Menurut Iqna, sejarah agama-agama ilahi menunjukkan bahwa wanita selalu hadir dalam konteks perkembangan spiritual dan sosial yang besar. Berbeda dengan beberapa narasi yang menyimpang dan meminggirkan peran wanita, Alquran dalam banyak kasus memperkenalkan wanita sebagai teladan yang hebat dalam hal iman, perlawanan, dan transformasi.
Pesan isi kedua Muharram dalam buku Saku-e Parwoz, yang menekankan hakikat Alquran yang sama, adalah bahwa wanita merupakan pembawa panji medan perang gabungan, dan ia percaya bahwa dalam pertempuran kemauan dan peperangan kognitif, peran wanita lebih menentukan daripada di banyak bidang lainnya.
Teladan Alquran bagi Semua Orang Beriman
Fokus pesan ini adalah ayat 11 dan 12 surah At-Tahrim, di mana Allah memperkenalkan dua wanita hebat dalam sejarah sebagai teladan bagi semua orang beriman:
«وَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِینَ آمَنُوا امْرَأَةَ فِرْعَوْنَ...»
Dan Allah membuat isteri Fir'aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman,
Dan
«وَ مَرْیَمَ ابْنَتَ عِمْرَانَ...»
Dan (ingatlah) Maryam binti Imran
Patut dicatat bahwa Alquran tidak mengatakan bahwa kedua wanita ini adalah teladan bagi wanita beriman; melainkan, Alquran memperkenalkan mereka sebagai teladan bagi "semua orang beriman". Interpretasi ini menunjukkan bahwa kriteria nilai dalam logika Alquran bukanlah gender; melainkan iman, ketekunan, dan kesetiaan kepada kebenaran.
Asiyah; Berdiri di Jantung Istana Firaun
Istri Firaun digambarkan sebagai teladan iman dalam situasi di mana ia hidup di jantung salah satu pemerintahan paling tirani dalam sejarah. Dalam lingkungan yang penuh penindasan, politeisme, dan kesombongan, ia memilih jalan kebenaran dan bersedia menanggung siksaan paling berat untuk mempertahankan imannya.
Teladan ini menunjukkan bahwa bahkan dalam kondisi budaya dan politik yang paling kompleks sekalipun, seseorang dapat berdiri teguh pada iman dan identitas ilahi.
Maryam (as); Simbol Kesucian dan Ketabahan
Tokoh panutan kedua yang diperkenalkan oleh Alquran adalah Maryam (sa); seorang wanita yang, meskipun menghadapi tekanan sosial, tuduhan, dan banyak kesulitan, tidak meninggalkan jalan untuk melayani Allah.
Dalam logika Alquran, Maryam (sa) adalah simbol kesucian, kepercayaan pada janji ilahi, dan ketahanan terhadap tekanan sosial; karakteristik yang dibutuhkan setiap komunitas beriman untuk mempertahankan identitasnya.
Asyura dan Peran Luar Biasa Wanita
Di antara peristiwa-peristiwa dalam sejarah Islam, mungkin tidak ada peristiwa lain yang mengungkapkan peran penting wanita sebanyak Asyura. Jika Imam Husein (as) menjaga gerakan ini tetap hidup dengan darahnya, Sayyidah Zainab (sa) mengabadikannya dengan riwayat dan jihad penjelasannya.
Banyak cendekiawan percaya bahwa jika bukan karena khutbah-khutbah yang mencerahkan dari Sayyidah Zainab (sa) di Kufah dan Syam, rezim Umayyah mungkin telah memaksakan narasi yang menyimpang pada opini publik.
Oleh karena itu, Asyura menunjukkan bahwa wanita tidak hanya hadir dalam konteks lapangan, tetapi terkadang nasib akhir suatu gerakan terkait dengan peran mereka.
Model Ketiga Wanita Muslim
Salah satu konsep yang ditekankan dalam pesan ini adalah “Model Ketiga Wanita Muslim”; sebuah model yang tidak menjadikan wanita sebagai makhluk terisolasi, jauh dari masyarakat, dan juga tidak menjadikannya komoditas yang melayani budaya konsumerisme.
Dalam pandangan ini, seorang wanita mukmin, sambil menjaga martabat dan kesuciannya, hadir dalam konteks masyarakat, memainkan peran, menciptakan generasi, dan berpengaruh dalam perubahan sosial.
Kesimpulan
Pesan kedua Muharram, yang berpusat pada ayat-ayat surah At-Tahrim, mengingatkan kita pada fakta bahwa wanita telah menjadi pemain utama dalam banyak perkembangan besar dalam logika Alquran dan sejarah Islam. Dari Asiyah dan Maryam (sa) hingga Sayyidah Zainab (sa), mereka semua telah menunjukkan bahwa iman, ketekunan, dan jihad penjelasan dapat mengubah nasib suatu masyarakat. Oleh karena itu, wanita tidak berada di pinggir lapangan, tetapi dalam konteks pertempuran antara hak dan batil, dan mereka dapat menjadi pembawa panji gerakan-gerakan ilahi yang besar. (HRY)