Dr Gholam Ridha Dzukyani, anggota senat dan guru besar universitas Tabatabai, Tehran menyebutkan hal itu dalam wawacanra dan diskusinya dengan Iqna yang mengambil tema kedudukan akal dan argumentasi di dalam Al Quran.
Pakar logika, filsafat dan teologi ini di saat menjawab pertanyaan apakah akal dan argumentasi logis di dalam Al Quran itu digunakan secara mandiri atau sekedar penguat saja, mengatakan, bahwa Al Quran sebagai kitab suci yang diturunkan untuk agama terakhir dan penutup seluruh agama, maka haruslah bisa menjawab berbagai permasalahan dan pemikiran hingga hari kiamat dan tidak lagi terbatas pada zaman dan tempat tertentu.
Karenanya setiap orang dari pintu manapun dan dari disiplin manapun bisa menyelami lautan luas Al Quran dan mendapatkan apa yang ia cari. jadi tidak benar keyakinan yang mengharuskan kita memahami Al Quran hanya melalui pintu filsafat atau Irfan saja, tegasnya.
Penulis buku "Seni Beragumentasi" ini juga menegaskan, bahwa karena Al Quran adalah kitab yang abadi yang harus menjawab seluruh pandangan sepanjang sejarah, maka tidak ada yang berhak untuk menolak pemikiran tertentu serta asumsi tertentu yang akan dipakai untuk memahami Al Quran.
Walaupun demikian pada saat yang sama saya meyakini, bahwa Al Quran sendiri juga menawarkan kepada kita metode dan asumsi awal untuk memahami dan menyelaminya, tambahnya.
Dr Gholam Ridha lebih lanjut menjelaskan, bahwa Al Quran telah menyandarkan pada argumentasi logika dalam hal membuktikan kenabian Nabi Muhammad dan kebenarannya, sebab tidak mungkin Al Quran mengharuskan mereka yang belum beriman kepada Nabi untuk mengikuti doktrin Nabi dan mempercayainya sebagai Nabi.
Selain itu kita dapatkan juga beberapa ayat yang dengan jelas menyatakan, bahwa barometer kebenaran dan kemuliaan orang yang mengikutinya adalah akal, seperti ayat yang berbunyi: Fabasysyir ibadiyal ladziyna yastamiy'unal qawla wa yattabi'una ahsanahu, maka berilah kabar gembira hamba-hamba-Ku yang mendengarlan berbagai pandangan dan pemikiran serta mengikuti yang terbaik darinya.
Selanjutnya menjawab pertanyaan manakah yang benar membuktikan kebenaran Al Quran dengan kejujuran Nabi dan keyakinan bahwa beliau sebagai Nabi ataukah kita meyakini kebenaran Nabi Muhammad itu sebagai Nabi dari Al Quran. beliau mengatakan yang benar adalah dari yang kedua, yakni dari Al Quran itulah kita bisa membuktikan kebenaran kenabian Nabi Muhammad saw.
Bisa saja, menurutnya dengan pendekatan sosiologis dan psikologis Anda memiliki teori bahwa karena kejujuran dan akhlak Nabi yang begitu agung, maka umat di saat itu memiliki ketertarikan pada Nabi. namun hal itu tidak membuktikan kebenaran kenabian beliau.
Memang kita sebagai manusia diciptakan dengan kecendrungan untuk memiliki keterterikan pada sifat-sifat yang baik dan akhlak terpuji, namun sekali lagi itu tidak bisa menjadi bukti logis atas kebenaran klaim beliau sebagai Nabi, tegasnya.
199567