Sayid Hasan Nashrullah, sekjen Hizbullah Lebanon hari Rabu malam kemarin dalam sebuah acara kelulusan murid-murid anak syuhada di Beirut Selatan mengatakan: "Ketika kita sudah berbicara tentang syuhada, kita teringat para pejuang yang berkorban dalam satu perjuangan dan gugur di jalan Tuhan."
Sekjen Hizbullah yang menghadiri acara tahun ketiga peringatan yang berlangsung tiap tahun berturut-turut dan dihadiri oleh puluhan anak-anak Syuhada mengatakan: "Kita sekarang berada untuk mengenang para syuhada dan menghibur keluarga-keluarga yang telah terbakar hatinya akibat kehilangan orang tercinta. Namun pertanyaannya, mengapa tak ada hentinya kita semua menyerahkan jiwa dan raga ini di jaan Allah swt?"
Tentang para syuhada Sayid Hasan Nashrullah mengatakan: "Hari ini kita mengingat hari-hari pertama perjuangan kita yang sampai-sampai saat itu kita disebut sebagai orang gila."
Ia menambahkan: "Syuhada kami adalah para pejuang yang menyadari bahwa tanah airnya dijajah oleh Israel dan mereka dengan sepenuh hati mengorbankan dirinya demi terusirnya para penjajah dan sejahteranya hidup anak cucu mereka."
"Budaya yang dipelihara para syuhada, hingga saat ini terus dihidupkan oleh keluarga-keluarganya dan diajarkan kepada anak-anak mereka. Pelajaran yang mengajak kita untuk rela dengan keridhaan Allah swt.", demikian tambahnya.
Sayid Hasan Nashrullah menambahkan: "Hari ini banyak yang mengatakan bahwa Hizbullah berada dalam keterpojokan dan kesulian. Namun kami katakan bahwa mereka berkata seperti itu hanya berdasarkan pemikiran mereka sendiri. Karena terbukti kita tidak pernah mundur dan lengah sedikitpun dalam perjuangan ini."
Ketua Hizbullah itu menjelaskan: "Di perang Juli tahun 2006 sebagian pihak menyangka bahwa kekuatan kita sedang terancam kepunahan. Namun berkat pertolongan Tuhan dan bimbingan Ilahi, kita terus berjuang hingga akhirnya menuai kemenangan ini."
Ia menyatakan: "Iman kepada Tuhan membuat kita rela mengorbankan orang-orang yang kita sayangi demi berjuang di jalan-Nya. Iman inilah yang memberi kita harapan untuk terus berjuang; meskipun jumlah kita sedikit dan musuh kita sangat amat banyak."
Sayid Hasan Nashrullah menekankan: "Puji syukur Tuhan yang telah memberikan kita nikmat iman ini, yang merupakan kunci kemenangan kita di dunia dan di akherat. Iman inilah yang memberi mereka kekuatan dan keberanian melawan segala kekuatan musuh di saat perang Juli 2006. Kisah-kisah syuhada kita perlu diriwayatkan dan diceritakan kepada anak cucu kita."
Sekjen Hizbullah Lebanon dalam acara tersebut juga menyinggung masa-masa peran Iran dan Iraq yang mana Iran dikepung secara tidak adil oleh musuh-musuhnya. Ia mengatakan: "Pemuda-pemuda Iran berada di bawah himpitan tekanan yang sangat dahsyat selama perang Iran dan Iraq. Selama delapan tahun mereka dikepung hingga satu jarum pun tak bisa masuk dari luar ke dalam Iran. Namun dengan seburuk apapun keadaannya, mereka tetap berjuang hingga titik darah penghabisan selama delapan tahun penuh."
Ia kembali berkata: "Kini kita sedang berperang dengan bentuk lain dari perang-perang biasanya, yang mana Imam Ali Khamene'i menyebutnya dengan sebutan "perang lunak", yang dipimpin oleh Amerika dan Israel.
Ia menambahkan: "Mereka, Amerika dan Israel, telah menyadari bahwa mereka takkan mampu melawan kita dengan kekuatan. Oleh karena itu mereka menjalankan taktik perang lunak, dengan perang ini mereka berusaha merubah pola pikir kita, merubah iman kita, sehingga kita tak lagi memiliki orang-orang seperti Ali dan Muhammad Anisi (dua syahid yang dikenal oleh beliau dalam acara tersebut)."
Sekjen Hizbullah Lebanon menekankan: "Artinya mereka faham jika mereka dapat menguasai pemikiran dan iman kita, maka mereka tak lagi membutuhkan senjata apapun untuk mengalahkan kita."
Ia menjelaskan lebih lanjut: "Media-media dan kanal-kanal parabola adalah jalan mereka untuk menyusupkan pesan-pesan mereka yang merusak iman. Dengan jalan itulah mereka berusaha meremehkan nilai-nilai yang kita junjung dalam hidup beragama ini."
Ia menambahkan: "Media-media tersebut berusaha merasuki pikiran pemuda-pemuda kita agar kehilangan imannya, sehingga masyarakat kita menjadi orang yang berfikiran lemah, yang hanya hidup untuk mencari sesuap makanan saja."
Sayid Hasan Nashrullah menekankan: "Kita memerlukan pertahanan dengan bentuk lain pula untuk memenangkan perang ini. Yaitu pertahanan pemikiran, budaya dan iman. Karena iman inilah yang telah mengantar kita kepada kemenangan-kemenangan yang kita raih sebelumnya."
Ia berpesan kepada anak-anak para syuhada yang hadir dalam acara tersebut: "Kalian tidak kehilangan orang tua kalian. Allah telah memilih mereka, dan mereka telah memilih-Nya. Mereka telah menjalankan tugas-tugas mereka. Kini tugas kita adalah melanjutkan jalan mereka. Mari kita bergegas di jalan keimanan dan ketakwaan serta berjanji kepada-Nya untuk menolong agama-Nya.
Sayid Hasan Nashrullah menyatakan penghormatannya kepada para istri syuhada yang telah bersabar menahan derita hidup tanpa orang-orang tercinta mereka. Ia berpesan kepada mereka bahwa ketabahan itu adalah bekal mereka untuk meraih kebahagian hakiki di akherat nanti.
Ia berkata kepada keluarga-keluarga Syuhada: "Bertabahlah dalam menhadapi kesulitan-kesulitan ini, karena semua kesusahan ini bakal berlalu cepat dan kemenangan tiada batas akan menjadi milik kita."
Sumber: Al-Manar
1062999