IQNA

23:06 - August 28, 2019
Berita ID: 3473397
KUBA (IQNA) - Beasiswa Kuba kepada ribuan siswa di wilayah Kashmir di bawah kendali Pakistan setelah gempa bumi yang dahsyat pada tahun 2005 membuat kita melihat tren Islam yang sedang berkembang dan pembacaan Alquran di negara komunis ini.

Menurut laporan IQNA, Kuba adalah negara kepulauan Aljazair di Karibia yang telah terlihat tren yang berkembang dengan agama Islam dalam beberapa tahun terakhir. Seperti umat Islam lainnya, mereka memperingati bulan Ramadan dan melaksanakan salat hariannya di satu-satunya masjid di Kuba. Minoritas 9.000 Muslim Kuba adalah populasi yang bersemangat yang mana nilai-nilai Islam dan tradisi Amerika Latin terintegrasi satu sama lain dengan baik.

Islam memasuki negara itu setelah migrasi pelajar Muslim Asia dan Afrika, dan lazim di masyarakat Kuba antara 1970 dan 1980. Situs berita Aljazeera, dalam sebuah laporan berjudul "Pembacaan Alquran di benteng Komunisme ... Kisah dan Statistik tentang Islam masyarakat Kuba" mengupas kehidupan Muslim Kuba dan peran Muslim Kashmir dalam meningkatkan komunitas Muslim di negara ini. 

Menurut laporan itu, Suleiman Mustafa mememluk Islam beberapa tahun setelah mencari kebenaran, melakukan salat lima waktu di rumahnya dengan cara sendirian, dan percaya bahwa ia adalah satu-satunya Muslim di ibukota, Havana. Kuba.

Tak lama setelah itu, ia melakukan salat Jum'at dengan ratusan Muslim di tengah kota Havana, dan pada saat itu ia yakin bahwa agama Islam tidak lagi aneh bahkan di negara yang disebut benteng Komunisme.

Sumber-sumber sejarah menunjukkan bahwa negara Kuba berkenalan dengan Islam sejak enam abad yang lalu dan pada 1593 menerima budak-budak Muslim Andalusia. Pada periode berikutnya, kekayaan gula di Kuba mengirim pedagang Muslim dari wilayah Timur Tengah ke negara ini, mereka menetap di Havana dan di sekitar kota Santiago de Cuba (kota terbesar kedua di negara itu), tetapi seiring waktu mereka mengenyampingkan agama mereka dan lambat laun tidak tersisa jejak Islam di Kuba.

Pada awal milenium ketiga (2000), jumlah Muslim di Havana, ibu kota Kuba, diperkirakan sekitar 500 orang, karena sebagian besar penduduk memeluk Kristen dan pembentukan pemerintahan yang berpikiran komunis yang tidak memprioritaskan agama. Orang-orang Muslim ini tidak berani mengungkapkan keyakinan mereka. Tetapi kondisi berubah secara tak terduga pada tahun 2005, gempa bumi besar menghancurkan wilayah Kashmir Pakistan, yang menewaskan 87.000 dan menyebabkan puluhan ribu terluka. Setelah bencana tersebut, pemerintah Havana memberikan 1.000 beasiswa kepada siswa Pakistan untuk belajar kedokteran, dan sejak saat itu kisah perkenalan orang Kuba dengan Islam dimulai.

Peran Kashmir dalam Menyebarkan Islam dan Kalam Wahyu Ilahi di Kuba

Jalan Menuju Tuhan

Menurut banyak laporan, mahasiswa jurusan kedokteran Pakistan telah memiliki pengaruh yang signifikan terhadap masyarakat Kuba dan telah mampu mengajak banyak orang di negara ini untuk memeluk Islam.

Hassan, seorang Muslim Kuba, mengatakan: “Saya lahir di Freuelan Reyes dan tumbuh dalam nilai-nilai sistem pemerintahan Kuba. Tidak ada pendidikan agama dalam pendidikan saya, dan saya bahkan tidak melangkah ke gereja.”

“Ketika mahasiswa Pakistan berimigrasi ke Kuba, kondisi kerja saya memberi saya kesempatan untuk mendekati mereka. Saya memperhatikan salat dan bacaan Alquran mereka dari dekat, dan tidak lama kemudian saya terpesona oleh perilaku baik mereka dan masuk ke dalam pembahasan dengan mereka tentang agama Islam,” imbuhnya.

Setelah tujuh bulan pembicaraan Hassan dengan mahasiswa Muslim Pakistan, ia menyadari bahwa Islam yang sebenarnya sangat berbeda dari apa yang dikatakan oleh masyarakat Kuba. Karenanya dia mengucapkan dua kalimat Syahadat dan memeluk Islam.

“Tuhan Yang Mahakuasa menunjukkan kepadaku jalan yang benar melalui perilaku baik para mahasiswa Pakistan, dan aku menyadari bahwa Islam adalah agama damai yang Tuhan telah berikan kesempatan kepadaku untuk memahaminya,” kata Hassan.

Sementara jumlah Muslim di Havana tidak lebih dari 500 pada awal milenium ketiga, sejumlah laporan 2018 menunjukkan bahwa sekarang ada sekitar 7.000 Muslim yang tinggal di kota ini dan mayoritas adalah orang Kuba. Liga Muslim Kuba juga telah mengumumkan bahwa ada 1.200 wanita.

Kendati demikian, komunitas Muslim Kuba masih sangat kecil, terhitung sekitar 0,07 persen dari 11 juta penduduk negara itu. Karena sekitar 65 persen dari populasi penduduk adalah Kristen, dan sekitar 13 persen mengikuti agama Santeria, yang berasal dari Afrika Barat. Minoritas penganut Buddha dan Yahudi juga ditemukan di sana. Sementara Havana menyaksikan masyarakat yang relatif terbuka di beberapa daerah, media massa memberi perhatian khusus pada meningkatnya jumlah Muslim Kuba, dengan jumlah Muslim meningkat empat belas kali lipat dalam waktu kurang dari 20 tahun.

Peran Kashmir dalam Menyebarkan Islam dan Kalam Wahyu Ilahi di Kuba

Hijab di Havana

Kantor berita Reuters baru-baru ini merilis sampel hijab wanita Muslim Kuba yang tampak di jalan-jalan Havana, dan mengumumkan bahwa jumlah wanita berjilbab tengah meningkat. Laporan tersebut berbicara tentang banyak masalah yang dihadapi umat Islam Kuba, termasuk kurangnya makanan halal dan keberadaan masjid yang hanya satu di Havana dan lebih lanjut  dikatakan, itu semua tidak mampu mencegah para wanita untuk menjadi Muslim karena para wanita Kuba menemukan hal yang hilang dalam agama Islam.

Salah satu alasan paling penting bagi perempuan Kuba untuk masuk Islam adalah inspirasi spiritual dan keingintahuan mereka tentang Islam, dan beberapa dari mereka masuk Islam setelah menikah dengan para pria Muslim.

Mariam Kamijo, seorang jurnalis Kuba, mengatakan ia menjadi seorang Muslim sejak tujuh tahun yang lalu dan melihat peningkatan masuknya perempuan, terutama putri-putri muda Kuba, ke agama Islam.

Kamijo sekarang terlibat dalam kegiatan-kegiatan Islam dan sosial dan mengajarkan bahasa Arab dan Alquran di satu-satunya masjid di Havana. Masjid Havana, secara resmi diresmikan pada tahun 2015, dibangun di sebuah tanah milik Museum Arab di daerah Havana lama, dan bekerja sama dengan pemerintah Kuba dan Arab Saudi. Namun, menurut beberapa laporan, Kantor Wakaf Turki sedang membangun sebuah masjid yang mirip dengan masjid-masjid Istanbul di Kuba.

Peran Kashmir dalam Menyebarkan Islam dan Kalam Wahyu Ilahi di Kuba

Abu Dujana dan Kisahnya Kemuslimannya

Ai Tamayo, seorang penyair dan penulis Kuba, juga memeluk Islam pada 2010. Sejak menjadi seorang Muslim, ia telah memiliki kehadiran yang signifikan dalam kancah kesusastraan dan telah menerima penghargaan dan hadiah untuk cerita dan buku-bukunya.

Ai Tamayo, yang mengambil nama Abu Dujana setelah menjadi seorang Muslim, sekarang menjadi kepala populasi  Kuba "Pengenal Islam". Dia berbicara kepada Havana Times tentang hambatan yang dibuat pemerintah Kuba terhadap penyebaran Islam di negara itu.

Dalam sebuah wawancara dengan penyair Kuba, berjudul "Wawancara dengan seorang Muslim Kuba," surat kabar tersebut membahas meningkatnya jumlah Muslim di pulau Komunis dan tantangan yang dihadapinya.

Abu Dujana mengatakan, “Alhamdulillah kami melihat saudara dan saudari kami di seantero Kuba dan island of Lagoventod, yang bepergian ke luar Kuba untuk belajar di negara-negara Islam, dan beberapa telah melakukan perjalanan ke tanah wahyu untuk menziarahi tempat-tempat suci. Semua ini dimulai setelah populasi Kuba mengenal Islam didirikan pada 2012.”

Terlepas dari kegembiraan banyak Muslim Kuba atas pembukaan Masjid Abdullah pada 2015, Abu Dujana mengatakan tidak ada tempat di Kuba untuk menamai masjid itu karena masjid adalah rumah Tuhan dan tugas situs keagamaan ini adalah pertama-tama “mencoba untuk menyebarkan Islam dan pelayanan kepada umat Islam”.

Dia menambahkan, masjid adalah tempat di mana tidak ada yang diizinkan untuk melecehkan dan menyerang agama Islam dan para pengikutnya. Demikian juga, musuh-musuh Islam tidak diizinkan untuk mengambil alih pembangunan masjid. Selain itu, masjid bukanlah tempat untuk memuji orang-orang, kebijakan dan ideologi rezim yang berkuasa.

Sastrawan Muslim Kuba ini percaya bahwa pemerintah Kuba sedang menjalankan metode "pos pemeriksaan", tetapi ini tampaknya hanya birokrasi dan prosedur hukum.

Di penghujung wawancara dengan Havana Times, Abu Dujana mengutip ucapan Jose Marty, cendekiawan Kuba yang mengatakan, “Masyarakat non religius terancam kehancuran karena tidak ada yang mensuport mereka untuk melakukan pekerjaan yang baik dan berbudi luhur yang adil, tetapi sebaliknya, masyarakat ini akan ditindas oleh umat manusia.”

Peran Kashmir dalam Menyebarkan Islam dan Kalam Wahyu Ilahi di Kuba

Sikap Para Mualaf Baru Kuba Lainnya

Untuk mengatasi kekurangan masjid di Kuba, beberapa pemuda Muslim Kuba telah mendedikasikan sebuah kamar di rumah mereka untuk pelaksanaan salat berjamaah umat Muslim. Sementara itu Pemerintah Kuba tidak mengalokasikan tempat khusus untuk salat jamaah Muslim dan mengizinkan umat Islam untuk melaksanakan salat Idul Fitri dan Idul Adha di alun-alun kota.

Selain kisah Suleiman, yang pernah meyakini dirinya sebagai satu-satunya Muslim di kota Havana, ada banyak kisah tentang komunitas Muslim di negara itu yang berjuang dengan banyak masalah. Tetapi masalah-masalah ini tidak hanya tidak menyebabkan mereka mundur, justru bahkan semakin meningkatkan kepercayaan diri mereka pada jalan yang benar yang telah mereka pilih.

Dalam sebuah percakapan dengan The Ground Truth Project, seorang wanita muda Muslim Kuba, Asker Oren, mengatakan bahwa atasannya memberi tahu bahwa dia tidak dapat melanjutkan mengajar selama masih mengenakan hijab dan akhirnya mengatakan kepadanya bahwa dia harus berhenti bekerja.

Saat Oren bertanya mengapa demikian, mereka menjawab bahwa "Anda seorang Muslim dan Anda menutupi rambut Anda ... jadi tidak mungkin bagi Anda untuk bekerja di Kuba!"

Kendati demikian, Oren yang telah mememeluk Islam dua tahun lalu, mengancam atasannya dengan tuntutan hukum terhadapnya. Jadi dia bisa kembali bekerja.

Yusuf Ali Firoi juga menceritakan bahwa ia menghadapi banyak kesulitan ketika bekerja di rumah. "Ketika saya menolak untuk makan daging babi, mereka bertanya kepada saya: 'Apakah kamu sakit?' Dan ketika saya memberi tahu mereka alasan penolakan saya adalah karena kemusliman saya, mereka dengan marah bertanya kepada saya: Bukankah Muslim itu keras dan teroris?

Kendati demikian, Ali dan Oren percaya bahwa banyak masyarakat Kuba menyambut Muslim. Sementara itu, Jorge Miguel García menunjukkan koeksistensi terbanyak dengan komunitas Muslim negara ini adalah komunis. Dia bermitra dengan pemilik sebuah kafe di Santiago de Cuba dan menyambut Muslim dan non-Muslim, tetapi tidak membawa minuman beralkohol kepada pelanggannya.

Garcia, yang dulu bekerja di bidang patologi forensik, mengubah namanya menjadi Khaled setelah menjadi seorang Muslim. Namun istrinya masih menganut Protestan dan agama Kristen.

 

http://iqna.ir/fa/news/3837685

Nama:
Email:
* Komentar Anda:
\