IQNA

9:13 - October 19, 2020
Berita ID: 3474699
TEHERAN (IQNA) - Bunuh diri sedang meningkat di Filipina setelah merebaknya Covid-19, dan akhir-akhir ini pemerintah meminta para pemimpin agama untuk meningkatkan harapan masyarakat.

IQNA melaporkan, masyarakat Filipina lebih dikenal sebagai orang yang hidup santai dan memiliki daya tahan dan kesabaran yang baik dalam menghadapi masalah. Di sisi lain, banyaknya program bahagia yang diadakan dalam bentuk berbagai festival di jalan-jalan, beserta ketaatan beragama mereka, menjadi salah satu faktor yang membuat bangsa ini lebih baik dari negara Asia lainnya dalam hal angka bunuh diri, dalam kondisi yang relatif dapat diterima; Namun kini tren bunuh diri yang meningkat, terutama pada masa Corona, telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan pemerintah dan pejabat masyarakat sipil, termasuk para pejabat agama.

Menurut konselor kebudayaan Iran di Manila, Menteri Kehakiman Filipina, Menardo Guevarra telah mengeluarkan peringatan dan mengatakan jumlah kasus bunuh diri di negara itu masih terus meningkat. Dia meminta para pemimpin agama di Filipina untuk mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan ruh dan spiritual masyarakat.

“Dengan penuh rasa hormat, saya meminta para pemimpin agama untuk memperhatikan orang-orang yang putus asa di negara ini dan mencoba untuk menyingkirkan ide bunuh diri dari pikiran orang-orang yang menderita ini. Saya berbicara dengan Dr. Carlito Galves, kepala Kelompok Pengendalian Penyakit Covid-19 di Filipina, dan menekankan bahwa meskipun statistik yang akurat belum tersedia, terdapat bukti jumlah kasus bunuh diri yang tinggi di antara orang yang menderita penyakit Covid-19,” ucapnya.

Menurut sumber terpercaya, peningkatan signifikan jumlah pengangguran dan kesulitan hidup serta pembatasan akibat corona menjadi salah satu faktor yang meningkatkan depresi psikologis para korban.

Pengangguran jutaan orang Filipina di rumah dan di antara pekerja di luar negeri telah melipatgandakan gelombang penyakit mental di antara mereka yang terkena dampak. Di sisi lain, kematian orang-orang terkasih karena penyakit Covid-19 telah membuat sendirian orang yang ditinggalkan dan ketidakmungkinan mengadakan acara takhtim bagi yang meninggal, serta ketakutan dan kekhawatiran masyarakat tentang kemungkinan tidak kembalinya kondisi sebelumnya, semakin menimbulkan dan menambahkan tekanan psikologis mereka.

Dengan kata lain, frustrasi dengan masa depan dan rasa ketidakmampuan untuk mengatur kehidupan lebih penting daripada masalah ekonomi, dan pemerintah Filipina berusaha menggunakan semua kemampuannya untuk mengatasi penyakit mental ini serta memperkuat harapan untuk masa depan yang lebih baik.

Sebagai tanggapan, Gereja Katolik telah meningkatkan upayanya untuk mengurangi depresi dan bunuh diri di negara itu. “Bunuh diri telah meningkat selama masa pandemi Covid-19, dan Uskup Albay tidak terkecuali, terutama di antara mereka yang cacat intelektual, dan peningkatan bunuh diri yang tiba-tiba telah membawa kita pada hal ini. Kami harus memikirkan solusinya,” kata Uskup Joel Bylon dari Legazpi.

Dia menambahkan: Di salah satu kota di provinsi itu, 9 kasus bunuh diri terlihat hanya dalam satu bulan, dan meskipun gereja telah membuka Central untuk memberikan nasihat tentang urusan keluarga dan kehidupan, bahkan sebelum wabah penyakit Covid-19, namun sekarang konselor psikologis juga digunakan seiring penigkatan jumlah bunuh diri.

Uskup Baylon menyatakan: Kerja sama yang erat telah dimulai dengan media massa di provinsi Albay untuk membimbing masyarakat dan mengurangi kecemasan mereka, dan pusat kesehatan mental dan kesehatan pemerintah telah dimintai bantuan. Orang-orang yang diinformasikan dan sukarela juga membantu gereja dalam hal ini. (hry)

 

3929857

Kunci-kunci: Covid-19 ، Peningkatan ، Bunuh Diri ، Filipina
Nama:
Email:
* Komentar Anda:
* captcha:
\