Dr. Behruz Sarwatiyon, seorang pakar bahasa dan mantan Guru Besar di Universitas Tabriz dalam wawancaranya dengan Iqna mengatakan hal itu dan menambahkan, bahwa saat ini banyak di antara terjemahan Al Quran yang berbeda-beda anatara satu penerjemah dengan lainnya, karenanya para penganalisa dan pengkiritik terjemahan Al Quran diharapkan untuk meluangkan waktu yang cukup untuk melaksanakan tugasnya.
Menurut keyakinannya terjemah Al Quran yang paling sempurna saat ini adalah Al Quran terjemah yang ditulis oleh Muhammad Mahdi Fuloduwand, karena beliau dalam menerjemahkan setiap kata selalu mengembalikannya kepada bentuk asli dan akar katanya.
adapun buku yang memuat kritikan atas berbagai kitab tafsir dan Al Quran terjemah adalah buku yang berjudul Kasyful Asrar karya Miybudiy, tambahnya.
Editor Kumpulan Syair Hafidz ini menyebutkan ayat 72 dari surah Al Ahzab dimana Allah menceritakan tentang sifat manusia yang dhalim dan bodoh, manusia yang mau menerima amanah yang telah ditolak oleh langit dan bumi dengan mengatakan, bahwa ayat tersebut mengharuskan untuk melakukan kritik kepada manusia karena disifati dengan kedhaliman dan kebodohan oleh Allah SWT.
Beliau memperumpamakan kritik itu seperti pohon delima yang memiliki daun dan buah namun juga memiliki duri, maka kritik itu juga ada yang positif dan ada yang negatif.
karenanya yang beliau harapkan para pengkritik itu bersikap jujur dan memiliki motivasi yang baik bukan demi kepentingan pribadi atau lainnya.
194119