IQNA

Tamu Luar Negeri Konferensi Persatuan:
23:24 - November 28, 2018
Berita ID: 3472697
IRAN (IQNA) - Sejumlah ilmuwan dan ulama pada konferensi internasional persatuan Islam ke-32 dalam acara penutupan konferensi ini menekankan perlunya menyusun peta jalan bersama untuk merealisasikan persatuan di antara umat Islam dan mengembalikan Quds dalam dekapan dunia Muslim.

Menurut laporan IQNA, acara penutupan konferensi Persatuan Islam ke-32 diadakan Senin sore (26/11) dengan dihadiri Ali Larijani, Ketua Majelis Permusyawaratan Islam Iran, di auditorium konferensi internasional IRIB.

Para anggota Presidium dan beberapa tamu luar negeri dalam acara itu menyampaikan presentasi sebagai berikut:

Wakil Ketua Impelemtasi Afganistan: Takfir adalah alat kolonialisme untuk menciptakan perpecahan

Mohammad Husain Mohagiq, wakil kepala eksekutif negara Afganistan, dalam pidatonya mengatakan: “Saya sangat senang karena dapat hadir di tengah-tengah para ulama dan tokoh-tokoh terkemuka dunia. Persatuan antara Umat Islam adalah masalah terpenting agama dan Islam yang ditekankan oleh Nabi Muhammad (saw) dan Alquran.”

Dia menambahkan, dalam hadis, persatuan dianggap sebagai kebutuhan esensial. Ada yang mencoba membuat umat Muslim tercerai berai dan mendominasi mereka. Hari ini, di setiap negara Islam, musuh-musuh dunia Islam sedang bekerja dan mereka berupaya memakai prinsip "tebarkan perpecahan dan berkuasalah" untuk menciptakan perpecahan di kalangan kaum Muslim. Jika umat Islam masing-masing dari setiap agama dan mazhab bersatu, masalah Muslim dapat diselesaikan dan dimengerti.

Mohammad Husain Mohaqiq menyatakan, para kolonis, dikarenakan menemukan bahwa mereka tidak bisa lagi memecah belah Muslim, maka mereka mengambil jalan takfir. Mereka mengupah sebuah komunitas untuk mengkafirkan Muslim dan menghalalkan pertumpahan darah dan penjarahan harta benda mereka. Puncak gerakan Takfir ini berasal dari tahun 2000 ke atas, dimana menemukan orang-orang untuk memecah belah dan melemahkan ekonomi negara-negara Islam dan menghilangkan pengaruh mereka.

“Hari ini, semua Muslim di dunia terbangun dan berdiri melawan mereka. Afganistan bagian dari dunia Islam kadang-kadang terbakar di api komunisme dan kadang-kadang di api terorisme. Di negara kita, ada juga jejak musuh-musuh Islam. Kelompok teroris ISIS aktif di Afganistan sejak tiga tahun lalu. Mazhab-mazhab Islam tidak luput dari penindasan mereka. Tujuan mereka adalah menciptakan perpecahan antara Syi'ah dan Sunni,” imbuhnya.

Wakil Ketua Eksekutif Afganistan mengatakan, hari ini, Quds adalah poros persatuan umat Islam, dan tidak ada seorangpun yang dapat melalaikan Muslim dari hal ini. Kami mengajak umat Islam untuk mengawasi dilema Takfir dan tidak melupakan arti penting Quds. Tugas kaum Muslim adalah mengembalikan Quds kepada orang-orang Palestina yang tertindas.

Wakil Ketua Majma al-Fiqh India: Realisasi persatuan membutuhkan hasrat kuat para ulama dunia Islam

Mohammad Amin Osmani, wakil ketua majma’ al-Fiqh India, mengatakan: “Persatuan antara Muslim adalah hal yang dipedulikan oleh Iran.”

Muslim India, yang memiliki lebih dari 200 juta orang, mendukung Muslim lainnya di dunia. Iran telah menegaskannya.

Dia menambahkan, para cendekiawan dan ulama dari dunia Islam tahu bahwa perealisasian persatuan membutuhkan upaya mereka dan ini akan terealisasikan dalam naungan tekad dan hasrat yang kuat.

 

http://iqna.ir/fa/news/3767254

 

 

Nama:
Email:
* Komentar Anda:
\