IQNA

10:51 - February 04, 2020
Berita ID: 3473906
KOLOMBO (IQNA) - Bertepatan dengan dimulainya Dekade Fajar Revolusi Islam, diselenggarakan pertemuan "Langkah Kedua Revolusi Islam, Bangkitnya Peradaban Baru" dengan dihadiri oleh para pemimpin Buddha dan para pecinta Revolusi Islam di aula atase kebudayaan Iran di Kolombo, Sri Lanka.

Menurut laporan IQNA dilansir dari organisasi kebudayaan dan komunikasi Islam, pada pertemuan ini, atase kebudayaan Iran di Sri Lanka dengan memberikan penghormatan kepada jiwa pemimpin poros perlawanan Jenderal Qasem Soleimani menjelaskan, tahun ini kita sedang memperingati kemenangan Revolusi Islam ke-41, yang sejatinya, kita berada di awal fase kedua revolusi, sebuah fase yang dijelaskan dalam pernyataan strategis yang dikeluarkan oleh Pemimpin Tertinggi Revolusi (Rahbar) dan mengikuti pedoman ini akan menghantarkan pada  peradaban baru.

Lebih lanjut, Azor, salah satu pendukung generasi pertama Revolusi Islam di Sri Lanka dan Sekretaris Jenderal Majelis Permusyawaratan Muslim negara ini, dengan mengisyaratkan bahwa Revolusi Islam dipimpin oleh Imam Khomeini (ra) dan meraih kemenangan dan mampu dengan cepat mempengaruhi dunia serta menyampaikan pesannya, mengatakan; keefektifan yang luas dan cepat ini pertama-tama berhutang pada kepemimpinan Imam dan kemudian berhutang pada darah para syuhada revolusi ini sebelum dan sesudah kemenangannya. Iran telah mempersembahkan tokoh-tokoh penting seperti Syahid Beheshti untuk revolusi, seseorang dimana Imam Khomeini (as) berkata ia adalah satu umat.

Sekretaris Jenderal Majelis Permusyawaratan Muslim menambahkan, dalam langkah kedua Revolusi Islam juga, Ayatullah Ali Khamenei mengambil cara Imam Khomeini (ra) dan sandaran beliau pada kekuatan tanpa batas dari kaum muda. Semua kekuatan yang tertarik dengan revolusi di dunia harus menyadari isi pernyataan ini dan berupaya dalam rangka tersebut.

Pertemuan Langkah Kedua Revolusi dengan Dihadiri Pemimpin Buddha di Kolombo

Dia melanjutkan: Iran telah mempertanyakan supremasi AS dan Israel, meskipun sejumlah sanksi arogan mereka terus berlanjut dan telah mencapai prestasi gemilang industri, ilmiah dan pertahanan.

Taha Mazamil, seorang aktivis media dan pendukung Revolusi Islam, juga dengan menjelaskan bahwa Revolusi Islam berhasil membangun peradaban baru dan sebuah opini baru di dunia di berbagai dimensi dari masa kepemimpinan Imam Khomeini (ra) dan setelah kemenangan kepemimpinan Ayatullah Khamenei dan menyaksikan dampak dan pesan yang dibawa revolusi ini ke dunia, menambahkan Revolusi Islam dengan cepat berfokus pada masalah persatuan Islam dalam batasan dunia Islam dan Muslim untuk membangun konsensus yang kuat di dalam dirinya. dan sejauh mungkin, dapat mengurangi konsekuensi-konsekuensi negatif yang dapat membuat perpecahan dalam diri umat Islam.

Taha Muzamil mengangkat isu melindungi orang-orang tertindas di dunia dalam kebijakan luar negeri Iran, khususnya dukungan untuk Palestina, dan menilai pembunuhan Jenderal Qasem Soleimani sebagai puncak kemarahan arogan terhadap kebijakan tersebut, dan di penghujung menyatakan harapan bahwa Muslim dan penuntut kebebasan di seluruh dunia, dengan menggunakan  kepemimpinan tunggal dapat membawa manusia modern ke jalan pencarian kebenaran dan kesempurnaan.

Lebih lanjut Baddegama Samitha, seorang ulama Buddha terkemuka dan mantan anggota parlemen Sri Lanka, mengatakan: “Setelah terjadinya Revolusi Islam, ada perubahan besar di dunia, tetapi sementara itu, Amerika Serikat melanjutkan sifat arogan dan kejamnya, dimana contoh terakhirnya adalah pembunuhan komandan besar Iran Qasem Soleimani, ketika ia melakukan kunjungan resmi ke Irak dan menjadi tamu mereka dan bekerja untuk menciptakan perdamaian dan mencegah penyebaran ekstremisme di dunia.”

Pertemuan Langkah Kedua Revolusi dengan Dihadiri Pemimpin Buddha di Kolombo

https://iqna.ir/fa/news/3876002

Nama:
Email:
* Komentar Anda:
\