IQNA

15:57 - May 11, 2022
Berita ID: 3476802
TEHERAN (IQNA) - Direktur Unit Penelitian Baqi’ Lembaga Penelitian Haji dan Ziarah, seraya mengingatkan bahwa penghancuran makam para nabi terus berlanjut di dunia berdasarkan pemikiran ekstremis Wahabisme, mengatakan: “Lebih dari sekadar konfrontasi militer dan emosional, konfrontasi ideologis dan rasional diperlukan untuk mengoreksi pemikiran ekstremis; konfrontasi militer dengan pemikiran ekstremis saja tidak cukup.”

Tanggal 9 Syawal bertepatan dengan hari peringatan penghancuran Makam Baqi’ (kehancuran total Makam Baqi’ terjadi satu kali pada tahun 1806 M dan satu kali pada tahun 1926 M; Sebuah makam dengan warisan agung dunia dan Islam yang dijarah dan dihancurkan karena bangkitnya kekuasaan para pendukung pemikiran ekstremis atas nama Islam.

Ketika Wahabisme memerintah Arab Saudi, di Makkah sejumlah kubah makam Abdul Mutthalib (as), Abu Thalib (as), Khadijah (as), tempat kelahiran Nabi (saw) dan Fatimah Az-Zahra (as), tempat ibadah rahasia Nabi (saw), makam Hawa di Jeddah dan makam-makam lainnya, dihancurkan dan kemudian pergi ke Madinah dan menutup kubah makam Nabi, dan itu semata-mata deklarasi perang dan ancaman negara-negara Islam yang mencegah penghancuran makam Nabi Islam. Wahabisme menghancurkan makam empat Imam Maksum (as) dan menjarah semua harta dan hadiah berharga yang memiliki nilai material dan sejarah yang sangat signifikan.

Penghancuran makam Imam Husein (as), pengulangan pemboman di haram Samarra, pemboman di haram Imam Ridha (as), penghancuran makam Hujr bin Adi, dll juga merupakan bencana, yang telah terjadi di dunia mengikuti ideologi Wahabi, tetapi pelajaran apa yang harus diambil oleh dunia Islam dari peristiwa tersebut?

Hujjatul Islam Nejati: Pengulangan Konstan Penghancuran Baqi’ di Dunia Islam

Hujjatul Islam Mohammad Said Nejati, direktur Unit Penelitian Baqi’ dari Lembaga Penelitian Haji dan Ziarah dan kepala Sekretariat Kongres Baqi’, mengatakan kepada IQNA dengan menjelaskan ibrah dan pelajaran dimana umat Muslim di seluruh dunia harus belajar dari bencana kehancuran Baqi’ dan berkata: “Kita tidak boleh berpikir bahwa penghancuran Baqi’ telah terjadi dalam sejarah dan sudah berakhir. ISIS tidak dapat menghancurkan situs keagamaan di Iran, tetapi menghancurkan ratusan tempat suci di Afrika Utara, Irak, Suriah, dan sebagainya.”

 “ISIS memiliki ideologi ekstremis yang didasarkan pada pembunuhan Muslim dan di Afghanistan, Pakistan, dll, ISIS masih membunuh Muslim dengan ideologi yang sama,” ucapnya. Dalam hal ini, Allamah Syarafuddin dalam salah satu proklamasinya yang dikeluarkan untuk penghancuran Baqi’ memperingatkan semua Muslim bahwa jika Anda tidak menghancurkan akar kanker ini dari masyarakat Islam, pertumpahan darah akan tertumpah kemudian dan kejahatan akan terjadi.

Hujjatul Islam Nejati di penghujung menyatakan konfrontasi militer dengan ISIS dan upaya para pembela Haram suci diperlukan di beberapa titik, tetapi lebih dari konfrontasi militer dan emosional, konfrontasi ideologis dan rasional diperlukan untuk mengoreksi pemikiran ekstremis; konfrontasi militer dengan pemikiran ekstremis tidak cukup. Penghancuran adalah lawan dari dialog, dan dasar penghancuran Baqi’ adalah tidak menghormati keyakinan orang lain. (HRY)

 

4055967

Nama:
Email:
* Komentar Anda:
* captcha: