IQNA

Wawancara IQNA dengan Imam Jamaah Masjid Delhi:
9:58 - March 06, 2020
Berita ID: 3474001
TEHERAN (IQNA) - Imam jamaah masjid Al-Mustafa di Delhi dengan menjelaskan bahwa umat Islam dan Hindu di India sebelumnya selalu bersama dan berinteraksi satu sama lain, mengatakan: Hari ini tidak ada konflik antara Muslim dan Hindu di India, tetapi sebuah kelompok yang berusaha menciptakan ruang yang tegang untuk kepentingan pemerintah.

Imam Masjid Al-Mustafa di Delhi, Hujjatul Islam Sayed Afrooz Mujtaba Naqvi dalam sebuah wawancara dengan IQNA terkait situasi Muslim India dan kekerasan terhadap mereka menyatakan: “Umat Muslim berada dalam kondisi baik sampai beberapa minggu terakhir dan tidak memiliki masalah dengan berbagai etnis dan bangsa yang tinggal di India. Tetapi dengan berkuasanya pemerintahan saat ini, beberapa kelompok yang didukung pemerintah dan ekstrimis telah mengubah medan menjadi kekerasan.”

Dia menambahkan, tindakan ini karena pemisahan orang Hindu dan Muslim untuk pemilihan mendatang di India sehingga mereka dapat memenangkan pemerintahan saat ini dengan suara terbanyak. Kekhawatiran telah dikemukakan baru-baru ini oleh pemerintah mantan Perdana Menteri Narendra Modi karena rakyat India tidak menerima logika mereka dan ada kemungkinan tidak akan berhasil dalam pemilihan berikutnya.

Naqvi melanjutkan: “Atas dasar ini, sebuah ruang diciptakan untuk memperluas fanatisme antara umat Muslim dan Hindu, yang tentunya mereka tidak berhasil. Dalam hal ini, pemerintah menghimpun beberapa gerombolan pribumi di India, dan dalam kelompok 400 dan 500 orang serta mengirim mereka ke berbagai bagian India dan menyerang dengan mengidentifikasi sebuah rumah Muslim.”

Dia juga mengatakan bahwa para gerombolan ini juga menanyakan nama-nama mereka yang ada di jalan-jalan dan jika mereka Muslim, mereka dibunuh atau dipukuli. Poin yang perlu diperhatikan di sini adalah bahwa di beberapa daerah polisi menyertai para gerombolan ini dan kadang-kadang terdengar laporan tentang bantuan secara diam-diam regu polisi ke gerombolan-gerombolan ini.

Naqvi menyebut situasi itu sebagai sesuatu yang mengkhawatirkan dan mengatakan: “Pendekatan anti-Muslim ini tidak hanya ditemukan di jalan-jalan, tetapi juga oleh hakim yang adil dan jujur diberhentikan atau dikirim ke distrik lain oleh pemerintah jika mereka memilih mendukung orang-orang yang tertindas dan melawan gerombolan-gerombolan agresif dan ekstremis.”

Keterlibatan Media dengan Pemerintah

Dia mengungkapkan: "Media juga terlibat dengan pemerintah dan tidak menunjukkan orang-orang yang tertindas dimana tindakan ini dilakukan atas perintah pemerintah. Sementara itu, jika umat Islam melakukan sesuatu untuk membela diri dan melawan para penyerang, mereka akan menghadapi pembesaran sejumlah media."

Naqvi berkata: Ada banyak kasus sebelumnya bahwa umat Islam telah membantu umat Hindu, dan di sisi lain, umat Hindu juga melindungi umat Islam. Di sini harus dikatakan bahwa tidak ada konflik antara Muslim dan Hindu, tetapi sebuah kelompok yang berusaha menciptakan ruang yang tegang untuk kepentingan pemerintah.

Dia menyebut sebab munculnya kiris adalah karena pemerintah tidak mendapatkan suara di beberapa propinsi, dan menambahkan bahwa Uttar Pradesh adalah salah satu dari propinsi tersebut. Jika pemerintah tidak mendapatkan suara, maka tidak dapat melanjutkan aktivitas di babak berikutnya, dan ini telah membuat takut para negarawan India, karenanya mereka melakukan hal-hal yang tidak manusiawi.

Imam jamaah masjid al-Mustafa (saw) melanjutkan, penyebab lain dari krisis di India adalah lawatan Presiden AS, Donald Trump ke negara itu, yang secara eksplisit menyatakan bahwa umat Islam adalah pembuat onar. Mengingat langkah-langkah semacam itu sudah ada, para pendukung pro-pemerintah sangat ingin membuat tuan mereka bahagia dan mencapai tujuan mereka.

Dia juga mengutarakan kegagalan pemerintah India dalam mencegah pembunuhan dan penganiayaan umat Islam adalah ketakutan terhadap pemilu 2024, dan menambahkan bahwa pemerintah berusaha untuk membawa umat Hindu ke satu sisi dan umat Islam tetap menjadi minoritas sehingga mereka dapat memerintah dengan mudah. Di belakang layar, ada juga kebijakan India berubah menjadi negara Hindu, dan ini terlihat sebelumnya dalam ucapan pejabat pemerintah yang menekankan bahwa umat Islam telah membentuk beberapa negara Islam dan kami juga menginginkan negara Hindu.

Merubah Nama Kota-kota Islam

Hujjatul Islam Sayed Afroz Mujtaba Naqvi juga mencatat: Pemerintah bahkan mengubah nama kota, jalan, dan universitas yang Islami. Dalam undang-undang kewarganegaraan yang dipaparkan, pemerintah berupaya untuk menghalangi orang Muslim yang tinggal di India dari hak pilih mereka sehingga mereka tidak berperan dalam membentuk pemerintahan.

Mengenai tanggapan Iran terhadap kekerasan terhadap Muslim di India, ia mengatakan: “Iran dan lembaga-lembaga Iran, termasuk Jamiah al-Mustafa al-Alamiyah dan jamiah Mudarrisin Hauzah Ilmiah Qom, secara tegas memprotes dan mengutuk tindakan saat ini dan meminta pemerintah India untuk memulihkan kembali keamanan sebelumnya antara umat Muslim dan Hindu.”

Hujjatul Islam Naqvi di penghujung dengan menjelaskan pengeluaran pernyataan protes oleh Turki dan mengecam kejahatan-kejahatna yang dilakukan di India terhadap umat Muslim, mengatakan: "Sebagian besar negara yang didominasi oleh Israel dan Amerika Serikat dan tentara bayaran mereka menghindari mengutuk tindakan-tindakan ini di India. Pada prinsipnya, tuan mereka tidak akan membiarkan mereka melakukan hal tersebut. Israel mendukung langkah-langkah tersebut untuk memberantas Islam dan seharusnya tidak mengharapkan negara-negara dominannya untuk membantu Muslim." (hry)

 

3883332

Nama:
Email:
* Komentar Anda:
\