IQNA

10:46 - August 16, 2026
Berita ID: 3484034
Pelajaran dari Beografi Nabi (saw)

Jalan untuk Tidak Memenuhi Hak-hak Orang Lain Tertutup bagi Umat Islam

IQNA - Dengan memenuhi hak-hak orang lain -bahkan mereka yang bukan Muslim- serta mendapatkan izin mereka, Nabi Muhammad (saw) menutup celah bagi alasan atau pembenaran apa pun bagi pihak-pihak yang gagal memenuhi hak-hak tersebut; melalui sikap demikian, beliau telah menegakkan argumen yang tak terbantahkan di hadapan siapa pun.

Pelajaran dari Beografi Nabi

Hujjatul Islam Alireza Ghobadi, seorang sosiolog dan pakar agama, mengulas kembali aspek-aspek yang terabaikan dalam kehidupan Nabi Muhammad (saw) melalui serangkaian ceramah yang menyajikan perspektif baru dan praktis.

Rasulullah (saw) jatuh sakit empat belas hari sebelum akhir hayatnya yang mulia. Pada salah satu hari saat beliau sakit, beliau memasuki masjid dengan dipapah oleh Ali (as) dan Fadhl bin Abbas; seraya berpidato, beliau memberitahukan perihal kematiannya kepada orang banyak dan bersabda, "Jika aku pernah berjanji kepada siapa pun, hendaklah ia menyampaikannya kepadaku agar aku dapat memenuhinya; dan siapa pun yang memiliki tuntutan dariku, hendaklah ia menyampaikannya agar aku dapat memenuhinya."

Tiga hari sebelum wafatnya, saat beliau sedang sakit parah, beliau kembali mendatangi masjid dan bersabda: "Siapa pun yang memiliki hak untuk menuntut pembalasan dariku, hendaklah ia berdiri dan menyatakannya, karena pembalasan di dunia ini lebih ringan daripada pembalasan di Hari Kiamat". Saat itu, Sawadah berdiri dan berkata, "Ketika engkau kembali dari Perang Thaif dan hendak mencambuk kudamu, cambuk itu mengenai tubuhku (bagian perut); kini aku ingin membalas pukulan tersebut". Nabi (saw) memerintahkan agar cambuk yang sama diambil dari rumahnya supaya pembalasan itu dapat dilaksanakan. Beliau kemudian menyingkap pakaiannya dan bersiap menerima pembalasan. Namun, ketika Sawadah melihat tubuh mulia Nabi, ia justru membungkuk dan mencium perut Nabi. Pada saat itu, Nabi mendoakan Sawadah seraya bersabda, "Ya Allah, ampunilah dia sebagaimana ia telah memaafkan Nabi-Mu."

Ketika Nabi (saw) -dengan kedudukan yang begitu mulia dan meski telah dijanjikan Surga-berupaya memenuhi hak-hak orang lain, bahkan terhadap mereka yang bukan Muslim, alasan apa yang dapat dikemukakan orang lain di hadapan Allah atas kegagalan mereka dalam memenuhi hak-hak sesama?

Bagaimana mungkin seseorang mengaku mengikuti Nabi (saw) namun merasa memiliki hak atas orang lain tanpa meminta izin mereka? Tampaknya, dengan cara memenuhi hak-hak orang lain -bahkan mereka yang bukan Muslim- serta meminta izin mereka, Nabi (saw) telah menutup celah bagi segala alasan atau pembenaran bagi mereka yang lalai memenuhi hak-hak tersebut; melalui sikap demikian, beliau telah menegakkan bukti yang tak terbantahkan di hadapan siapa pun. (HRY)

 

4369761

captcha