IQNA

Mantan Diplomat Amerika:
11:16 - August 09, 2020
Berita ID: 3474482
TEHERAN (IQNA) - Mantan utusan AS untuk Timur Tengah, saat mengumumkan penentangannya terhadap rencana aneksasi Tepi Barat, menekankan: “Rencana perdamaian Trump, yang dikenal sebagai kesepakatan abad, bukanlah rencana yang adil untuk Palestina.”

Situs Palestina melaporkan, Martin Indyk saat wawancara dengan program televisi dari AS mengatakan, tindakan sepihak terkait rencana aneksasi Tepi Barat berada di luar kerangka Kesepakatan Oslo, yang menekankan kepentingannya baik di pihak Palestina maupun Israel untuk tidak berbegas mengambil tindakan seperti itu.

“Rencana aneksasi Tepi Barat bertentangan dengan pembicaraan kompromi, dan pernyataan kesiapan pemerintahan Trump untuk menyetujui atau mendukung rencana tersebut adalah alasan lain dari kegagalan kesepakatan abad, karena Palestina tidak akan menyetujui tindakan sepihak seperti itu,” kata Indyk.

Dia menambahkan bahwa alasan mengapa Netanyahu tidak menerapkan rencana untuk mencaplok Tepi Barat saat ini adalah karena Jared Kkushner, menantu dan penasihat Trump, yang mengatakan bahwa penerapan rencana ini akan menyebabkan warga Palestina lainnya tidak kembali ke meja perundingan dan disamping itu Negara-negara Arab akan menentang rencana ini, dan kejadian terburuk yang mungkin terjadi adalah implementasi rencana aneksasi sepihak, karena itu akan menghilangkan peluang untuk mewujudkan solusi pembentukan dua negara.

“Kami sangat dekat dengan tahap konflik yang sedang berlangsung selama beberapa dekade mendatang dan jauh dari solusi pembentukan dua negara adalah tragedi besar bagi Palestina, yang telah sangat menderita sejauh ini” kata Martin Indyk.

Dia memperkirakan: Menjelang pemilihan presiden AS pada November mendatang, ada kemungkinan bahwa Kushner ingin menghembuskan kehidupan baru ke dalam rencana aneksasi Tepi Barat pada September dan Oktober mendatang sehingga dia bisa mendapatkan suara lebih banyak evangelis Amerika, yaitu sekitar 60% pendukung Trump.

Indyk menekankan, Demokrat sangat menentang rencana aneksasi Tepi Barat, dan jika mereka bisa memenangkan pemilihan dan memenangkan mayoritas di DPR dan Senat, tidak akan ada peluang bagi Amerika Serikat untuk menyetujui rencana ini. Kesepakatan abad ini adalah rencana yang tidak adil bagi Palestina, karena semua masalah akhir, termasuk masalah perbatasan, keamanan, Yerusalem, pengungsi, dan pengakuan timbal balik antara pihak Israel dan Palestina, harus diselesaikan untuk kemaslahatan rezim Zionis.

Dia menambahkan: Pemerintahan AS saat ini sepenuhnya sejalan dengan sikap dan tuntutan rezim Zionis dan sangat tidak masuk akal untuk mengharapkan Palestina setuju untuk bernegosiasi atas dasar ini. Pemerintah AS telah membentuk sebuah komite untuk menggambarkan perbatasan-perbatasan Palestina, yang dikenal sebagai Komite Sykes-Picot, yang semuanya beranggotakan Amerika dan Israel. Anehnya, perbatasan Palestina digambar tanpa kehadiran seorang pun warga Palestina.

Indyk mengatakan: “Otoritas internasional utama di mana konflik Arab-Israel akan diselesaikan adalah Resolusi Dewan Keamanan 242 dan 338. Pemilihan waktu pembukaan kesepakatan abad murni politis, dan fakta bahwa kesepakatan itu diumumkan pada malam pemilihan Israel semata-mata ditujukan untuk membantu Netanyahu menang lagi. Sekarang, tujuan lain dari kesepakatan abad ini adalah membantu Trump memenangkan pemilu lagi.”

Mengenai Quds, dia berkata: “Quds adalah salah satu masalah paling sensitif dan penting bagi siapa pun yang mencari perdamaian, karena situasi kota ini sangat penting bagi tiga agama Islam, Yudaisme dan Kristen. Mungkin jika calon dari Partai Demokrat, Joe Biden memenangkan pemilihan presiden AS, kebijakan AS terhadap konflik Israel-Palestina akan berubah.”

Indyk mengatakan, dia tidak mendukung Biden, tapi dia menentang rencana aneksasi Tepi Barat, dan jika Trump menyetujui rencana itu sebelum pemilihan dan mengakuinya, dan kemudian Biden memenangkan pemilihan, dia pasti akan mempertimbangkan kembali. Tetapi jika Trump menang lagi dan mendukung aneksasi Tepi Barat, maka solusi pembentukan dua negara akan menjadi masalah besar. (hry)

 

3915362

Nama:
Email:
* Komentar Anda:
* captcha:
\