Namun, gerakan mereka di belakang layar menyiratkan sesuatu yang berbeda. Sementara banyak negara menganggap keputusan Mesir untuk mencabut kesepakatan gas dengan Israel sebagai ancaman bagi perdamaian. Namun para pejabat Israel terus berusaha menganggapnya sebagai masalah ringan agar tidak terkesan sebagai isu diplomatik yang penting.
Namun di balik adegan pertemuan dan negosiasi antara pejabat Israel dan Mesir membuktikan bahwa masalah itu adalah masalah politik yang signifikan.
Suatu hari setelah Perusahaan Gas Alam Mesir mengumumkan telah memotong pasokan gas ke Israel, seorang pejabat senior dalam pemerintahan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melakukan kunjungan singkat ke Kairo untuk membahas keputusan tersebut. Juga, atas permintaan kementerian luar negeri Israel, duta besar Mesir untuk Israel Yasser Radda bertemu dengan wakil menteri luar negeri Israel.
Kemudian, Menteri Luar Negeri Jerman Guido Westerwelle meminta Kairo untuk tetap berkomitmen dalam perjanjian perdamaian dengan Israel. Dia juga mendesak Kairo untuk mencegah sengketa ekspor gas beralih ke isu politik.
Diputusnya pasokan gas tampaknya membuat Israel kesulitan, karena mereka telah meminta Amerika Serikat untuk campur tangan dan mendesak Mesir untuk membalikkan keputusannya. Mahmoud Qazlan, juru bicara Gerakan Ikhwanul Muslimin Mesir telah memperingatkan AS tidak ikut campur dalam masalah ini.
Di era Mubarak, Al-Ahram memberitkan bahwa pemerintah Mesir dilarang mengambil langkah-langkah tertentu karena mereka dianggap berbahaya bagi Israel. Oleh karena itu, kesepakatan pembatalan gas dalam beberapa pekan terakhir adalah masalah besar bagi Israel.
998698