Muhammad Bahauddin, Ketua Pusat Kebudayaan Iran di Mali, Afrika dalam wawancara via telphon dengan Iqna mengatakan, hal itu dan menambahkan, bahwa di dalam hadits-hadits banyak yang menekankan keharusan melihat hilal (rukyah) sehingga bisa dipahami, bahwa hanya dengan rukyah sajalah awal dan akhir sebuah bulan bisa ditentukan.
Dalam sebuah hadits Nabi bersabda; berpuasalah kalian di saat melihat hilal dan berhentilah berpuasa (berlebaranlah) di saat melihat hilal, maka jika hilal itu terlihat dalam satu kota, maka kota dan negara yang memiliki kesatuan malam dan hari dengannya bisa untuk menjadikannya sebagai barometer dan ikut dalam penetapam awal bulan.
Bahkan menurutnya sekalipun mereka yang berada di ufuk yang berbeda, namun bisa mengetahui situasi dan kondisinya dengan mudah, maka bisa juga untuk mengikutinya. yang tentu saat ini dengan bantuanberbagai alat dan media semua itu bisa terlaksana.
Saat ini di saat kaum muslimin tidak memiliki satu imam, maka penetapan hilal oleh orang yang bisa diterima secara syar'iy oleh seorang pemimpin sekalipun bukan pemimpin spiritual, bisa dijadikan sebagai pegangan yang bisa diikuti oleh kaum muslimin lainnya yang berada di beberapa tempat yang berdekatan
Bahauddini tidak bisa menerima lagi apa yang terjadi zaman dahulu kala adanya perbedaan hari raya karena saat itu belum ada alat dan media yang dapat menginformasikan dengan cepat dari satu negara ke negara lain.
Perbedaanhari raya dari satu tempat ke tempat lain merupakan kontrasidiksi dengan kemuliaan kaum muslimin sebagai umat yang satu. di dalam doa-doa pun kita lihat bahwa hari raya seharusnya adalah satu, sebab disebutkan sebagai hari kemuliaan bagi seluruh kaum muslimin.
Tentu ini adalah pendapat yang tidak diyakini oleh sebagian fukaha yang mengharuskan kesatuan ufuk dan tidak lagi memperhatikan kesatuan malam atau siang.
174368