lalu, ketika serangan Israel menghujani Gaza selama 11 hari, dokter Doaa menginstruksikan perempuan tersebut menahan diri dari menonton berita katena takut hal itu akan memperburuk kesehatan dirinya dan janinnya. Tragisnya, ini membuat sang bayi tidak bisa bertahan lebih lama.

Setelah mendengar Israel akan meningkatkan serangannya, dia dan suaminya memutuskan meninggalkan rumah mereka di lingkungan berisiko Shujaiya yang beberapa mil jauhnya dari perbatasan Israel. "Kami berlari di jalan selama beberapa menit sampai kami menemukan seorang sopir taksi menuju ke jantung Gaza, tempat paman saya tinggal. Setelah dua hari, gedung yang kami tuju menjadi sasaran rudal drone di tengah malam, jadi kami tak punya pilihan lain selain berlindung di Rumah Sakit al-Shifa sampai matahari terbit," kata Doaa kepada Al Araby.

Pamannya kemudian memutuskan menyewa sebuah rumah di Jalan al-Wehda yang sebelumnya dianggap sebagai salah satu tempat tinggal yang lebih aman di Gaza selama tiga perang terakhir. Namun, sekali lagi keberuntungan tak berpihak pada mereka.

Setelah itu, Israel meratakan tiga bangunan tetangganya, menghancurkan infrastruktur di sekitarnya dalam proses tersebut. Serangan roket zionis itu menewaskan lebih dari 45 warga sipil.

"Itu adalah 15 menit terlama yang pernah saya alami di Gaza, rasanya seperti kiamat telah tiba. Saya tak bisa berhenti menangis, saya harus menjatuhkan diri ke pelukan suami saya dan berdoa kepada Tuhan untuk keselamatan kami," katanya.

Beberapa hari setelah gencatan senjata disepakati, Doaa mulai merasakan sakit yang parah di perutnya. Setelah itu, ia mengalami pendarahan kemudian menyebabkan keguguran. Sejak saat itu dia trauma karena kehilangan janinnya dan kesehatan mentalnya sangat menderita.

Pamannya kemudian memutuskan menyewa sebuah rumah di Jalan al-Wehda yang sebelumnya dianggap sebagai salah satu tempat tinggal yang lebih aman di Gaza selama tiga perang terakhir. Namun, sekali lagi keberuntungan tak berpihak pada mereka.

Setelah itu, Israel meratakan tiga bangunan tetangganya, menghancurkan infrastruktur di sekitarnya dalam proses tersebut. Serangan roket zionis itu menewaskan lebih dari 45 warga sipil.

"Itu adalah 15 menit terlama yang pernah saya alami di Gaza, rasanya seperti kiamat telah tiba. Saya tak bisa berhenti menangis, saya harus menjatuhkan diri ke pelukan suami saya dan berdoa kepada Tuhan untuk keselamatan kami," katanya.

Wanita Gaza Dipaksa Gugurkan Impian Jadi Ibu

Beberapa hari setelah gencatan senjata disepakati, Doaa mulai merasakan sakit yang parah di perutnya. Setelah itu, ia mengalami pendarahan kemudian menyebabkan keguguran. Sejak saat itu dia trauma karena kehilangan janinnya dan kesehatan mentalnya sangat menderita. (HRY)

Sumber: republika.co.id

Kunci-kunci: Wanita Gaza ، Gugurkan Impian ، Jadi Ibu
Nama:
Email:
* Komentar Anda:
* captcha: