IQNA

7:29 - August 06, 2020
Berita ID: 3474472
TEHERAN (IQNA) - Bertepatan dengan musim Haji, Konsuler Kebudayaan Iran di Sri Lanka menerbitkan sebuah artikel berjudul "Haji daalam Perspektif Imam Khomeini" di surat kabar Thinakaran.

IQNA melaporkan, dalam artikel ini, disebutkan bahwa Imam Khomeini (ra) sejak awal aktivitas intelektual, sosial dan politik, telah menekankan perlunya menjelaskan Islam yang benar dan menyingkirkan ketidaktahuan, berpikir tertutup dan menghindari takhyul. Bahkan setelah kemenangan Revolusi Islam dan pendirian Republik Islam, beliau terus mencari kebangkitan pemikiran Islam, itupun dalam skala global, dan tidak pernah menyerah sampai hari-hari terakhir hidupnya.

Di antara upaya-upaya ini adalah upaya Imam untuk menghidupkan kembali kategori haji sebagai salah satu manifestasi perjuangan suci melawan iblis dalam dan luar, atau dengan kata lain, untuk menjelaskan dimensi sosial dan politik haji. Dalam mengkaji beberapa pernyataan dan pesan Imam Khomeini tentang haji, kami menemukan bahwa Imam Khomeini selalu mempertimbangkan tiga masalah utama.

Tiga masalah ini adalah: memberikan penjelasan dan interpretasi filosofi haji dengan berdasarkan ayat-ayat Ilahi dan mengkaji sejarah serta mengambil sikap terhadap mereka yang menjauhkan haji dari filosofi aslinya. Yang lain adalah menjelaskan kebenaran-kebenaran tersembunyi dalam melakukan sebuah haji yang nyata, sebuah ritual yang harus mencakup semua aspek kehidupan individu dan sosial serta menjaga Jemaah haji dari iblis dan nafsu.

Poin terakhir adalah bahwa haji harus dianggap sebagai esensi utama dari ajaran-ajaran Alquran. Amalan dan ritual-ritual yang seharusnya menghadirkan pertunjukan luar biasa yang dapat mereflelksikan energi dan kemampuan-kemampuan material dan spiritual umat Islam, esensi dan pesan utama dari ajaran-ajaran Alquran dapat bermanfaat bagi semua.

Artikel tersebut menyatakan bahwa setiap tahun jutaan Muslim pergi ke Mekah dan mengenal peninggalan-peninggalan yang berkaitan dengan zaman Nabi Muhammad (saw), Nabi Ibrahim (as), Nabi Ismail (as) dan ibunya, Sayidah Hajar, tetapi tidak ada yang merenung tentang siapa karakter-karekater ini, apa yang mereka lakukan, dan apa tujuan mereka.

Imam Khomeini (ra) percaya bahwa haji yang mati, haji yang tidak bergerak, haji yang tidak mengungkapkan persatuan umat Islam, tidak akan pernah menjadi haji yang sejati. Karenanya beliau selalu menyatakan kesedihan mendalamnya atas lenyapnya filosofi sosial dan politik Haji sebagai tindakan ibadah terpenting dan pertemuan agung umat Islam. (hry)

 

3914809

Nama:
Email:
* Komentar Anda:
* captcha:
\