IQNA

Makna Kekekalan Azab Orang-Orang Kafir di Akhirat

9:05 - May 16, 2023
Berita ID: 3478385
TEHERAN (IQNA) - Bagaimana azab orang kafir abadi di akhirat adalah salah satu topik yang dibahas di kalangan ulama. Persoalan ini menjadi semakin kentara ketika kita memperhatikan makna rahmat Allah yang maha meliputi dan menjadi agak sulit untuk menggabungkan keduanya.

Masalah kekekalan azab bagi orang kafir ada pada tafsir surah Hamdalah dan khususnya dalam memahami arti sifat Rahman dan Rahim Allah SWT. Jika sifat rahmat Allah mencakup semua hamba, bagaimana kekekalan azab beberapa orang kafir dapat dibenarkan berdasarkan ayat-ayat Alquran.

Sebagian telah berperantara niat orang kafir untuk membenarkan azab ini. Menurut klaim ini, karena mereka memiliki niat untuk melanjutkan dosa, hukuman juga berlanjut sesuai dengan niat ini. Kendati demikian, azab dan hukuman hanya menurut niat adalah bertentangan dengan syariat.

Untuk membenarkan hal ini, ada yang menafsirkan arti harfiah dari “Khulud” (menetap kekal di suatu tempat tertentu) dan menganggapnya sebagai jangka waktu yang panjang, karena beberapa dosa, seperti kekafiran yang dilakukan secara sadar dan terus menerus, adalah dosa besar, dan hukuman untuk itu adalah hukuman yang panjang. Namun, penafsiran ini tidak sesuai dengan Ushul Fikih. Di sisi lain, menurut sebagian orang yang berdasarkan ayat-ayat Alquran, keabadian tergantung pada kehendak Allah; artinya, mereka akan menderita selama Allah menghendaki.

Di sisi lain, dalam tafsir, seseorang harus bertopang pada prinsip dan mengabaikan cabang-cabangnya. Prinsip penting dalam tafsir ayat-ayat Alquran adalah bahwa Tuhan tidak zalim, dan juga memperhatikan fakta bahwa sistem dunia mengikuti prinsip kausalitas; dan memahami kekekalan azab menurut dua prinsip ini, tetapi apakah dosa seperti kekufuran mengarah pada hukuman kekal dan apakah ini konsisten dengan Tuhan yang tidak zalim atau tidak?

Mungkin di luar pemahaman kita. Faktor penting dalam konteks ini yang harus diperhatikan adalah pemahaman kita tentang makna kekekalan dengan mengingat bahwa kita adalah makhluk yang terikat oleh waktu; Namun di akhirat, apakah kita makhluk yang terikat oleh waktu atau melampauinya?

Jika kita berada di luar waktu dan kekekalan bukanlah masalah waktu, kita tidak dapat memiliki pemahaman yang benar tentangnya saat ini. Sama seperti kita tidak memiliki pemahaman yang benar tentang arti hukuman akhirat, baik itu fisik atau spiritual, tetapi tidak memahaminya dengan benar tidak berarti itu ada kesemuanya pada asalnya. Dengan kata lain, ketika berbicara akan pemahaman kita, kita harus memperhatikan batasan esensial yang melekat pada pemahaman ini, tetapi adanya batasan dalam pemahaman ini dan sebagai akibat kurangnya pemahaman yang benar tentang suatu bukan berarti bahwa itu tidak ada.

Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa masalah kekekalan azab adalah tidak sesuai dengan rahmat dan kasih sayang Allah secara lahirian. Ketidakmampuan kita untuk membenarkan kesesuaian ini seharusnya tidak berarti meragukan sifat rahman dan rahim Allah, dan kita harus mencoba memahaminya dalam kerangka prinsip kausalitas dan ketidakzaliman Tuhan. Namun karena keterbatasan pemahaman kita tentang urusan akhirat, ketidakmampuan kita untuk membenarkan ketidaksesuaian ini dan menyelesaikannya, bukan berarti bahwa keduanya sebenarnya tidak sesuai. Oleh karena itu, ditekankan untuk bersandar pada prinsip-prinsip dalam menghadapi persoalan-persoalan sulit tersebut dan menyadari keterbatasan pemahaman kita.. (HRY)

captcha