IQNA

8:10 - September 03, 2019
Berita ID: 3473410
INDONESIA (IQNA) - Di Indonesia, kisah kesyahidan Imam Husein (as), yang disebutkan dalam teks Melayu sebagai "Amir Husein", dikenal sejak penyebaran Islam di negara itu pada abad ke 13 – 15 M, dan pada abad-abad ini kisah tulisannya dimulai dalam bahasa Melayu.

Menurut laporan IQNA, syahadah tragis Imam Husein (as) dikenal di dunia Islam dengan tubuh bersimbah darah, tangan terputus, dan kepala terpisah, yang selalu dikenang oleh banyak umat Islam. Bertepatan dengan hari kesyahidan beliau pada hari kesepuluh Muharram di banyak negara, yang mayoritas adalah Sunni atau Syiah, ritual diadakan. Semua ini menunjukkan bahwa peristiwa Karbala memiliki makna khusus bagi umat Islam.

Di Indonesia, kisah kesyahidan Imam Husein (as), yang disebutkan dalam teks Melayu sebagai "Amir Husein", dikenal sejak penyebaran Islam di Indonesia pada abad ke-13 dan ke-15, dan pada abad ini mulai ditulis dalam bahasa Melayu.

Versi paling terkenal sebagai sumber penyalinan karya-karya lain setelah periode ini adalah dua versi "Hikayat Muhammad Ali Hanafiyah" dan "Hikayat Imam Husein", yang pertama ditulis pada abad ke 14 - 15 M berdasarkan sumber Persia dan yang kedua di tulis pada abad 17 di Aceh.

Menurut pengumuman atase kebudayaan Iran di Indonesia, kisah-kisah ini menjelaskan pentingnya acara 10 Muharram dan implementasinya. Tetapi dalam realitas eksternal ada dua bentuk implementasi yang berbeda. Bentuk pertama adalah ritual yang lebih sederhana dan lebih fleksibel, sebagaimana diadakan di Aceh, Jawa, Madura dan Sulawesi Selatan.

Hari Asan dan Usin

Di Aceh, hari kesepuluh Muharram dikenal sebagai hari "Hasan dan Husein", dan di Jawa dan Madura disebut "hari Syuro atau Asyura". Satu hari sebelum tanggal 10 Muharram, orang-orang berpuasa sunnah. Keesokan harinya mereka membuat bubur dan membagikannya ke tetangga atau saudara mereka. Pada malam harinya mereka mengadakan majelis di mana sebagian besar masyarakat mendengarkan kisah tragedi Karbala dan perang Muhammad Ali Hanafiyah melawan Yazid. Penyelenggaraan hari Syuro atau Hari Hasan dan Husein mengacu pada informasi yang tersedia dalam hikayat Muhammad Ali Hanafiyah.

Muharram dan Hikayat Kesyahidan Imam Husein as di Indonesia

Yang kedua adalah mengadakan upacara yang mirip dengan 10 upacara Muharram di Iran dan India. Bentuk ritual ini terlihat di kota Bangkulu dan barat Sumatra, yang dimulai pada akhir abad kedelapan belas (ketika Inggris mengambil alih kota Bangkulu dan membawa banyak Syiah dari India bersama mereka).

Perayaan di Bengkulu dan Padang dimeriahkan dengan arak-arakan tabut yang beraneka ragam bentuknya melambangkan kesyahidan Husein dan pernikahannya dengan Syahrbanu, putri khosrow Persia terakhir Yazdigerd II yang setelah tertawan pasukan kaum Muslimin pindah menganut agama Islam. Arak-arakan dimeriahkan dengan musik tambur yang bergemuruh. Ini menggambarkan suasana pasukan Husein dan Muhammad Ali Hanafiyah yang dengan gagah berani maju ke medan perang. Sepuluh hari sebelum perayaan dimulai, diadakan upacara ma` ambil tanah (mengambil tanah) dan pada ketika itulah tabut-tabut mulai dibuat (Brakel 1975).

Menurut beberapa sumber, tatacara penyelenggaran Asyura itu merujuk pada teks Hikayat Muhammad Ali Hanafiyah. Pembuatan bubur merah misalnya disarankan pada bagian awal hikayat tersebut, yaitu ketika malaikat Jibril menyerukan agar “Demi para syuhada yang syahid di Padang Karbala, pada sepuluh Muharam dibagikan makanan (bubur Asyura).” Adapun anjuran puasa sunah dapat dirujuk pada kata-kata Jibril yang menjawab pertanyaan arti pentingnya puasa sunah itu dilakukan. Jibril berkata, “Para pencinta rumah Rasulullah hendaknya berpuasa setahun sekali pada hari kesepuluh bulan Muharam”.

Arti Hari Asyura

Arti Hari Asyura juga disajikan dengan bentuk ini: "Hari Asyura berarti menangisi penghuni rumah Rasulullah dan mereka yang menangisi anak-anak dan cucu-cucu Nabi Allah yang memiliki hati ikhlas dan welas asih."

Muharram dan Hikayat Kesyahidan Imam Husein as di Indonesia

Semua ini menunjukkan bahwa kisah kesyahidan Imam Husein tidak hanya populer di Indonesia tetapi juga bagaimana kesyahidannya memiliki makna yang mendalam di hati umat Islam di nusantara.

Di antara maknanya yang penting adalah simpati dan solidaritas dengan Imam Husein (as) untuk pengorbanan dan perjuangannya melawan penguasa tirani, dan bahwa penguasa zaman itu, yang mana Muawiyah dan putranya Yazid adalah penguasa pada masa itu menjadi contoh reelnya, adalah bayang-bayang Setan di bumi.

Dari sini muncul satu pertanyaan, apa daya tarik yang ada sehingga hikayat ini yang pada awal kinerjanya muncul dalam bahasa Melayu, lalu mendapat sambutan dan diterima secara luas di kepulauan Indonesia dan selama lebih dari tiga abad dalam berbagai naskah dan bahasa-bahasa kepulauan ini seperti Aceh, Gayo, Minangkabau, Palembang, Jawa, Sunda, Madura, Sasak, Banjar, Bima, Bugis, Makassar, dll direvisi kembali?

Selain itu, munasabah atau relevansi apa yang ada di sana sehingga kisah kesyahidan Imam Husein (as) mendapatkan kedudukan khusus di tengah-tengah masyarakat Indonesia dibandingkan dengan epis-epis Islam lainnya seperti kisah Amir Hamzah dan kisah Alexander Zulqarnain?

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus melihat berbagai aspek historis dari teks ini (termasuk latar belakang dan motivasi penulisan sebagai kisah epik atau kisah perang) dan juga hikayat ini dari teks sejarah apa yang telah diadaptasi dari kesusastraan Melayu dan kesusastraan kepulauan Indonesia lainnya?

 

http://iqna.ir/fa/news/3838851

Nama:
Email:
* Komentar Anda:
\