IQNA

Wawancara IQNA dengan Pendiri Università Islamica d'Italia:
21:42 - January 02, 2019
Berita ID: 3472786
ITALIA (IQNA) - Pendiri Universitas Islam Italia pertama percaya bahwa dalam kondisi intensifikasi baru-baru ini Islamofhobia di Italia dan kedatangan gelombang imigran dari Afrika dan Timur Tengah ke negara itu telah menimbulkan kekhawatiran, pendirian universitas ini merupakan langkah penting dalam membangun dialog dan saling pengertian antara para pengikut agama Kristen dan Islam.

Giampiero Paladini (58) dibesarkan dalam keluarga Katolik, tetapi setelah bertahun-tahun penelitian, ia memeluk Islam pada tahun 2012. Ia mendirikan Università Islamica d'Italia pertama di 2015 setelah upaya yang panjang.

Dalam sebuah wawancara dengan IQNA dia mengatakan tentang motivasinya untuk mendirikan universitas dan masalah yang dia hadapi di jalan ini.

Adanya Masalah Ideologis dalam Masyarakat Barat

Dalam menanggapi pertanyaan tentang bagaimana ia terbiasa dengan Islam, Paladini mengatakan: "Jika ada yang secara mendalam mengenal masyarakat Barat, yang memiliki masalah ideologis, ia mencari cara yang berbeda."

Saya menyadari bahwa dalam Islam, tidak seperti Kristen, seseorang dapat berbicara langsung kepada Tuhan. Saya menjadi seorang Muslim dan saya memilih nama Islam, Khalid. Ketika saya menjadi seorang Muslim, saya baru menyadari bahwa jalan yang benar untuk mendekati Tuhan adalah ini. Saya tidak menjadi seorang Muslim karena paksaan dari seseorang atau orang lain, tetapi menjadi Muslim adalah sebuah kebetulan dan karunia agung dari Allah swt kepada hamba-Nya.

Università Islamica d'Italia, Jembatan antara Islam dan Kristen

Kami bertanya kepada Paladini, mengingat fakta bahwa dalam beberapa tahun terakhir, dengan munculnya Sayap Kanan Ekstrem di Italia, Islamofhobia di negara ini semakin meningkat dan propaganda politis anti-Islam semakin intensif, bagaimana anda terfikir untuk mendirikan akademisme Islam? Dia menjawab: "Gagasan awal karya ini dibentuk pada 2010, tetapi itu tidak dilakukan untuk beberapa alasan sampai saya mulai berpikir pada 2014 untuk mendirikan univeristas ini di Lecce.

Lecce di Italia selatan, yang dikenal sebagai Florence South, dengan populasi sekitar 100.000 orang. Universitas Islam Italia mulai beroperasi pada bulan Oktober 2015.

Università Islamica d'Italia, Jembatan antara Islam dan Kristen

Penentangan Lokal terhadap Pendirian Universitas

Tentang sejumlah masalah yang dihadapi dalam pendirian universitas ini, ia mengatakan, selain masalah dengan mendapatkan lisensi universitas, kami menghadapi perselisihan dari orang-orang lokal. Ada serangan teroris di Paris dan Sydney pada masa itu. Di sisi lain, masuknya imigran Muslim dari Afrika dan Timur Tengah ke Italia telah menimbulkan kekhawatiran di antara orang-orang. Secara umum, ruang untuk pembukaan universitas Islam di Italia belumlah tersedia.

Università Islamica d'Italia, Jembatan antara Islam dan Kristen

“Kita harus mempertimbangkan dan menanggapi kekhawatiran orang-orang. Demikian juga, bantuan dari beberapa negara Muslim seperti Qatar dan Kuwait untuk meningkatkan biaya pembangunan universitas ini telah menimbulkan kekhawatiran tentang publikasi pandangan ekstremis. Tapi pandangan saya adalah bahwa dalam keadaan seperti itu, pembukaan akademisme Islam bisa menjadi cara terbaik untuk memublikasikan pemahaman yang lebih baik kepada masyarakat tentang Islam dan untuk melawan fanatisme dan prasangka terhadap agama ini. Saya pikir ini adalah hal yang tepat untuk menciptakan ruang diskursus dan saling pengertian. Menurut pendapat saya, universitas ini melawan kebencian religius dan seperti sebuah jembatan filosofi antara dua dunia Islam dan Kristen.,” ucap Pendiri Università Islamica d'Italia.

Kapasitas Penerimaan Mahasiswa Hingga 5 Ribu orang

Paladini mengatakan, universitas ini memiliki kapasitas penerimaan 5.000 orang, dan di samping mengajar mata pelajaran Islam seperti penafsiran Alquran, bahasa Arab, teologi dan fikih Islam, pada saat yang sama juga fakultas pertanian, kedokteran dan kedirgantaraan menerima mahasiswa di jenjang S2. Kami juga memiliki jurusan dalam Seni, Sains, Pertanian, dan kursus tinggi di bidang ekonomi Islam dan Internasional. Universitas kami bukan untuk mendidik cendekiawan Islam semata, tetapi pintunya terbuka untuk semua orang. Kami mematuhi hukum Italia, misalnya, siswa bebas mengenakan jilbab. Universitas ini tidak memiliki batasan pada pendaftaran, dan semua orang dari agama, politik, ras, atau jenis kelamin apa pun dapat mendaftar di sini.

Università Islamica d'Italia, Jembatan antara Islam dan Kristen

Dia menambahkan bahwa umat Islam harus aktif di dunia ilmiah global. “Kita tidak boleh tinggal di dalam diri kita sendiri dan tidak melihat ke luar lingkungan kita, dengan kata lain, kita tidak cukup hanya harus mempelajari ilmu pengetahuan negara kita, tetapi kita harus berfikir melampaui ini. Di pelbagai negara, orang-orang memiliki budaya dan tradisi yang berbeda, jika kita dapat melampaui lingkup pekerjaan kita dan menjalin hubungan lebih dekat dengan orang-orang di dunia, jalan membawa Islam mereka akan lebih mudah. Kita harus mendekatkan pembicaraan kita dengan yang lain. Ketika kita melakukan ini, Allah swt akan mendorong mereka menuju Islam,” imbuhnya.

 

http://iqna.ir/fa/news/3775791                         

 

Nama:
Email:
* Komentar Anda:
* captcha:
\