IQNA

7:11 - February 08, 2016
Berita ID: 3470136
PAKISTAN (IQNA) - Dengan meningkatnya hasrat masyarakat di negara-negara Barat untuk menelaah Al-Quran, Pakistan telah berubah menjadi sebuah kelompok besar untuk kursus-kursus edukasi Islam online.

Menurut laporan IQNA, seperti dikutip dari Express Tribune, edukasi dari balik ribuan kilometer jarak, dengan menggunakan teknologi terkini, seperti Skype sedang membooming, karena tidak adanya masjid dan markas-markas Islam yang memadai di Barat untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang sedang berkembang tersebut.

Osman Zuhur Ahmed, penanggung jawab situs ReadQuranOnline mengatakan, masyarakat Amerika, Kanada dan Britania senantiasa mengatakan kepada kami bahwa kami memiliki masjid, kami memiliki fasilitas-fasilitas yang memadai, namun kami tidak memiliki kelas-kelas edukasi khusus.

"Dalam kondisi sekarang ini, mereka hendak mengetahui edukasi apakah yang diberikan kepada anak-anak mereka. Mereka menginginkan edukasi-edukasi ini dikerjakan di rumah dan di bawah pengawasan penuh kedua orang tua mereka,” imbuhnya.

Ahmed mengelola markas edukasinya 8 tahun silam hanya dengan dua pekerja dan sedikit murid. Sekarang ini ia memiliki 22 pengajar, yang setiap malam mengajari 320 murid, dimana 40% dari mereka tinggal di Amerika.

Menurut penuturan Shekib, saudara Ahmed, yang membantu mengatur markas ini, yang terletak di bawah tanah rumah Ahmed, terdapat lebih dari 50 markas serupa di Pakistan, yang salah satu darinya minimal memiliki lebih dari seribu murid.

Safir Ahmed, 20 tahun dan salah satu pengajar markas ini mengatakan, saya baru-baru saja mendapatkan pelatihan, namun saya merasa memiliki kewajiban untuk berupaya memublikasikan dan mengajarkannya kepada selainnya.

Meskipun lembaga-lembaga penegak hukum di Eropa dan Amerika mengingatkan akan bahaya tendensi Barat akan ekstremisme lewat internet, Ahmed mengatakan, kekhawatiran tentang ekstremisme online akan bisnis undang-undang internet yang menghubungkan para siswa dengan para pengajar online dan mengajarkan pendahuluan-pendahuluan Islam, tidaklah terlalu berkaitan.

Markas dengan imbalan 25 Dollar perbulan ini menyelenggarakan 5 pertemuan 30 menit dalam sepekan. Pertama-tama mengajarkan bacaan sahih ayat-ayat Al-Quran. Demikian juga melaksanakan edukasi tutorial praktik ibadah, seperti salat. Setelah pelajaran-pelajaran tersebut sampai pada terjemahan dan tafsir Al-Quran, maka penyempurnaannya membutuhkan penyelenggaraan kelas-kelas harian selama 8 tahun.

"Mereka perbulan mendapatkan 6-8 ribu Dollar dari 320 muridnya dan 100-220 Dollar diberikan kepada pengajarnya,” ucap Ahmed.

Meski jumlah markas-markas edukasi Islam online sedang berkembang, Ahmed mengatakan bahwa perkembangan ini tidak memerlukan persaingan pikiran.

"Sampai tahun 2100, 3 milyar muslim di seluruh penjuru dunia akan hadir, dengan membentuk pasar-pasar kami. Apa yang dibutuhkan adalah satu komputer, satu mikrofon, headphone dan Skype.

Shaukatullah Khattak, pemilik salah satu hauzah religi di barat laut Pakistan dengan mengungkapkan kepuasaan akan aktivitas-aktivitas tersebut mengatakan, akademi Al-Quran online telah mengetengahkan pelayanan-pelayanan baik dan banyak anak-anak kecil di Barat yang menyukainya.

Meski demikian, Edgar Hopida, Jubir populasi Islam utara Amerika mengatakan, pemfokusan komunitas muslim Amerika adalah pembangunan lembaga-lembaga edukasi di negara mereka masing-masing. Kami tidak melihat masyarakat mendatangi Pakistan atau negara-negara lainnya untuk mempelajari Al-Quran. Pembelajaran di sini, di Amerika sangatlah gampang.

http://www.iqna.ir/fa/news/3473204


Nama:
Email:
* Komentar Anda:
* captcha:
\